Selasa, 24 April 2012

BERSEDEKAH DIKALA SULIT


Saudaraku,…
Suatu hari Ali bin Abi Thalib mendapati kedua anaknya, Hasan dan Husain, sakit. Bahkan kedua cucu Baginda Rasulullah SAW itu mengalami sakit yang cukup lama sehingga Ali pun bernazar, “Jika Hasan dan Husain sembuh, aku akan berpuasa selama tiga hari”. Rupanya Allah mendengar nazar Ali tersebut hingga Hasan dan Husain pun sembuh.

Ali bin Abi Thalib bersama isterinya, Fatimah Az Zahra, pun berpuasa. Menjelang tiba waktu berbuka di hari pertama, hanya tersedia dua potong roti untuk makanan berbuka. Ketika waktu berbuka tiba, belum lagi keduanya menyantap roti tersebut, datang seorang fakir miskin yang mengetuk pintu mereka seraya meminta makanan lantaran perutnya belum terisi sejak beberapa hari. Urunglah Ali dan Fatimah melahap roti yang sudah digenggamnya, mereka pun meneruskan berpuasa hingga keesokan harinya.

Di hari kedua berpuasa, mereka pun hanya memiliki sepotong roti untuk dimakan berdua pada waktu berbuka nanti. Seperti halnya hari kemarin, tiba saatnya berbuka, pintu pun kembali terdengar diketuk seseorang. Rupanya seorang anak yatim yang meminta makanan karena kelaparan. Tak kuasa menahan iba, Ali pun memberikan sepotong roti itu kepada anak yatim itu. Keduanya kembali berpuasa.

Ujian memang selalu diberikan Allah kepada orang seperti Ali dan Fatimah. Bahkan di hari ketiga berpuasa pun, sepotong roti yang mereka punya pada saat menjelang berbuka ikhlas mereka berikan kepada seorang tawanan yang baru saja bebas namun tak mempunyai makanan. Ali, Fatimah, dan kedua anaknya, Hasan dan Husain mengerti bahwa semua ini hanyalah ujian kesabaran dari Allah.

Sebuah pelajaran yang teramat mengharukan dari keluarga Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang penyabar. Betapa Allah tengah menguji mereka, akankah mereka tetap beriman dan mau menyedekahkan rezeki milik mereka kepada orang lain, meskipun mereka teramat membutuhkan. Bahkan kisah yang teramat indah ini Allah lukiskan dalam Al-Quran Surat Al-Insaan (76): 8-10, agar menjadi pelajaran bagi kebanyakan manusia.

Memberi di saat berlebih adalah hal mudah, meski tidak semua orang melakukannya. Tetapi memberi di saat kita membutuhkan, hanyalah orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah di surga kelak yang sanggup melakukannya. Butuh perjuangan, keikhlasan dan kesabaran untuk meniru apa yang dilakukan Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya. Tentu saja kita bisa, jika kita mau.


Tulisan ini dikutip dari :

Senin, 16 April 2012

MUNAJAT 7


Duhai Pemilik Keselamatan, selamatkanlah kami dan anak keturunan kami dari mencari kesenangan dunia, kemewahan dunia, dengan cara pintas.

Duhai Pemilik Kesenangan, bimbinglah kami untuk menemukan kesenangan yang hakiki, bukan kesenangan yang berujung pada penderitaan.

Duhai Pemilik duinia, ajarkan kami untuk menundukkan dunia, buykan kami yang tunduk kepada dunia, dan agar dunia tidak berbalik menjadi kurungan besar hanya lantaran kami lupa akan ajaran dan peringatan-Mu.

Bila kilauan dunia menyilaukan pandangan kami, bila taburan permata dunia mendebarkan kami punya hati, ingatkan kami ya Allah, ingatkan. Bahwa keridhaan-Mu dan kasih saying-Mu lebih besar daripada sekedar dunia, yang bila mati pun ia akan kami tinggalkan. Amiin!



Tulisan ini dikutip dari buku WISATA HATI : Kehidupan Yang Rapuh
Yang ditulis Ustadz Yusuf Mansur.




Rabu, 04 April 2012

MUNAJAT 6

Ya Allah, rezeki itu Engkau yang atur, itu hamba tahu. Rezeki itu di tangan-Mu, itu juga hamba tahu. Tapi ketahuan hamba itu tidak berubah menjadi kesadaran yang tinggi, serta membumi di keseharian perilaku, sehingga hawa nafsu dan keinginan tetap saja menang dan mendorong hamba untuk mencarinya bukan lewat jalan-Mu.

Sebab rezeki itu dari-Mu, dan sebab rezeki itu Engkau yang atur, hamba juga sebenarnya paham. Bahwa rezeki yang cenderung dipaksakan untuk mengambilnya, alias diambil melalui cara-cara yang tidak benar, adalah pasti bukan rezeki dari-Mu. Dan karena ia bukan rezeki, berarti ia adalah cemeti azab. Akhirnya hamba pun sadar, bahwa yang terjadi kemudian adalah bukan kenikmatan yang hamba nikmati melainkan ketidaktenangan. Akhirnya hamba harus menerima, bahwa kemuliaan dan kehormatan yang hamba cari bukan dari sisi-Mu adalah sebenarnya kehinaan dan penderitaan.

Apa-apa yang berasal dari-Mu adalah kebaikan dan harus diperoleh dengan cara-cara yang baik. Dan bukanlah kebaikan bila ia diperoleh dengan cara-cara yang buruk. Ya Allah, kalaulah hamba sudah paham akan hal ini, buatlah kepahaman tersebut menjadi selaras dengan hati, perbuatan dan pikiran hamba. Maafkan hamba ya Allah…



Tulisan ini dikutip dari buku WISATA HATI : Kehidupan Yang Rapuh
Yang ditulis Ustadz Yusuf Mansur.



Sabtu, 31 Maret 2012

KEAJAIBAN SHADAQAH

Saudaraku,…
Dalam sebuah riwayat diceritakan, Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Seorang laki-laki bercerita kepadaku: 'Ada seorang laki-laki yang keluar rumah membawa benang tenun, lalu ia menjualnya seharga satu dirham yang rencananya untuk membeli tepung. Ketika pulang ia melewati dua orang lelaki yang saling menjambak rambut dan kepala kawannya.

Ia lalu bertanya, 'Ada apa?'

Orang-orang pun memberi tahunya bahwa keduanya bertengkar karena memperebutkan uang satu dirham. Maka ia berikan uang satu dirhamnya kepada mereka, dan ia pun tak memiliki uang lagi.
                                           
Ia lalu pulang dan menceritakan kejadian itu pada istrinya. Sang istri lalu mengumpulkan beberapa barang rumah tangga yang sekiranya bisa dijual atau digadaikan. Laki-laki itu pun pergi untuk menjual atau menggadaikannya. Tetapi, barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang membawa ikan yang agak menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, "Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah engkau mau menukarnya dengan barang daganganku ini?"
                                                                                                   
Ia pun mengiyakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. 

"Istriku, segeralah urus ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar," katanya pada istrinya. Maka sang istri segera mengurus ikan tersebut. Ketika ia membelah perut ikan itu, tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut.

Wanita itu berkata gembira, "Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil dari telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara."

Suaminya berkata, "Perlihatkanlah padaku!" Ternyata ia melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata pada istrinya, "Saya kira ini adalah mutiara."

Sang istri menyahut, "Tahukah engkau berapa nilai mutiara ini?"

"Tidak, tetapi aku tahu siapa yang pintar dalah hal ini", jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu dan segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia lalu menghampiri temannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicara kepadanya seraya mengeluarkan mutiara itu. "Tahukah anda berapa nilai benda ini?" ia bertanya. Kawannya memperhatikan mutiara itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, "Aku menghargainya 40 ribu dirham. Jika anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga. Tetapi jika anda ingin harga yang lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, dia akan memberimu harga yang lebih tinggi dariku."

Maka ia pergi kepada orang itu. Orang itu memperhatikan mutiara tersebut dan mengakui keindahannya. Ia kemudian berkata, "Aku menghargai barang ini 80 ribu dirham. Jika anda menginginkan harga yang lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, saya kira ia akan memberi harga yang lebih tinggi dariku."

Dengan bergegas ia pergi pada orang yang dimaksud. Orang itu berkata, "Aku hargai barang ini 120 ribu dirham. Dan saya kita tidak ada orang yang berani menambah sedikit pun dari harga itu." "Ya", ia pun setuju. Lalu mutiara itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, lelaki itu pulang dengan membawa dua belas kantong uang dirham. Pada masing-masing kantong terdapat sepuluh ribu dirham. Uang ia bawa pulang dan akan disimpan di rumahnya. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, "Saya punya kisah, karena itu masuklah." Orang itu pun masuk. Lalu laki-laki itu berkata, "Ambillah separuh dari hartaku ini." Orang fakir itu lalu mengambil enam kantong uang dan dibawannya pergi. Setelah agak jauh, ia kembali lagi seraya berkata, "Sebenarnya aku bukanlah orang fakir atau miskin, tetapi Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah mengutusku kepadamu untuk mengujimu. Dialah yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikan-Nya kepadamu baru satu qirath dari semuanya. Dan Dia menyimpan sembilan belas qirath lagi untukmu.

Saudaraku,…
Ini adalah satu dari banyak cerita menakjubkan tentang keajaiban shadaqah. Jika Anda beriman kepada Allah termasuk dengan janji-jani Allah, jadilah bagian dari pelaku keajaiban shadaqah ini. Sungguh Anda tidak akan merugi jika Anda berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Jumat, 23 Maret 2012

NASEHAT TERBAIK

Saudaraku,…

Salah satu media pembelajaran kehidupan yang terbaik bagi manusia adalah musibah-musibah yang tidak menyenangkan hati. Sehingga janganlah kita membenci keadaan Anda ketika berada dalam kesulitan. Jika Anda sungguh-sungguh beriman kepada Allah, tentu Anda percaya bahwa keadaan apapun yang ditetapkan Allah bagi Anda, bukanlah sesuatu yang sia-sia atau kelak akan merugikan Anda. Apapun kesusahan yang Anda alami hari adalah bagian kecil dari kasih sayang Allah.

Dan jangan pula Anda berpikir bahwa kesusahan dan musibah yang Anda alami akan menjadikan Anda terhina. Jika Anda bukanlah seorang ahli maksiat, tentu Anda tidak akan dihinakan oleh Allah. Hal yang semestinya dikhawatirkan adalah jika dalam kehidupan ini Anda hanya mengalami kegembiraan atau kesenangan semata. Hal buruk dari keadaan seperti ini adalah hati anda akan menjadi kasar dan lalai dengan suara Illahi yang mendekati Anda, dan ujungnya adalah hati Anda akan diperbudak oleh nafsu dan keinginan untuk berburu indahnya dunia yang menyenangkan.

Saudaraku,…
Bersabarlah dalam setiap musibah atau kesusahan yang Anda alami. Sesungguhnya musibah-musibah tersebut merupakan nasehat yang baik bagi Anda. Dan waspadalah jika Anda terlampau banyak menerima kesenangan dari Allah. Jangan sampai kesenangan tersebut membuat Anda lalai terhadap jalan-jalan lurus yang harus Anda lalui. Semoga kita semua mendapatkan pertolongan Allah, saudaraku!
 
 
TRI AGUNG SETYAWAN

Jumat, 09 Maret 2012

INTERAKSI DENGAN QUR'AN

Kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka senantiasa berinteraksi secara intensif dengan Kitab Suci ini di sepanjang kehidupan. Bagi mereka, Alquran adalah wirid (bacaan) harian, ibarat 'makanan' yang wajib dikonsumsi setiap hari sehingga ada yang mengkhatamkan bacaan Alquran setiap 10 hari, seminggu sekali, atau tiga hari sekali. Imam Syafi'i bahkan menuntaskan 60 kali bacaan Alquran pada setiap bulan Ramadhan. Tingkat minimal bacaan Alquran para sahabat adalah sebanyak tiga juz sehari, yaitu ketika mereka dalam keadaan semangat beramal menurun.

Komitmen mereka terhadap Alquran terbentuk sedemikian rupa karena keyakinan yang mendalam bahwa kunci kesuksesan, rahasia kemenangan, dan kebahagiaan hidup tersimpan di dalam Kitab Suci tersebut. Untuk menyingkap kunci dan rahasia tersebut tentu saja harus diawali dengan banyak membacanya (QS 29:45; 33:34), baik pada waktu malam maupun siang (ana'allail wa athrafannahar).

Intensitas membaca yang tinggi juga akan sangat memudahkan seseorang dalam menghafal Alquran. Langkah berikutnya adalah memahami bacaan tersebut (QS 3:7) dengan membaca terjemah dan tafsirnya. Selanjutnya, mengimplementasikan ajaran Alquran dalam kehidupan nyata (QS 2:121; 3:31) dengan cara berusaha ‘berkonsultasi’ dengan kitab pedoman hidup itu dalam menghadapi dinamika dan problematika kehidupan.