Selasa, 22 Maret 2011

Diam Itu Emas


Saudaraku,…
Sebuah perkataan yang sia-sia dapat menjerumuskan kita ke dalam keburukan yang menistakan. Ucapan dan perkataan memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Sejarah dunia mengungkapkan kata-kata bersemangat pemimpin dunia mampu membangun sebuah revolusi yang merubah dunia.  Bangsa ini memiliki beberapa tokoh yang mampu mendayagunakan perkataan bermanfaat untuk menggedor perjuangan mencapai kemerdekaan. Kata-kata Bung Toha dan Bung Karno pada waktu perjuangan kemerdekaan adalah kata-kata bermanfaat yang membangun spirit melawan penindasan terhadap Negara kita. Di dalam sejarah Islam pun tidak sedikit tokoh-tokoh perjuanga Islam yang mampu membangun spirit menegakkan bendera Islam di manapun mereka menjejakkan kakinya.

Tapi bagaimanakah jika kata-kata tidak lebih hanyalah buih-buih gelombang di lautan? Atau bahkan lebih buruk, kata-kata hanyalah kesia-siaan penggunaan waktu oleh manusia. Untuk yang satu ini, maka yang paling baik adalah diam. Dalam beberapa hal diam jauh lebih baik daripada berkata-kata.

Kelemahan manusia umumnya terletak pada ketidakmampuan untuk mengendalikan lidahnya dalam kebaikan. Dusta selalu terlahir dari perbincangan sia-sia diantara para manusia. Pada awalnya seseorang mungkin berbicara tentang kebaikan, tapi lidah sungguh tak bertulang. Entah dengan alas an dan tujuan apa, ia kemudian mempergunjingkan keburukan orang lain atau kebohongan-kebohongan lain yang tidak terpikirkan sebelumnya. Karena itulah orang-orang yang beriman dihimbau Rasulullah Muhammad Saw untuk diam saja apabila mulut tidak mampu berucap kebaikan.

Dalam sebuah kisah diceritakan mengenai seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak,

"Minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!."

Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.

Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, "Mungkin ia tidak sengaja." Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, "Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi."

Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, "Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!" dengan nada sedikit emosi. "Pokoknya saya tetap minta ganti," lanjutnya.

Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, "Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?" Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya."

Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.

Saudaraku,…
Dalam beberapa keadaan diam dapat menyelamatkan hidup Anda. Dim itu meletakkan semua kemauan terhadap nafsu manusia dalam posisi serendah-rendahnya. Sehingga manusia mampu mengendalikan diri dalam kewaspadaan yang terjaga. Kebaikan diam inilah menjadikannya sebagai karakter seorang muslim yang baik. Semoga kita diberikan kebaikan diam oleh Allah SWT. Tidak ada Dzat yang mampu menolong kita dalam banyak keadaan, kecuali Allah SWT yang Maha Kuasa.



Kamis, 10 Maret 2011

Kematian Amru bin Ash


Saudaraku,..
Dalam sebuah riwayat diceritakan, Amru bin Ash ketika akan wafat ia menangis tersedu-sedu, lalu ia memalingkan mukaanya ke dinding, sedang putranya memanggil, "Oh, ayah, bukankah Rasulullah saw. telah memberi kabar gembira padamu akan mendapaatkan ini dan itu (pahala yang besar)?" Lalu ia memandang anaknya dan berkata, "Sebaik-baik yang kami sediakan adalah kalimat syahadat Laa ilaaha illa Allah wa anna Muhammadar Rasulullah, sungguh saya telah mengalami tiga tingkatan dalam hidup ini."
Pertama, saya benci kepada Rasulullah dan tidak ada keinginanku pada waktu itu melainkan mendapat kesempatan untuk membunuh beliau, dan andaikata waktu itu saya mati, niscaya saya jadi ahli neraka.

Kedua, Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, lalu saya datang kepada Rasulullah seraya berkata, "Ulurkan tanganmu, saya akan berbai'at kepadamu." Ketika beliau mengulurkan tangannya, maka aku menarik lagi tanganku. Lalu Nabi bertanya, "Mengapakah engkau hai Amru?" Saya menjawab, "Saya minta suatu syarat." Beliau bertanya, "Syarat apakah itu?" Saya berkata, "Semua dosa saya diampunkan." Lalu Nabi menjawab, "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Islam itu menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu juga menghapuskan dosa-dosa sebelumnya."

Pada tingkatan ketiga ini tidak ada seorang pun yang saya muliakan dan saya kasihi lebih dari Nabi Muhammad saw., hingga saya tidak berani mengangkat mata di hadapannya karena hebatnya. Maka, sekiranya seseorang bertanya kepadaku sifat Nabi saw., saya tidak akan sangggup menerangkannya, sebab saya tidak pernah berani memandang beliau sepenuhnya. Sekiranya saya mati ketika itu, niscaya saya mengharapkan surga.

Saudaraku,..
Betapa sungguh luar biasa kehidupan para sahabat Rasululah Muhammad Saw. Mereka mencintai Muhammad saw dengan cinta yang bersih, tanpa  ternoda oleh banyaknya kepentingan hidup. Sangat berbeda dengan apa yang tersembunyi di hati kita. Banyak diantara kita yang mencintai Rasulullah karena harapan-harapan duniawi yang menggantung di hati. Kapankah kita semua mampu membersihkan diri mencintai Allah dan utusan-Nya dengan kejernihan iman yang berkilau?

Allah Maha Mengetahui


Saudaraku,…
Setiap muslim tentunya sudah mengenal Allah SWT dan kekuasaan-Nya yang tidak memiliki batas. Apa yang tidak dapat dijangkau manusia atau makhuk-Nya yang lain, dapat diwujudkan oleh Allah di luar kemampuan pikiran kita. Salah satu kekuasaan-Nya adalah kemampuan-Nya mengetahui apa yang tidak dapat diketahui oleh manusia dan mendengar apa yang tidak dapat didengar oleh makhluk-Nya. Kemampuan Allah di luar kemampuan manusia. Karena itu maka selayaknyalah seorang muslim beriman kepada Allah dengan kualitas yang terbaik.

Pengetahuan Allah mampu menjangkau kehidupan kita. Ia mampu mengetahui setiap gejolak dalam hati dan pikiran yang belum tersampaikan melalui kata-kata. Allah mengetahui setiap perkataan sis-sia maupun perkataan bermanfat yang keluar melalui lidah kita, betapun rendah suara yang kita keluarkan. Allah mengetahui setiap kebaikan dan keburukan yang dilakukan anggota tubuh kita walaupun tersembunyi dalam lubang yang paling sempit. Dan seharusnya pengetahuan mengenai kekuasaan Allah ini mampu mengikat kehidupan kita dalam iman yang kuat kepada-Nya.

Dan jika Anda hanya dapat melakukan kebaikan melalui hati Anda, jangan Anda khawatir Allah tidak menerima kebaikan Anda. Keadilan-Nya mampu mendengar kebaikan yang diucapkan dengan hati yang ikhlas. Anda akan memperoleh keadilan yang dijanjikan Allah karena kebaikan Anda.

Dalam sebuah riwayat diceritakan pada suatu hari Rasulullah mendapat berita yang mengagetkan tentang salah seorang sahabatnya. "Ia sedang mengalami sakaratul maut. Sudah kami talkin agar menyebut nama Allah, tetapi lidahnya bagai terkunci," demikian tutur si pembawa kabar.

Rasulullah bergegas menuju ke rumah sahabatnya itu. Sebab, ia seorang mukmin yang beriman, pejuang yang ikhlas, dan dermawan yang tekun beribadah. Ia harus diselamatkan.

"Sahabatku, katakanlah la ilaha illallah," ujar Nabi. Tetapi, orang itu hanya membisu saja.
Katakanlah illallah," desak Nabi. Masih juga orang itu memandang kosong.

"Katakanlah Allah," Nabi berbisik kembali. Orang itu tetap bengong. Lalu, menghembuskan napas penghabisan.

Para sahabat menjerit kecil. Mereka sangat sedih menyaksikan rekan setia itu mengakhiri hidup di dunianya tanpa mampu melafalkan kalimat tauhid. Namun, anehnya Nabi malah tersenyum ceria dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja para sahabat keheranan. Di antara mereka, ada yang tidak tahan untuk segera melontarkan pertanyaan.
"Wahai kekasih Allah, alangkah menyakitkan sikapmu. Kami semua cemas memikirkan nasib malang yang menimpa rekan kami itu di akhirat kelak, mengapa engkau justru kelihatan gembira?"

Nabi, masih bersinar-sinar menjawab. "Tidakkah kalian lihat menjelang ajalnya, ia menatap ke atas sekilas? Ia menghadap Allah dengan isyarat mata. Ia tidak mampu bertobat dengan lidahnya. Tetapi, ia memohon ampun dengan hatinya. Aku senang sekali, karena Allah berfirman kepadaku bahwa kedatangannya diterima dalam rida-Nya."

Saudaraku,…
Allah adalah Dzat yang memilki kekuasaan dan keadilan yang luar biasa. Jika anda beriman kepada Allah, maka yakinlah dengan sepenuhnya terhadap keadilan Allah tanpa keraguan sedikitpun. Inilah sikap seorang muslim yang semestinya.

Selasa, 22 Februari 2011

Ketika Meninggalkan Shalat


Saudaraku,…
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah Muhammad Saw sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis. Ketika Rasulullah Saw melihat pemuda itu menangis, beliau pun bertanya, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?"

Maka berkatalah pemuda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya."

Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut pemuda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.s. mendapati ayah pemuda itu telah berubah menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini berubah menjadi babi hutan yang hitam."

Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah pemuda itu dan beliau pun berdoa kepada Allah SWT, kemudian mayat itu pun berubah menjadi bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyolatkan mayat tersebut. Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?"

Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mau mengerjakan shalat." Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan shalat. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."

Dalam riwayat yang lain, diceritakan  pada masa kepemimpinan Abu Bakar r.a terdapat seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka mencoba membunuh ular itu.

Apabila mereka mencoba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, menagapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyiksanya sehingga sampai hari kiamat." Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?"

Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :"Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang berjamaah, dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya, dia tidak mau mendengar nasihat para ulama. Maka inilah balasannya.

Kedua kisah di atas hanyalah sedikit dari balasan Allah SWT terhadap orang-orang yang sengaja meninggalkan shalatnya, tanpa alasan yang dibenarkan. Kelak di akhirat orang-orang seperti akan memperoleh siksa yang jauh lebih mengerikan daripada siksa yang ditampakkan Allah di dunia.

Kita akan selalu bertanya kepada orang-orang yang mengabaikan shalat, tentang nilai shalat yang dipahaminya. Kelalaian mengerjakan shalat selalu saja berawal dari kelemahan umat muslim untuk meneguhkan dirinya dengan shalat. Kalau shalat hanya dipahami sekedar kewajiban, seorang manusia pada rentang waktu tertentu akan mengalami kelelahan atau kejenuhan. Alasan itulah membuat manusia lemah untuk menegakkan shalatnya.

Saudaraku,..
Shalat haruslah menjadi kebutuhan, kebutuhan yang paling utama. Melebihi kebutuhan manusia terhadap makanan, sandang maupun pakaian. Pada tingkat ini, seorang muslim saya pikir tidak  akan rela meninggalkan shalatnya, untuk apapun saja yang disajikan dunia ini.

                    

Selasa, 15 Februari 2011

Berlian Di Atas Lumpur

Saudaraku,…
Sungguh sebuah kebahagiaan yang sangat besar jika seorang muslim memperoleh kasih sayang Allah berupa kekuatan iman dan Islam yang tangguh. Karena Allah tidak memberikan kemuliaan ini pada setiap orang. Jika kita hitung manusia di seluruh jagad ini yang bersyahadat kepada Allah dan rasul-Nya, sungguh sedikit sekali yang memiliki kekuatan iman yang tangguh. Setiap muslim yang berjalan menuju Allah bukanlah seorang nabi atau manusia yang telah memiliki kekuatan iman yang luar biasa sejak lahir. Iman dibentuk oleh ketaatan yang dilakukan terus-menerus. Semakin sering seorang muslim berbuat ketaatan, maka semakin hebat pula kekuatan iman yang dimilikinya. Demikian pula sebaliknya, keimanan seorang dapat melemah kalau ia meninggalkan kebaikan yang disyaratkan oleh Allah.

Terlepas dari semua itu, segala bentuk keimanan yang datang dan melekat pada manusia tidak pernah terlepas dari kekuatan dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dan ini tidak sebatas pada orang-orang yang berada dalam lingkungan kebaikan. Janganlah sekali-kali terlintas dalam pikiran kita kalau iman yang tangguh hanya terlahir dalam lingkungan pesantren atau madrasah saja. Tidakkah Anda ingat sahabat Rasulullah Saw. terkasih Umar bin Khaththab ra.? Beliau sebelum mengenal Islam adalah orang yang paling gigih memerangi Nabi Muhammad Saw. Dan ketika ia sudah berada di dalam barisan muslimin ia menjadi pembela Rasulullah yang paling ditakuti barisan kaum musyrik di Makkah. Lalu ingatkah pula Anda kepada istri Fir’aun yang melawan suaminya dan kekejaman yang ,menyertainya.

Perlawanan ini ini sebenarnya dimulai ketika Nabi Musa a.s. berhasil mengalahkan para tukang sihir Fir’aun. Asiyah, yang turut menyaksikan kesuksesan Musa, bertambah tebal imannya. Sebenarnya, telah lama Asiyah beriman kepada Allah SWT, tetapi hal ini tidak diketahui suaminya.
Lama-lama Firaun mengetahui juga akan keimanan Asiyah itu. Firaun murka dan menjatuhkan hukuman kepadanya. Para algojo diperintahkan Firaun untuk segera melakukan penyiksaan kepada Asiyah, yang olehnya dianggap murtad itu.

Tubuh Asiyah ditelantangkan di atas tanah di bawah terik sinar matahari. Kedua tangannya diikat kuat ke tiang-tiang yang dipatok ke tanah agar ia tak dapat bergerak-gerak. Wajahnya yang telanjang di hadapankan langsung ke arah datangnya sinar matahari. Asiyah pastilah tidak akan tahan akan sengatan panas matahari, dan akhirnya ia akan mengubah keimanannya kepadaku, demikian pikir Firaun.
Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata Tuhan tidak membiarkan hambanya menderita akibat kekafiran Firaun. Setiap kali para algojo meninggalkan Asiyah dalam hukumannya, segera malaikat menutup sinar matahari itu, sehingga langit menjadi teduh dan Asiyah tak merasakan sengatan matahari yang ganas itu.

Asiyah tetap segar-bugar meskipun sudah dihukum berat. Hal ini membuat Firaun memerintahkan hukuman lain yang lebih berat. Ia memerintahkan agar kepada tubuh Asiyah yang telentang itu dijatuhi batu besar. Tubuhnya pasti remuk, pikir Firaun.

Ketika Asiyah melihat bahwa ada batu besar yang hendak dijatuhkan ke tubuhnya, berdoalah dia kepada Tuhan. "Wahai Allah, Tuhanku! Bangunkah untukku di sisimu sebuah gedung di surga." (At-Taubah: 11).

Segera Allah memperlihatkan sebuah bangunan gedung di surga yang terbuat dari marmer berkilauan. Asiyah sangat gembira, lalu rohnya keluar meninggalkan tubuhnya. Asiyah tidak merasakan kesakitan apa pun, karena ketika batu besar itu menimpa tubuhnya, rohnya sudah tidak ada di sana.

Demikian lah sedikit cerita mengenai istri Fir’aun yang beriman kepada Allah. Asiyah itu seperti sebuah mutiara dalam lumpur yang pekat. Ia selalu berkilau memancarkan keindahan yang mengalahkam keburukan-keburukan di lingkungannya. Hal yang sama terjadi pula dilingkungan kita. Kita tidak pernah tahu keimanan yang melekat pada hati seseorang. Jangan terlalu mudah menghakimi seseorang yang buruk dengan keburukan yang tidak kita ketahui. Jangan merendahkan saudara Anda yang hanya karena tempat tinggalnya jauh dari nilai-nilai Islam. Karena Anda tidak akan pernah tahu pada masa yang akan datang apakah Anda masih memiliki keimanan seperti sekarang atau Anda menjadi bagian kemaksiatan dari tuduhan Anda tersebut.

Saudaraku,…
Selalu berpikirlah positif mengenai saudara Anda, betapun buruknya kehidupan dan latar belakangnya. Dan janganlah Anda berbagga diri dengan kebaikan dan kumuliaan yang Anda miliki. Sungguh Allah SWT dapat mencabut apa saja yang Anda miliki jika Anda takabur dengan nikmat-nikmat-Nya. Allah memiliki kuasa yang luar biasa terhadap diri Anda dan saudara Anda yang lainnya. Ingatlah hal itu, saiuadaraku!

Jumat, 04 Februari 2011

Bersyukur Dalam Kepayahan


Saudaraku,…                         
Setiap muslim harus selalu menyiapkan dirtinya menghadapi pergolakan yang terjadi di dunia, apapun itu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Demikian juga kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan saudara-saudara kita atau lingkungan tempat tinggal kita.

Islam menuntut setiap muslim untuk selalu bersiaga terhadap keadaan apapun yang akan terjadi. Bagian utama dari kesiagaan tersebut adalah senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun. Seorang muslim selayaknya tidak hanya bersyukur ketika mendapatkan kesenangan dalam hidup, tetapi semestinya pula mampu bersyukur ketika ia dalam kepayahan. Berprasangka baiklah kepada Allah. Allah itu Dzat yang sangat cermat dan teliti dalam rencana-renca-Nya. Apapun yang terjadi dengan Anda, tetaplah bersyukur kepada Allah dengan kegembiraan yang besar. Tetapi ketika Anda bersyukur menggunakan lisan dan anggota tubuh Anda, cobalah Anda mempertimbangkan perasaan orang-orang di sekitar Anda. Ketika Anda memperoleh pertolongan ketika orang lain tidak mendapat pertolongan, maka berlakulah bijak untuk menahan kegembiraan Anda yang meluap-luap di hadapan mereka.

Di dalam sebuah riwayat diceritakan Sari al-Suqthi, seorang ulama ahli ilmu tauhid yang sangat wara' berkata, "Sudah tiga puluh tahun lamanya aku selalu membaca istighfar, dan baru sekali ini aku membaca alhamdulillah."

"Bagaimana ceritanya?" tanya seorang sahabatnya.

"Pada waktu terjadi peristiwa kebakaran di pasar Baghdad, seseorang dengan tergopoh-gopoh datang menemuiku seraya memberitahukan bahwa kedaiku selamat. Spontan aku berucap 'Alhamdulillah!' Tetapi, lantas aku menyesal, karena mensyukuri keberuntunganku sendiri di atas penderitaan orang banyak." jawabnya.

Perkataan Sari al-Suqthi menegaskan kembali kepada kita, betapapun juga perbuatan baik (bersyukur kepada Allah) semestinya tidak menyakiti perasaan orang lain.

Saudaraku,…
Jika Anda mampu bersyukur kepada Allah dalam setiap keadaan, itu adalah baik. Tetapi lebih sangat baik jika Anda mampu mengatur manajemen syukur Anda tanpa menyinmggung peraan saudara Anda yang sedang berduka atau kepayahan dalam hidup.

Semoga engkau dicintai Allah, saudaraku!

Sabtu, 29 Januari 2011

Kemuliaan Ilmu

 
Saudaraku,…
Islam dipahami oleh seluruh umat manusia di dunia ini melalui ilmu yang disampaikan melalui Rasulullah Muhammad SAW. Hal inilah yang menjadikan ilmu lebih penting daripada amal perbuatan yang sholeh. Amal perbuatan yang baik diawali oleh pengetahuan yang baik tentang kebaikan. Bahkan sebuah keburukan diawali oleh pengetahuan tentang keburukan.

Seseorang yang mamu mendekatkan diri kepada Allah dengan amal perbuatan sholeh, seperti tahajud, dzikir, puasa dan sebagainya, tentu sebelumnya telah memperoleh pemahaman dan pengetahuan mengenai amalan perbuatan sholeh tersebut. Sungguh sangat buruk jika amalan sholeh diawali oleh sebuah pengetahuan yang keliru. Karena hsil akhirnya pun akan berbahaya bagi keimanan dan aqidah yang akan dibangun kemudian.  Dan lihatlah saudaraku, banyak sekali saudara kita yang beribadah dengan membelakangi wajah Tuhannya.

Sahabat Rasulullah Saw,  Ali Bin abu Thalib ra. Dikenal sebagai orang yang pandai, bahkan oleh Rasulullah Saw. Ia disebut dengan julukan “gerbang ilmu.” Sedangkan Rasulullah Muhammad Saw merupakan kota ilmu. Terdapat sebuah riwayat yang menarik mengenai julukan yang disematkan kepada sahabat Rasulullah Saw tersebut.

Pada suatu ketika Rasulullah Saw. pernah menyatakan bahwa dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, sementara Ali bin Abu Thalib adalah gerbangnya ilmu. Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abu Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan "gerbang ilmu" dari Rasulullah Saw.

Berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, "Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?"

"Setuju!" jawab mereka serentak.

"Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja", saran yang lain. "Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas."
"Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!" sahut yang lainnya.
Hari yang telah ditentukan telah tiba. Orang pertama datang menemui Ali lantas bertanya, "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"

"Tentu saja lebih utama ilmu," jawab Ali tegas.

"Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir'aun, Namrud dan lain-lainnya," Ali menerangkan.
Setelah mendengan jawaban Ali yang demikian, orang itu kemudian mohon diri. Tak lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"

"Lebih utama ilmu dibanding harta," jawab Ali.

"Mengapa?"

"Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya."

Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Orang ketiga pun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya.

"Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?"
Ali kemudian menjawab bahwa, "Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?"

"Mengapa bisa demikian tuan?" tanya orang itu penasaran.

"Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya."

Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali pun kemudian menjawab, "Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu."

"Apa yang menyebabkan demikian?" tanya orang itu mendesak.

"Karena bila engkau pergunakan harta," jawab Ali, "jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak."

Orang kelima kemudian datang setelah kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan orang ini, Ali pun menerangkan, "Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani."

Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah, "Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu."

Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, "Pemilik ilmu akan diberi syafa'at oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala di hari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak."

Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga setelah mendengar setiap jawaban, ternyata alasan yang diberikan Ali selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara mereka.

Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, "Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?"

"Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu," jawab Ali.

"Kenapa begitu?" tanyanya lagi.

"Dalam waktu yang lama," kata Ali menerangkan, "harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi."

Orang kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. "Seseorang yang banyak harta", jawab Ali pada orang ini, "akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual."
Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, "Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya."

Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, "Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup."

Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw di atas adalah benar adanya. Dan Ali memang pantas mendapat julukan "gerbang ilmu". Sedang mengenai diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi.

Saudaraku, ..
Bagian paling penting adalah bukan banyak atau sedikitnya ilmu atau pengetahuan yang kita miliki, tetapi sebaik apa kita melakukan perbuatan baik dengan pengetahuan yang kita miliki. Berdoalah agar setiap pengetahuan yang kita miliki mampu mendekatkan kita kepada Allah dengan jarak yang sedekat-dekatnya.