Jumat, 04 Mei 2018

DALAM 7 HARI YANG TELAH BERLALU



HARI KE-1, tahajudku tetinggal. Dan aku begitu sibuk akan duniaku. Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil. Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib. Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara tv selesai.

HARI KE-2, tahajudku tertinggal lagi. Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama.

HARI KE-3, aku lalai lagi akan tahujudku. Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya Tapi... enggan sekali aku membaca Al-qur'an walau cuma 1 juzz Al-qur'an yg 114 surat, hanya 1,2 surat yang kuhapal itupun dengan terbata-bata Tapi... ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan lancarnya aku menceritakan

HARI KE-4, kembali aku lalai lagi akan tahajudku Sorenya aku datang ke Selatan Jakarta dengan niat mengaji Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan Kubiarkan ustadzku yang sedang  mengajarkan lebih luas tentang agamaku Aku  lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yg ada disamping  kiri & kananku Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa

HARI KE-5 kembali aku lupa akan tahajudku Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam sholat jum'at kelamaan bacaannya  Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan  betapa nikmat, serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam

HARI KE-6 aku semakin lupa akan tahajudku Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh

HARI KE-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktu Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya & ¾ malam tadi dia dengan misscallnya mengingat aku ttg tahajud kematian kenapa aku baru gemetar mendengarnya? Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan Dia bisa hinggap kapanpun dia mau ¼ abad lebih aku lalai....
Dari hari ke hari, bulan dan tahun Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta. Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku. Padahal keringat & air matanya telah terlanjur menetes demi aku

Tuhan andai ini merupakan satu titik hidayah, walaupun imanku belum seujung kuku hitam. Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas. Saat aku melipat sajadahku.....

Amin....



Tulisan ini dikutip dari sumber yang tidak dikenal


Info Pendaftaran dan Bimbingan Khusus Paytren
WA : 082324817682
KLIK : http://www.trensyariah.com/agung79

SALAM SUKSES BERJAMAAH

Rabu, 02 Mei 2018

AIR MATA IBU



Ibu menangis. Air mata mengucur di pipinya yang cekung. Ketika itu aku baru selesai berdzikir setelah mengimaminya. Tasbih ditangannya terus berputar, bersama dzikir yang terus terlantun dari bibirnya. Ibu khusyuk dalam isak dan deraian air mata. 

"Kenapa Ibu menangis?" pertanyaan itu terpaksa kusimpan. Aku tidak akan mengganggu Ibu yang masih khusyuk dengan dzikir. Aku memikirkan berbagai kemungkinan penyebab menangisnya Ibu. Mungkinkah kematian Bapak? Tapi,  bukankah kematian Bapak sudah lama sekali? Sudah lima tahun. Atau karena tanah kuburan Bapak yang tidak mendapat izin untuk dibeton dan hanya boleh didirikan batu nisan. Hal itu tidak akan membuat Ibu menangis. Aku sangat  mengenal Ibu. Ibu paling tidak menyukai hal-hal yang berbau kemewahan. Ibu  selalu ingin menginginkan kesederhanaan.

Kenapa Ibu menangis? Sayang aku sangat jarang pulang dan tidak bertemu Ibu setiap hari. Hingga aku kurang mengetahui keadaan Ibu belakangan ini. Mungkin ada suatu persoalan yang membebaninya....

Bertengkar dengan seseorang? Ah rasanya tidak. Setahuku Ibu tidak punya musuh. Ia selalu mengalah setiap kali berbenturan dengan orang lain. Ibu lebih banyak diam daripada mengomel. Tidak mungkin rasanya Ibu bertengkar dengan orang lain, karena memang itu bukan kebiasaan Ibu.  Tapi kenapa Ibu menangis? Ibu belum juga selesai berdzikir. Aku sudah selesai sejak lima menit lalu. Aku sudah berdoa, mohonkan ampun atas dosa Ibu dan Bapak yang telah mengasuhku sejak kecil. Ibu belum juga usai. Aku berdiri dan meninggalkan Ibu sendirian di ruang shalat dengan tetap menyimpan pertanyaan, kenapa Ibu menangis? Kutunggu Ibu di ruang makan.  Bukankah Ibu selalu khusyuk dalam shalat? Kembali aku dibayang berbagai kemungkinan. Bukankah Ibu tidak pernah lupa mendirikan shalat, mengaji dan  berdzikir? Bukankah Ibu paling senang mendengarkan ceramah di masjid?  Bukankah Ibu juga tidak melewatkan acara wirid? Bukankah Ibu sudah cukup punya bekal untuk menghadapi segala cobaan...
 
Tapi kenapa Ibu sampai menangis?  Karena aku mengimami Ibukah? Mustahil! Bukan sekali ini saja aku mengimami Ibu. Sudah berulang kali.  Hampir setiap kali pulang ke rumah aku mengimami Ibu, terutama saat  shalat maghrib dan isya. Ibu sudah berumur tujuhpuluh tahun lebih. Tujuh orang anak merupakan  berkah yang selalu disyukurinya dan kami semua kini sudah besar. Aku yang  bungsu sudah duduk di perguruan tinggi. Aneh rasanya kalau Ibu masih bersedih hati diusianya yang senja ini. Seharusnya Ibu banyak tertawa dan  bercanda bersama cucu-cucunya. Bukankah cucu-cucunya selalalu bersamanya  setiap hari?  "Sudah makan Yung?" tanya Ibu mengagetkanku. Ibu muncul dengan senyum  mengembang. Tak kulihat bekas tangisan di wajahnya. Mungkin sudah dihapus.

"Belum Bu, Ayung menunggu Ibu."

"Ibu sudah makan."

"Kapan? Bukankah hidangan ini belum disentuh siapapun? Ayolah Bu, Ayung  sudah rindu ingin makan bersama Ibu."

"Makanlah!" kata Ibu sambil menarik kursi.

Aku pun mulai menyanduk nasi  dan mengambil beberapa sendok sambal. Tapi Ibu tetap saja tidak makan  nasi. Ia hanya mengambil panganan dan memakannya.

"Bagaimana kuliahmu?"

"Alhamdulillah Bu, berkat doa Ibu."

"Belanja harianmu bagaimana?" pertanyaan yang tidak pernah kuinginkan ini selalu meluncur dari bibir Ibu. Pertanyaan itu kurasakan bagai keluhan  dalam hidup. Kuakui selama kuliah aku harus berusaha dan bekerja keras  untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Uang kost, transport dan kebutuhan  kuliah. Memang, yang namanya usaha kadang-kadang dapat, kadang tidak.  Ketika dapat alhamdulillah. Aku bisa makan dan membeli kebutuhan lain.  Jika tidak, maka mau tidak mau aku aku harus puasa. Hal ini yang sering  aku alami. Tapi persoalan ini tidak pernah kuceritakan kepada siapapun,  termasuk Ibu dan saudara-saudaraku. Aku takut terlalu banyak mengeluh.

"Alhamdulillah, Tuhan masih memberikan rejeki Bu," selalu kujawab begitu.  Biasanya Ibu tidak akan bertanya lagi setelah itu.

"Bu!" sapaku ketika Ibu terdiam.

"Mmm," jawab Ibu.

"Kenapa seusai shalat tadi Ibu menangis?"

Ibu terdiam mendengar pertanyaanku.

"Ayung cemas melihat Ibu menangis. Ibu masih diam. Aku menyelesaikan suapanku, setelah itu membasu tangan dan melapnya dengan serbet. Ibu masih diam, tapi di matanya kulihat airmata mulai berlinang. Setelah itu berceritalah Ibu. Seminggu yang lalu di surau Balenggek tempat Ibu selalu sembahyang berjama'ah, ada ceramah agama mingguan. Ketika itu penceramahnya dating dari luar daerah. Ibu mengikuti ceramah tentang anak yang berbakti kepada orang tua dan anak yang shalih..

"Anak-anak yang shalihlah yang menyelamatkan orang tuanya dari api neraka, karena doa anak yang shalih sangat didengar oleh Allah swt," kata ustad. "

Tapi sebaliknya orang tua tidak selamat dari api neraka jika anak yang dididiknya tidak mampu menjalankan ibadah dan tidak pandai membaca Alquran.

"Walaupun orang tuanya sendiri taat beribadah?" tanya Ibu waktu itu.

"Ya, apa artinya kita taat tapi tidak membuat anak taat kepada Tuhannya. Apalagi sampai tidak bisa sembahyang dan mengaji, anak yang jauh dari perintah Allah dan mendekati laranganNya. Maka orang tuanya di akhirat akan ditanya tentang anak-anaknya. Maka sia-sialah ketaatan orang tua jika di akhirat nanti anak mengakui dirinya tidak dididik oleh orang tuanya untuk taat beribadah. Tidak pernah menegur, memukul bahkan menamparnya, jika lalai menjalankan perintah agama."

Ketika itu Ibu menyadari apa yang sudah dilakukannya selama ini. Ibu ingat Jai, Jou, Han dan Fai. Saat itulah Ibu merasa hidup dan ketaatannya selama ini tak berarti sama sekali. Sejak itu Ibu banyak diam dan melamun. Anak-anaknya sampai sekarang tidak pernah membaca Alquran di rumah dan jarang sembahyang, bahkan tidak pernah sama sekali. Ibu merasa bersalah setelah mendengar ceramah itu. Ibu menyadari bahwa ia tidak mendidik anak-anaknya sesuai ajaran agama. Ibu selalu tidak tega memarahi anaknya, dan melihat anaknya menangis, apalagi kalau ada yang murung dan kesal.

Mungkin itulah sebabnya anak-anak Ibu banyak yang tidak dapat embaca lquran Ibu tidak pernah tega memaksa mereka untuk belajar bupun idak arah. Bukankah ini berarti Ibu tidak sanggup mendidik anak. ukankah Ibu agal menjadi orang tua? Tapi Bu, bukankah Ayung selalu taat sembahyang dan membaca lquran? Dan yung selalu berdoa untuk Ibu dan Bapak? Lantas apa artinya saha yung elama ini Bu?" kataku kepada Ibu. Terima kasih Yung, Ibu sangat bangga padamu. Ibu senang kamu ampu enjadi imam untuk Ibu. Ibu pun selalu berdoa untukmu. Yang bu kirkan dalah kakak-kakakmu yang tidak mampu membaca Alquran dan idak enjalankan shalat." uakui selama ini memang hanya aku dan ibu yang shalat erjama'ah, alaupun sebenarnya kakak-kakakmu sedang berada di ruamh. Ereka ebih uka duduk di lapau dan sepertinya tidak menghiraukan anggilan zan yang erkumandang dari masjid. Dan Ibu tidak pernah menegur hal  itu.

Aku pun idak pernah mempersoalkan mereka. Sementara aku merasa takut, elain arena lebih kecil juga karena aku takut menca puri urusan mereka. Itulah Yung. Ibu merasa sedih. Kamulah satu-satunya anak Ibu yang , ang mengimami Ibu, walaupun kamu yang terkecil. Entahlah.. Ibu udah emakin tua, ajal sudah di ambang pintu. Ternyata Ibu masih meninggalkan banyak pekerjaan yang tidak selesai, ternyata Ibu tidak mampu mendidik alian dan kalian ternyata tidak bisa mendidik diri sendiri," kata Ibu terisak. Air mataku mengalir tanpa terasa.

"Ada apa? Kok Ibu menangis? Ini pasti ulah kamu Yung! Kamu tidak henti-hentinya membuat Ibu sedih, dan menangis. Tahukah kamu bahwa membuat orang tua bersedih hatinya itu dosa?"

Tiba-tiba Han kakakku yang nomor tiga datang dan memarahiku.

"Sebagai anak laki-laki kamu jangan terus-terusan bersama Ibu, itu cengeng namanya. Lihat tuh di lepau orang-orang ramai. Duduklah di sana biar orang tahu bahwa kita bermasyarakat. Bukan dalam rumah," katanya lagi sambil menekan kepalaku.

"Jangan kasar begitu pada adikmu Han. Ia kan baru sele...,"

"Kalau tidak seperti itu, ia akan lembek seperti perempuan Bu, yang duduknya cuma di dapur."

"Tapi ia kan masih kuliah."

Aah. Ibu selalu membelanya, mentang-mentang ia kuliah. Walaupun Han tidak pernah kuliah, Han ini anak Ibu. Sekurang ajar apapun aku yang melahirkan Han adalah Ibu. Tapi kenapa dia, Ibu perlakukan berbeda dengan Han?"

Han menunjuk-nunjuk diriku.Mendapat serangan kata-kata seperti itu, Ibu menangis lagi Aku hanya terdiam terpana ketika Ha3 kemudian berlalu dan tidak menghiraukan tangis Ibu. Air mata Ibu mengalir lagi. Ingin aku menghapusnya, tapi bagamana dengan kesedihannya? Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma, kamarabbayana saghiraa. Amin. Hanya itu yang mampu kulakukan.*


Tulisan ini dikutip dari Majalah UMMi Edisi 9_11
Ditulis oleh Mairi Nandarson

 



Jumat, 22 Desember 2017

COBA DITAHANIN JANGAN LANGSUNG MENCARI MANUSIA

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu. Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka.

Saudaraku,…
Beragam tulisan Saudara yang Saudara kirimkan. Tidak sedikit yang menulis bahwa tidak kuat kalau jadi si tukang kaca. Ada yang menulis tentang kesabaran tanpa batas. Ada lagi yang menulis, ya meminjam sama orang kan ga ada salahnya. Yang salah adalah kalau kita niat ga mulangin. Kan keadaannya darurat. Yah, terserah aja. kan namanya juga pendapat. Namun untuk yang berpendapat bahwa biarkan saja istrinya meminjam, bahkan harusnya suami yang meminjam, sebagai kepala rumah tangga ya harus tanggung jawab, ikuti saja dulu kisah lanjutannya. Kiranya kesabaran, keyakinan, dan baik sangka Akan mengundang hadirnya Allah.


Banyak pelajaran nanti kita petik. Di antaranya ketahuanlah bahwa kita ini memang lemah. Asli lemah. Kita-kita orang ga mampu menahan penderitaan. Lebih ga mampu lagi menahan penderitaan sampe mentok. Gambaran kecilnya, orang sekarang jika dikasih sakit kepala sedikit saja, bukan Allah yang disebut. Tapi obat. Makin ada obat sakit kepala, makin ketergantungan tuh sama obat. Langsung saja dicari obat. Juarang sekali sekarang ini orang yang langsung menyebut asma Allah Yang Maha Menyembuhkan. Ia berdoa sejenak, lalu dibawa shalat, doa, dan mengaji. Jarang yang kemudian dibawa jalan keluar itu kaki lalu memberi kanan dan kiri bersedekah. Alasan ga kuat, pusing sekali, itu yang menyebabkan orang langsung minum obat, tidur, dan bangun berharap sudah dalam keadaan sembuh. Sakitnya, penderitaannya, tidak membawanya kepada Allah. Sayang. Okelah obat tidak ditinggal, tapi mbok ya jangan main obat saja. Bawa dulu ke Allah. Bahkan tanpa sadar, Allah yang menidurkan tanpa obat. Dan dalam tidurnya itulah kemudian bisa jadi Allah sembuhkan. Atau proses kesembuhannya terjadi di etape ia keluar rumah untuk bersedekah. Kepalanya lebih sibuk mencari orang yang susah untuk ia bagi. Sampe di tempat yang susah, ia malah bisa bercengkrama dengan yang susah. Lupa sama penyakitnya. Akhirnya tubuh berespon positif. Pulang-pulang malah sudah sembuh.

Tapi itulah kita. Mungkin tidak Saudara dan tidak juga saya. Padahal demi Allah, jika saja saya mau bawa wudhu, dan gelar sajadah. Lalu saya ruku yang lamaaaaaa, sujud yang lamaaaaaaa, dan kemudian membenamkan kepala di atas sajadah, bangun juga udah seger. Apalagi dibawa bertasbih, dibawa zikir, dibawa ngaji. Wuah, sungguh, kita tidak akan jadi orang cengeng. Tapi ya itu,pertanyaannya sederhana, siapa sekarang ini yang sanggup memilih “menderitakan diri dulu” seperti si tukang kaca?

Jika baru ga makan sekali, lalu langsung ngutang ke warung, wah, kayaknya koq kesempatan berdoa di saat lapar, agak-agak susah lagi didapat.

Gini ya, kita tidak bisa loh pura-pura lapar. Saat puasa saja, kita tetap merasa aman. Sebab kita tahu bahwa kita udah menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka. Doa meminta makanan, doa meminta Allah hadir, doa meminta pertolongan Allah, kurang manteb. Sebab keadaan kita sedang cukup. Saudara yang sedang berkecukupan harus mencari sisi doa yang lain hingga Saudara tetap merasa butuh Allah. Jika tidak, saya agak meragukan diri saya bahwa rasa perlu Allah itu masih tinggi.

Dalam kasus anak yang butuh uang sekolah, lalu kemudian ada motor. Bisa jadi Saudara kalah khusyu’ berdoa dengan yang tidak ada apa-apa dan anak terancam tidak kuliah. Tambah khusyu’ dan takut lagi, jika anak ini puinter dan sudah diterima di perguruan tinggi favorit. Saudara yang tidak punya apa-apa, kalau tidak segera ngebuang ke Allah, tidak segera menuju Allah, maka akan sayang tuh keadaan. Sebab keadaan begini tidak akan terulang lagi. Jika pertolongan Allah datang, maka subhaanallaah akan sungguh terasa. Tapi betul memang, siapa yang bisa tahan menderita? Siapa yang memilih bener-bener bertuhan Allah. Allahush-shomad aja. Ga tergoda minjem, ga tergoda meminta bantuan orang lain. Seribu informasi kita dapat tentang sahabat kita yang habis jual mobil, seribu informasi kita dapat tentang saudara kandung kita yang habis jual rumah, yang rasanya kalau kita datang akan dapat itu pertolongan, kita katakan tidak. Kepada Allah saja. Kalau memang Allah berkehendak, biar saja diaturkan pertemuan menurut kehendak-Nya, dan kedatangan mereka-mereka yang terlintas, juga menurut kehendak-Nya.
Dan kadang memang ujian sabar itu sering melewati batas. Wajar kemudian ada kalimat, sabar ada batasnya. Padahal sabar itu tidak ada batasnya.

Sampe waktu yang ditentukan tiba, tidak ada juga duit. Ya sudah, mau diapain. Pihak perguruan tinggi kemudian membatalkan penerimaan anak ini sebagai mahasiswa. Sebab persoalan administratif. Sampe sini, sejuta penyesalan bisa saja dikipasin syetan. Apalagi kemudian syetan datang dah… “Kenapa dulu ga datang saja ke saya,” begitu kata kawan kita yang habis jual mobil. “Padahal dulu saya habis jual rumah. Kaka ga ngomong sih…”, begitu juga kata adik kita yang habis jual rumah. Dan perkataan itu didengar anak kita lagi, atau didengar istri kita yang menyarankan jalan dan datang ke manusia yang lain. Kayaknya mah bener akan terjadi pergolakan batin dan keadaan.

Saudara yang dirahmati Allah. Sungguh perjalanan doa, kesabaran, kepasrahan, belom selesai, dan ga akan selesai. Sepanjang kita masih hidup, takdir akan teruuuuuuuus saja berjalan.

Di kajian-kajian berikut akan kita perdalam. Terima kasih atas tulisan-tulisan Saudara. Bagus-bagus. Terutama yang kemudian memberi support kepada si tukang kaca untuk maju terus. Ya, saya terharu. Ada yang menulis bahwa kalaupun malam itu tetap saja ga makan, sebab si tukang kaca ga bawa hasil pulang, masa iya sampe ketemu seminggu ga ketemu makan? He he he. Bener juga. Allah masa ga memberi makan orang? Dan bener juga, bahwa ada ayat di mana Allah Maha Tahu ambang batas kemampuan seseorang, dan tidak akan membebani seseorang dengan beban yang melebihi kapasitasnya.

Iya lah. Kita coba terus ikuti kajian doa ini. Sungguh, saya menyukai kajian ini. Sebab ini juga kaitannya dengan tauhid, iman, dan keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar doa.

“Wa idzaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa-innii qoriiib… Dan jika hamba-Ku bertanya tentang diri-Ku, katakanlah Aku ini teramat dekat. Ujiibu da’watad-daa’i idzaa da’aanii falyastajiibuu lii wal-yu’minuu bii la’allahum yarsyuduun.. Aku mengabulkan permohonan doa orang yang berdoa kepada-Ku. Maka ikutilah seruan-Ku dan berimanlah kepada-Ku, agar mereka itu selalu mendapatkan petunjuk.” (Qs. al Baqarah: 186).

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamin. Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka. Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu.



INFO PELUANG USAHA

PAYTREN adalah Peluang Bisnis keren banget dari Ustadz YUSUF MANSUR. Modalnya murah, kerja mudah, hasil mewah, dan berkah melimpah. Setiap transaksi Anda menggunakan PAYTREN ada nilai sedekahnya. PAYTREN adalah solusi bagi siapapun yang ingin sukses bisnis secara cepat dengan modal terjangkau. Bergabunglah bersama PAYTREN untuk masa depan Anda yang lebih baik.

Informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi link ini: www.agung79.paytreni.com
WA : 082324817682

Jumat, 24 Februari 2017

TUJUH CIRI ANAK DURHAKA



Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu. Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka.

Saudaraku,…
Berikut ini adalah tujuh cirri-ciri anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Pertama, mengatakan “ah” kepada orang tua dan mengeraskan suara di hadapan mereka ketika berselisih dan juga tidak memberikan nafkah kepada orang tua bila mereka membutuhkan.

Kedua, tidak melayani mereka dan berpaling darinya,lebih durhaka lagi bila menyuruh orang tua melayani dirinya dan mengumpat kedua orang tuanya di depan orang banyak dan menyebut-nyebut kekurangannya.

Ketiga, menajamkan tatapan mata kepada kedua orang tua ketika marah atau kesal kepada mereka berdua karena suatu hal.

Keempat, membuat kedua orang tua bersedih dengan melakukan sesuatu hal,meskipun sang anak berhak untuk melakukannya tapi ingat,hak kedua orang tua atas diri si anak lebih besar daripada hak si anak.

Kelima, malu mengakui kedua orang tuanya di hadapan orang banyak karena keadaan kedua orang tuanya yang miskin, berpenampilan kampungan,tidak berilmu,cacat atau alasan lainnya.

Keenam, tidak mau berdiri untuk menghormati orang tua dan mencium tangannya.

Ketujuh, duduk mendahului orang tuanya dan berbicara tanpa meminta izin saat memimpin majelis dimana orang tuanya hadir di majelis itu,ini sikap sombong dan takabur yang membuat orang tua terlecehkan dan marah.


"Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka." (QS. Al-Israa' [17] : 23)

Semoga ALLAH memberikan kita anak sholeh dan sholeha, berbakti kepada orang tua dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Aamiin.

Ya ALLAH, ampuni kami semua beserta orang-orang yang mengucapkan 'Aamiin' di kolom komentar maupun yang tidak mengucapkannya, jikalau kami telah durhaka kepada kedua orang tua kami. Aamiin

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamin.
Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka. Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu.



INFO SHADAQAH
 
Saya mengajak Anda untuk mendukung pembibitan Penghafal Al-Qur’an yang digagas oleh Ustadz Yusuf Mansur  dan Pondok Pesantren Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Daarul Qur’an.

Silahkan sampaikan donasi nya di rekening Sbb :
Atas nama Yayasan Daarul Qur’an Nusantara

Bank
Syariah Mandiri         : A/C. 074 006 5000
BCA                                      : A/C. 603 030 8041
Bank Muamalat                   : A/C. 303 003 3615
Bank Mandiri                       : A/C. 128 000 509 2975
Bank Bukopin Syariah        : A/C. 880 0420 017
Bank Mega Syariah            : A/C. 100 000 6822
Bank BNI Syariah                : A/C. 1699 1699 6
Bank DKI Syariah                : A/C. 701 700 9003
Bank Permata Syariah       : A/C. 97 1010 606
Bank Danamon Syariah     : A/C. 731 34 769
BRI                                        : A/C. 0523 01 0000 34 30 4

Konfirmasikan sedekah Anda melalui sms ke :
081519002828. Untuk konfirmasi sedekah Anda, ketik : Konfirmasi/Nama/Via Bank/Nominal Sedekah/Tanggal Transfer/Nomor Resi/Keterangan Donasi (infak/sedekah/wakaf). Hajat. Lalu kirinkan ke alamat HP tersebut di atas.
 
Semoga para donator dilipatgandakan pahalanya dan disegerakan dengan rizki berlimpah berkah penuh kebaikan. Amin.


Informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi link ini:
http://www.pppa.co.id

Sabtu, 23 April 2016

CINTAILAH SHALAT TAHAJJUD DAN SEDEKAH



Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu. Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka.

Saudaraku,…
Allah cinta dengan orang yang mau berubah. Bukankah diantara kita juga kepengen berubah. Bnerubah dengan kehidupan yang lebih baik. Yang tadinya tidak ada menjadi ada. Yang tadinya hanya punya sepeda, sekarang sudah punya motor. Dan seterusnya. Sampai dengan kita beribadah yang tadinya hanya sholat fardu saja, sekarang sudah dilengkapi qobliyah ba’diyah sampai dhuha dan tahajud dilakukan. Kalau kita mau berubah, kita berubah sama-sama. Maka kata Allah, kalau mau berubah, kita bantu orang. Dengan mengubah orang lain. Apa ayatnya?

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah [32] : 16-17)

Lakukan, Cintailah shalat tahajjud dan sedekah. Karena kata Allah, Anda tidak pernah tahu, you never know, hadiah apa yang akan Allah berikan kepada siapa yang mampu melakukan shalat tahajjud dan sedekah. Ganjaran sudah pasti Allah berikan. Hanya berupa apa kita tidak tahu.

Dan yang jelas nikmat kesehatan dan nikmat mempunyai anak keturunanlah hadiah istimewa yang Allah berikan. Maka yang belum berubah, lakukanlah perubahan dengan mengubah hidup orang lain. Dengan memberikan apa yang sudah Allah beri. Mudah-mudahan, apa yang sudah kita beri, dibalas Allah berkali-kali lipat banyaknya. Perubahan untuk Allah. Dan hasilnya pun juga untuk Allah. Semoga Allah meridhai setiap langkah yang kita lakukan. Aamiin...

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamin. Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka. Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu.

INFO SHADAQAH
 
Saya mengajak Anda untuk mendukung pembibitan Penghafal Al-Qur’an yang digagas oleh Ustadz Yusuf Mansur  dan Pondok Pesantren Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Daarul Qur’an.

Silahkan sampaikan donasi nya di rekening Sbb :
Atas nama Yayasan Daarul Qur’an Nusantara

Bank Syariah Mandiri         : A/C. 074 006 5000
BCA                                 : A/C. 603 030 8041
Bank Muamalat                 : A/C. 303 003 3615
Bank Mandiri                    : A/C. 128 000 509 2975
Bank Bukopin Syariah        : A/C. 880 0420 017
Bank Mega Syariah            : A/C. 100 000 6822
Bank BNI Syariah              : A/C. 1699 1699 6
Bank DKI Syariah              : A/C. 701 700 9003
Bank Permata Syariah        : A/C. 97 1010 606
Bank Danamon Syariah      : A/C. 731 34 769
BRI                                  : A/C. 0523 01 0000 34 30 4

Konfirmasikan sedekah Anda melalui sms ke :
081519002828. Untuk konfirmasi sedekah Anda, ketik : Konfirmasi/Nama/Via Bank/Nominal Sedekah/Tanggal Transfer/Nomor Resi/Keterangan Donasi (infak/sedekah/wakaf). Hajat. Lalu kirinkan ke alamat HP tersebut di atas.