Rabu, 13 Mei 2009

KUNCI KEBAHAGIAAN

Saudaraku,... Setiap saat manusia selalu menuntut dirinya untuk menjadi bahagia. Mereka melakukan apa saja yang menurut mereka mampu mengantarkan kepada pintu-pintu kebahagiaan yang mereka inginkan. Padahal pintu kebahagiaan itu berlapis-lapis. Pintu kebahagian paling awal adalah kebahagiaan duniawi yang juga terdiri dari banyak pintu, seperti harta, wanita, makanan dan sebagainya. Apabila seseorang memasuki salah pintu tersebut, maka ia tidak akan terpuaskan sebelum menasuki pintu lainnya. Sedangkan pintu kebahagiaan paling akhir adalah kebahagiaan akhirat. Sebelum kita mampu mendekati pintu-pintu tersebut, maka yang harus kita mengerti adalah tentang kunci pembukanya. Sebab apabila seseorang mengetahui kunci-kunci tersebut, maka ia akan dapat menghimpun kedua jenis kebahagiaan tersebut dalan satu genggaman. Orang yang mampu mencapai pada tahapan ini tidak akan perduli dengan pencapaian duniawinya, karena ia telah sampai pada pintu kebahagiaan yang terbesar. Karena itulah seorang hamba Allah selayaknya harus memiliki kunci-kunci kebahagiaan tersebut. Rasulullah Saw bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapusnya dan berakhlaklah terhadap manusia denagn akhlak yang baik.” ( HR. Ath-Thabrani, dari Abu Dzar ) Melalui hadits tersebut, Muhammad Saw menunjukkan tiga jalan untuk memperoleh kunci kebahagiaan tersebut. Jika kita mampu memenuhinya, maka pintu surga yang berlapis-lapis itu dapat kita lewati dengan sangat mudah. Jalan yang pertama adalah bertakwa kepada Allah. Setiap pribadi muslim tidak saja dituntut untuk beriman kepada Allah, tetapi juga diwajibkan untuk bertakwa kepada-Nya. Bertakwa kepada Allah berarti kita menetapkan diri selalu berada di jalan-Nya yang lurus dan menghindari jalan-jalan yang sesat. Menurut An-Nashr Abadzy, seseorang dikatakan bertakwa apabila seorang hamba waspada terhadap segala sesuatu selain Allah SWT. Barang siapa menghendaki taqwa yang sempurna hendaklah menghindari setiap dosa. Takwa seseorang juga ditandai oleh sikap yang baik seperti, tawakkal terhadap apa yang belum dianugerahkan, berpuas diri terhadap apa yang sudah dianugerahkan, dan bersabar dalam menghadapi milik yang hilang. Apapun yang dituntut oleh Allah, maka penuhilah. Karena sesungguhnya dibalik tuntutan tersebut tersembunyi kebaikan yang sangat besar. Ibadah-ibadah yang kita kerjakan selain bermanfaat untuk kepentingan akhirat, juga akan memberikan keuntungan-keuntungan duniawi. Jika shalat dapat berlangsung khusyu’, maka Allah akan menjanjikan kebahagiaan ukhrawi bagi kita. Tetapi Allah juga secara tidak langsung memberikan kita kebahagiaan duniawi, seperti kesehatan, semangat hidup dan kemampuan untuk bertawakkal. Sesungguhnya diantara tawakkal dengan kebahagiaan duniawi terdapat keterkaitan yang sangat erat. Manusia yang bertawakkal adalah hamba Allah yang selalu bahagia dengan apapun yang diberikan Tuhannya. Ia akan menjadi sangat bahagia ketika mendapatkan nikmat yang sedikit, karena ia sadar beban tanggung jawabnya di akhirat akan menjadi lebih ringan. Begitu juga ketika ia mendapatkan nikmat yang banyak. Ia akan menggunakan nikmat-nikmat tersebut sebagai jalan takwa kepada Allah. Manusia bertakwa yang bertawakkal adalah seorang dermawan yang bertanggung jawab. Dan dengan melakukan amaliah seperti itulah kebahagiaan dunia dan akhirat mendekat kepadanya. Allah SWT berfirman, “.... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat : 13). Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali imran : 102). Demikianlah Allah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya keutamaan bertakwa kepada-Nya, dan Allah SWT tidak pernah lalai dengan janji-janji-Nya. Jalan yang kedua adalah melakukan perbuatan baik setelah mengerjakan perbuatan yang buruk. Allah adalah Dzat Yang Maha Penerima Taubat. Betapapun durhakanya seorang hamba, tangan Allah selalu terbuka kepada hamba-hamba-Nya yang hendak kembali ke jalan yang lurus. Dan dari sekian banyak dosa yang dilakukan oleh hamba-Nya hanya ada satu dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah, yaitu menyekutukan Allah. Salah satu bentuk perwujudan taubat seorang hamba adalah selalu melakukan perbuatan baik setelah mengerjakan perbuatan-perbuatan buruk. Melakukan perbuatan baik akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk yang pernah kita lakukan. Apabila seorang manusia gemar berjudi, berzina, mabuk-mabukan atau perbuatan-perbuatan buruk lainnya, maka ia harus mengekalkan hidupnya dengan menyantuni anak yatim, membantu orang teraniaya, melakukan ibadah-ibadah rabbani, atau perbuatan-perbuatan lain yang disukai Allah. Dan berbahagialah jika Allah memberikan kita kemuliaan mampu mengerjakan perbuatan-perbuatan baik tersebut dengan ikhlas. Artinya, perbuatan-perbuatan baik tersebut harus selalu diorientasikan hanya kepada Allah. Bukan untuk mendapatkan perhatian wanita idaman dan mertua atau kepentingan-kepentingan lainnya. Pertobatan terhadap perbuatan dosa tidak dapat diwujudkan dengan perbuatan baik yang tidak disertai dengan keikhlasan. Sikap mencari perhatian kepada makhluk akan membebani kita dengan dosa-dosa baru. Sehingga seyognyalah kita bertobat dengan ikhlas dan tetap melakukan perbuatan-perbuatan baik. Apabila semakin banyak perbuatan baik yang kita lakukan, maka semakin ringan pula dosa yang membebani kita. Pada saat seperti itulah Allah akan memberikan kita kebahagiaan yang sangat besar. Begitulah apabila Allah menyukai hamba-Nya yang hendak menyucikan diri dari kotoran yang melingkupinya. Meskipun begitu, kita janganlah memandang remeh perbuatan-perbuatan dosa karena kemurahan Allah tersebut. Kalau Anda mampu berbuat baik, maka berbuat baik sebanyak mungkin, hingga Anda tidak memiliki ruang lagi untuk berbuat dosa. Teruslah Anda berjuang di jalan ini dan jangan pernah putus asa terahadap rahmat Allah SWT yang akan melingkupi Anda sepenuhnya. Mengenai hal tersebut Allah SWT berfirman, “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ ” (QS. Az-zumar : 53). Tidakkah Anda bergembira terhadap pernyataan Allah tersebut? Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa Anda, tentunya apabila Anda juga bersegera diri bertobat kepada-Nya. Inilah titik tolak kebahagiaan yang hanya dapat Anda ketahui ketika Anda mampu berdekatan kepada-Nya. Rasakanlah kehadira-Nya dalam sisi kehidupan Anda, maka tidak akan ada satu hal pun dari dunia ini yang akan membuat Anda berduka. Dan itulah kebahagiaan yang sejati, saudaraku! Dan jalan kebahagiaan yang terakhir adalah berakhlak dengan akhlak yang baik, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Dan ini bukanlah perkara yang mudah. Karena ketika manusia menetapkan dirinya berada dalam akhlak yang baik, maka ia akan selalu berhadapan dengan syaitan yang terkutuk. Mereka tidak akan merelakan jika pintu-pintu kebahagiaan terbuka untuk manusia. Karena itulah mereka menawarkan kepada manusia pintu-pintu lain yang berujung pada penyesalan di hari akhir. Dan ketika itu terjadi maka manusia tidak akan mampu memperbaiki apa yang sudah dikerjakannya. Berkaitan dengan hal ini, kita dapat belajar kepada Rasulullah Muhammad Saw. Pada awal penyebaran Islam di Makkah, Rasulullah Saw menghadapi tentangan yang luar biasa dari kaum kafir Qurays. Beliau dicaci, dimaki, direndahkan, diludahi bahkan sempat mengalami percobaan pembunuhan. Tetapi beliau membalasnya dengan perlakuan yang paling baik. Rasulullah Saw membalas setiap umpatan, cacian, dan kutukan yang diperuntukkan kepadanya dengan senyuman yang paling tulus. Rasulullah Saw juga bersikap santun kepada orang-orang yang tidak pernah bersimpati kepadanya. Karena alasan inilah maka Allah SWT meninggikan kedudukannya diantara sekian banyak kekasih-Nya. Jika Anda mampu menempatkan diri kepada akhlak yang baik, maka berbahagialah, Anda akan mampu mendapatkan kunci-kunci kebahagiaan. Dengan kunci-kunci itulah, kebahagiaan yang Anda harapkan berada dalam genggaman Anda. Abu Said Al-Kharraz menyebutkan bahwa seseorang dapat disebut memiliki akhlak mulia apabila ia tidak berpengharapan kepada makhluk, kecuali kepada Allah SWT. Pernyataan ini menunjukkan kalau perbuatan baik selalu diawali dengan kekuatan tauhid yang kuat. Orang yang berpengharapan kepada makhluk, perbuatan baik yang dilakukannya akan tampak sebagai keburukan, baik di mata manusia dan Tuhan. Menolong orang yang kepayahan memang sebuah kebaikan, tetapi apabila pertolongan tersebut bertujuan untuk kepentingan pribadinya, tentunya perbuatan tersebut tidak lagi disebut sebagai sebuah kebaikan. Perbuatan baik hanya akan terlihat sebagai sebuah kebaikan yang utuh selama para pelakunya membersihkan niat yang melatarbelakanginya, termasuk juga dengan media yang digunakan. Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “Engkau tidak akan dapat memberikan kebahagiaan orang lain dengan hartamu, karenanya berilah kebahagiaan dengan wajah yang manis dan akhlak yang baik.” (HR. Al-Bazaar dan Hakim). Pernyataan Rasulullah Saw tersebut kembali menegaskan bahwa tanpa melibatkan akhlak yang baik, sebuah perbuatan baik (yang menggunakan harta yang banyak) tidak akan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Karena itulah seringkali disebutkan senyuman adalah pemberian yang luar biasa kepada orang lain. Untuk tersenyum Anda tidak perlu menggunakan harta yang berlimpah, cukup keikhlasan yang muncul dalam kebahagiaan di wajah Anda. Selama ini masyarakat kita lebih terpaku bahwa kebahagaian terletak pada banyaknya harta dan kemewahan yang dimiliki. Tetapi kenyataan memberitakan kepada kita bahwa memiliki harta yang banyak justru menimbulkan banyak kekhawatiran. Kecuali kalau Anda memiliki kebaikan hati yang akan membuat Anda kehilangan kekhawatiran terhadap kemewahan yang Anda miliki. Tahukah Anda, hidup itu akan sangat menyenangkan kalau dalam kehidupan manusia tidak merasa khawatir dengan keduniaan yang melingkupinya. Akhlak yang buruk menyempitkan hati para pelakunya. Sebab ia tidak memberikan ruang bagi apapun selain hawa nafsunya sendiri, dan hatinya menjadi seperti ruang sempit yang hanya cukup ditempati bagi pemiliknya sendiri. Sedangkan akhlak yang baik berarti Anda tidak peduli dengan siapapun yang berdiri di sebelah Anda dalam shaf ketika shalat. Suatu tanda keburukan akhlak adalah ketika Anda tertuju pada keburukan orang lain. Kunci-kunci kebahagiaan tidak akan terlihat oleh mata yang dipenuhi oleh nafsu. Kunci-kunci kebahagiaan tidak akan tersentuh oleh hati yang penuh kesombongan. Kunci-kunci kebahagiaan juga tidak akan tergenggam oleh tangan yang senantiasa menyakiti saudara-saudaranya. Sehingga sepantasnyalah kita menghindar diri sejauh mungkin dari sifat-sifat tercela, agar hingga kehidupan ini berakhir, kita tidak akan kehilangan kebahagiaan tersebut. Saudaraku,... Begitulah tiga jalan yang ditawarkan Rasulullah Muhammad Saw agar umat manusia mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Jika Anda sungguh berkeinginan memperolehnya maka jangan pernah ragu menapaki kunci-kuncinya. Jika Anda berhasrat besar untuk menggenggamnya maka jangan pernah berlalu darinya. Ketahuilah, kebahagiaan tidak pernah berada dalam gemerincing harta dan kilauan permata. Renungkanlah, bahwa mereka yang hidup penuh dengan kemewahan mengalami banyak kehinaan kerena enggan menempuh jalan yang ditawarkan Rasulullah Muhammad Saw.

IMAM SYAFI'I DAN DELAPAN TUNTUTAN

Pada suatu hari Imam Syafi’i ditanya, “Bagaimana keadaan Anda pagi ini?” Imam Syafi’i menjawab, “Aku sedang menghadapi delapan tuntutan, yaitu Allah SWT dengan kefardhuan-Nya, Rasulullah Saw dengan kesunahannya, zaman dengan segala ulahnya, keluarga dengan keperluan makan minumnya, malaikat pencatat dengan semua yang aku ucapkan, setan-setan dengan ajakan-ajakan maksiat, hawa nafsu dengan kesenangannya dan malaikat Izrail dengan pencabutan nyawaku sebagai tugasnya.” Saudaraku,... Seperti halnya Imam Syafi,i, kita pun harus menghadapi kedelapan perkara ini setiap hari. Sekarang marilah kita berbincang sebentar mengenai delapan tuntutan tersebut. Tuntutan yang pertama adalah Allah SWT dengan kefardhuan-Nya. Hak-hak atau kepentingan Allah berada di atas hak-hak atau kepentingan makhluk-Nya. Maksudnya adalah kita tidak selayaknya menuntut kepada Allah mengenai sesuatu apabila kita belum memenuhi hak atau kepentingan Allah terlebh dahulu. Ingatlah, kebaikan maupun kesenangan yang Anda nikmati hari ini adalah buah dari campur tangan-Nya. Karena itulah seorang hamba Allah tidak akan menunda waktu untuk memenuhi tuntutan Tuhannya. Jika hari ini Anda dapat tetap hidup dan mendapatkan banyak kesenangan, maka sepantasnyalah Anda mengagungkan nama-Nya. Jika hari ini masih berkemampuan berada di jalan-Nya, maka seharusnyalah Anda mengokohkan pijakan kepada-Nya. Allah senantiasa menuntut Anda untuk mencintai-Nya. Allah menuntut Anda untuk tidak mengacuhkan bersujud kepada-Nya. Allah menuntut Anda untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya. Dan sayangnya, tuntutan-tuntutan ini jarang Anda penuhi pada lima waktu yang telah Allah tentukan bagi Anda. Setiap saat Anda berkata, “Ya Allah, aku hamba-Mu dan aku beriman dan bertakwa kepada-Mu.” Bagaimana mungkin Anda mampu berkata seperti itu jika kepentingan-Nya tidak lebih penting daripada pacar Anda, bos Anda atau berhala-berhala Anda yang lain. Yang dimaksud dengan berhala adalah segala sesuatu yang dapat memalingkan Anda dari kecintaan kepada Allah. Ia dapat berupa bentuk tubuh Anda, ibadah-ibadah atau perbuatan baik yang Anda banggakan, pekerjaan-pekerjaan Anda, pacar Anda, bos Anda, atau ramalan-ramalan yang Anda yakini kebenarannya. Kita harus sepakat bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang layak untuk disembah dan dimuliakan. Kita harus menyakini hal ini dalam hati, menetapkan dalam ucapan dan mewujudkan dalam perbuatan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan-Nya. Siti Aisyah ra. berkata, “Barangsiapa cinta pada Allah akan memperbanyak ingat (dzikir) kepada-Nya dan sebagai balasannya Allah akan ingat kepadanya dengan rahmat dan pengampunan-Nya di dalam surga bersama Nabi-Nabi-Nya dan hamba-hamba kecintaan-Nya dan mendapat kehormatan melihat keagungan-Nya. ...” Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (QS. An-Nisa : 175). Demikianlah Allah SWT telah menjelaskan janji-Nya kepada kita. Dan selayaknyalah kita mulai bergegas terhadap tuntutan ini. Ingatlah, waktu kita semakin sempit, dan Anda pun tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan waktu sedetikpun untuk berpaling dari-Nya. Tuntutan yang kedua adalah Rasulullah Saw dan kesunahannya. Apabila Anda sungguh-sungguh mencintai Allah, maka Anda pun semestinya mencintai kekasih-Nya Muhammad Saw. Dan jika Anda mencintai Muhammad Saw, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk menyepelekan sunnah-sunnahnya. Setiap saat Anda dituntut seberapa jauh menepati sunnah-sunnah tersebut. Anda tidak diperkenankan hanya mengerjakan sunnah nabi yang Anda sukai dan meninggalkan yang tidak Anda disukai. Hal itu menunjukkan Anda tidak tulus mencintainya, yang berarti pula Anda tidak tulus mencintai Allah SWT. Sangat mengherankan, betapa Anda sangat menyukai berjudi, meskipun Kekasih Allah Muhammad Saw dan Tuhan Anda melarang dengan keras. Sangat membingungkan, betapa Anda sangat menyukai minuman keras, sementara Kekasih Allah Muhammad Saw dan Tuhan Anda meminta menjauhinya. Sangat memusingkan, ketika Anda tidak mengikuti jalannya Muhammad padahal mulut Anda tidak pernah berhenti berucap cinta kepadanya. Jika Anda sungguh-sungguh beriman kepadanya, maka penuhilah tuntutan-tuntutannya. Percayalah Anda tidak akan merugi kalau berada di dalam barisan Muhammad Saw. Shalat Anda tidak akan membuat Anda kelelahan, puasa Anda tidak akan membuat Anda kelaparan atau jatuh sakit, dan bershadaqah pun tidak akan membuat usaha Anda gulung tikar. Pernahkah Anda mendengar bahwa seorang muslim kelelahan ketika mengerjakan shalat? Pernahkah pula Anda mendengar seorang muslim yang jatuh sakit karena berpuasa? Dan pernahkah Anda mendengar seorang muslim yang rajin bershadaqah mengalami kesulitan ekonomi? Saudaraku, sepanjang sejarah agama ini tidak pernah tersiar kabar bahwa sunnah kekasih Allah Muhammad Saw memberikan dampak buruk bagi pengikutnya. Saudaraku,... Tuntutan yang ketiga adalah zaman dengan segala ulahnya. Zaman senantiasa berubah menciptakan beban yang sangat berat yang harus ditampung setiap individu yang berada di dalamnya. Apa yang terjadi hari ini berbeda dengan apa yang terjadi sebelumnya. Begitu juga pada masa-masa yang akan datang. Cara berpikir, berbuat bahkan orientasi akan menjadi berbeda. Jika pada zaman jahiliyah, Muhammad Saw dan para sahabatnya menegakkan bendera Islam melawan kaum musyrik, maka pada saat ini kita harus menegakkan bendera Islam melawan pemikiran-pemikiran atau perilaku-perilaku yang menyesatkan. Betapa sungguh berat menegakkan Islam di tengah cara hidup yang penuh kepalsuan. Renungkanlah apa yang sedang terjadi di lingkungan Anda. Orang bersyukur kepada Allah dengan memberi sesajen di sudut rumah atau ladang yang ditanami aneka tanaman. Padahal Muhammad Saw dan Tuhan Anda memerintahkan bershadaqah kepada kaum fakir sebagai perwujudan syukur. Ada pula yang berpendapat bahwa agama tidak boleh memasuki urusan negara. Padahal mengurusi negara sama artinya mengurusi kepentingan publik atau masyarakat. Bayangkan jika keputusan dari negara diberlakuikan kepada masyarakat tanpa pertimbangan agama. Bisa jadi akan terjadi kekacauan sistem dalam masyarakat. Ada lagi gejala zaman yang berupa pergaulan bebas. Beberapa saudara kita yang terseret ke dalamnya benar-benar telah bertelanjang. Islam yang ia kenakan ditanggalkan begitu saja. Jadi tidaklah mengherankan kalau ia pun akhirnya kehilangan kehormatan. Islam adalah mahkota kemuliaan yang membedakan manusia dengan binatang. Jika ia membuangnya maka kembalilah ia kepada kawanan binatang liar yang tidak mempunyai malu. Bukankah sungguh berat beban yang kita terima dari jaman ini? Kita dituntut bertanggung jawab senantiasa berada di jalan-Nya kepada zaman yang kita lalui. Allah SWT akan menepati janji terhadap orang-orang yang senantiasa beriman kepada-Nya. Tuntutan yang keempat adalah keluarga dan keperluan makan dan minumnya. Ketika seseorang memutuskan untuk berkeluarga, maka pada saat itu pula ia dituntut untuk menciptakan keluarganya selalu dalam keadaan bahagia. Ia harus menjaga agar keluarga tersebut selalu berada dalam jalan-Nya, tidak terkecuali urusan makan dan minumnya. Renungkanlah, dengan tubuh yang sehat dan tidak kelaparan, keluarga Anda akan mengabdi kepada Allah SWT dengan baik. Mereka akan bersemangat mengoptimalkan apa yang sudah diberikan Allah. Bayangkanlah apabila keluarga Anda tidak tercukup kebutuhan makan dan minumnya. Istri Anda mungkin tidak akan mampu melayani Anda dengan sempurna seperti yang diminta Allah SWT. Begitu juga dengan anak-anak Anda. Mereka tidak akan mampu mengoptimalkan kecerdasan yang diberikan Allah. Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “Jika seorang laki-laki memberi nafkah kepada keluarganya dengan ikhlas karena Allah, maka ia mendapatkan pahala sedekah karenanya.” ( Al-Hadits). Beliau juga bersabda, “Cukuplah sebagai dosa bagi seseorang, menelantarkan orang yang nafkahnya menjadi tanggung jawabnya.” ( HR. Abu Dawud). Pada kesempatan lain Rasulullah Saw bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dengan tidak meminta-minta, maka Allah akan menjaga kehormatannya. Barang siapa merasa cukup maka Allah akan mencukupinya. (Al-Hadits) Tetapi Anda pun harus mengerti bahwa pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini harus dalam batas yang wajar. Tahukah Anda apabila tanaman disiram tanpa memperhatikan kebutuhannya, maka ia akan layu dan pertumbuhannya pun akan menjadi tidak sehat? Begitu juga halnya dengan manusia. Pemenuhan kebutuhan tanpa batas akan membuat Anda lupa bersujud kepada-Nya. Padahal kebutuhan-kebutuhan tersebut difungsikan untuk mengantarkan Anda mencintai-Nya. Lalu bagaimana dengan kemiskinan yang membuat sebagian besar saudara kita tidak mampu mencukupi kebutuhan makan dan minum keluarganya? Mengenai hal ini, cobalah Anda perhatikan kehidupan Kekasih Allah Muhammad Saw. Pemahaman Rasulullah Saw terhadap kemiskinan sungguh luar biasa. Beberapa kali Rasulullah menyatakan bahawa kemiskinan mampu mendekatkan kita pada pintu-pintu surga. Kemiskinan membuat tubuh menjadi peka terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kemiskinan juga membuat semakin ringan beban tanggung jawab di hari perhitungan. Tetapi kemiskinan juga telah membuat sebagian saudara kita berlindung kepada syaitan yang terkutuk. Sehingga kita pun harus semakin waspada agar kemiskinan-kemiskinan tersebut tidak menjauhkan kasih sayang Allah dari kehidupan kita. Berapapun harta yang Anda punya, sekecil apapun pendapatan Anda atau sesusah apapun pekerjaan Anda, Anda tidak berhak menelantarkan keluarga Anda. Walaupun hanya sesuap nasi atau seteguk air, Anda tetap dituntut memberikannya kepada mereka. Apapun keadaan Anda, baik kaya atau miskin Anda tetap dituntut mencukupi kebutuhan mereka dimana Anda menjadi pemimpinnya. Tuntutan yang kelima adalah Malaikat pencatat dengan apa yang kita lakukan. Malaikat-malaikat pencatat Allah lebih dekat dengan kita daripada urat nadi kita sendiri. Mereka selalu menyertai kita. Apapun yang kita ucapkan, apapun yang kita lakukan dan apapun hasil dari ucapan dan pekerjaan itu tidak lepas dari pengamatan Allah. Kita memang tidak memiliki kemampuan mengetahui catatan-catatan-Nya. Tetapi, renungkanlah seberapa baik atau burukkah catatan tersebut. Berkaitan dengan keberadaan para malaikat, Allah berfirman, “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (QS. Al-Infithaar : 10-11). Allah SWT dalam ayat yang lain juga berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaaf : 16-19 ) Malaikat pencatat selalu bersama kita, menulis apapun yang terlintas di pikiran dan terwujud dalam perbuatan. Tetapi kita seolah-olah menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sepele. Yang hendak berzina ya tetap berzina, padahal malaikat allah selalu berda di sampingnya. Yang hendak berjudi ya tetap saja berjudi, padahal malaikat Allah sudah menulis apa yang sudah Anda kerjakan. Yang hendak korupsi ya tetap saja korupsi, padahal malaikat Allah tidak pernah lengah terhadap segala sesuatu yang ia kerjakan. Sekarang yang harus dipahami adalah bahwa malaikat pencatat Allah senantiasa menuntut kita bertanggung jawab dengan apa yang kita kerjakan. Mereka menuntut kita dengan catatan-catatannya. Jadi sadarilah dengan apa yang sudah kita miliki bahwa kita tidak akan pernah lepas dari pengamatan Allah dan malaikat-malaikat-Nya. Tuntutan nyang keenam adalah syaitan dengan ajakan-ajakan maksiat. Sejak pertama kali Nabi Adam diciptakan hingga sekarang, syaitan dan bala tentaranya tidak pernah beristirahat untuk mengantarkan kita kepada pintu-pintu Neraka dan sarana-sarananya. Mereka adalah musuh umat manusia yang luar bisa hebat. Ketika Anda hendak tidur, maka syaitan tetap membuka mata untuk memikat hati Anda. Ditunjukkanlah kepada Anda dunia yang penuh kemewahan. Ditunjukkanlah kepada Anda kenikmatan seksual yang tidak ada habisnya. Ditunjukkanlah kepada Anda betapa mudah menjadi kaya melalui penyerahan diri kepada iblis dan perilaku-perilakunya yang menyesatkan. Ditunjukkan kepada Anda betapa menyenangkan melakukan korupsi dan menengggelamkan diri dalam pergaulan bebas. Ditunjukkan pula kepada Anda kenikmatan menggauli minuman keras dan meninggalkan apa yang sudah dihalalkan untuk Anda. Allah SWT berfirman, “Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang lalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. Ibrahim : 22 ). Saudaraku,... Syaitan, iblis dan teman-temannya selalu menuntut kita untuk mengikuti jalannya. Mereka menjanjikan surga kepada Anda, padahal mereka pun tidak mendapatkan surga dari Dzat yamg memiliki surga. Ketika syaitan menjanjikan surga kepada Anda, maka percayalah bahwa sesungguhnya mereka telah melakukan kebohongan. Tidak ada surga atau kebaikan-kebaikan lain bersama mereka. Kalau Anda menginginkan surga dan sarana-sarana yang mendekatkan Anda kepadanya, maka mintalah kepada Dzat yang memiliki surga, yaitu Allah SWT. Kalau Anda mengharapkan kemudahan di dunia dan akhirat maka janganlah Anda menjauhkan diri Anda dari Dzat yang memberi banyak kemudahan, yaitu Allah SWT. Sekarang Anda harus semakin waspada dengan seruan-seruan syaitan, baik berupa bisikan iblis maupun rayuan manusia yang menyesatkan. Mereka tidak akan berhenti menuntut Anda menuju jalan-jalan gelap. Jadi peganglah lebih erat obor-obor dari dari Tuhan, agar jalan lurus yang ditunjukkan Allah bagi Anda terlihat lebih jelas. Dan Anda pun dapat selamat dari tuntutan-tuntutannya. Tuntutan yang ketujuh adalah hawa nafsu dengan kesenangan-kesenangannya. Allah menciptakan hawa nafsu kepada manusia, agar manusia-manusia tersebut dapat menciptakan semangat-semangat positif dengan nafsu dimilikinya. Sehingga Allah pun menciptakan otak agar kita berkemampuan mengarahkan hawa nafsu di jalan-Nya. Perhatikanlah, bagaimana sebagian besar dari kita memperlakukan nafsu mereka. Mereka tidak memberikan kendali dengan benar, sehingga hawa nafsu merugikan diri mereka sendiri, bahkan tidak jarang pula merugikan orang lain. Hawa nafsu memang mengajak seseorang kepada kesenangan, tetapi kesenangan-kesenangan itu pun harus dalam batas yang sewajarnya. Memilki nafsu kepada dunia bukanlah hal yang salah jika berada dalam koridor ketaatan kepada Allah. Bukankah dengan nafsu-nafsu tersebut, manusia menjadi bergairah menjalani fungsi sebagai makhluk Tuhan. Dan yang salah adalah jika kesenangan-kesenangan itu melalaikan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (QS. Maryam : 59-60 ) Hawa nafsu tersebut akan berada dalam kondisi seperti saat ia dititipkan Allah kepada manusia, apabila ia ditempatkan ke dalam hati yang senantiasa berdzikir kepada-Nya. Jika hawa nafsu mengajak Anda kepada banyak kesenangan yang menyesatkan, ingatlah Allah yang memberikan banyak kegembiraan. Jika hawa nafsu menuntun Anda kepada kesenangan tanpa kendali, maka tambatkanlah ia kepada rasa cinta yang luar biasa kepada Allah SWT dan kekasih-Nya. Jika hawa nafsu merayu Anda kepada kesenangan yang menyengsarakan, maka lemparkanlah kepada pembalasan Allah yang mengerikan. Tuntutan yang kedelapan adalah Malaikat Izra’il dengan pencabutan nyawa sebagai tugasnya. Kehidupan dan kematian adalah urusan Allah. Ia menitipkannya kepada makhluk-Nya dan Ia pulalah yang kelak akan mengambil titipan tersebut. Malaikat Izra’il yang diperintah Allah mengambil titipan tersebut. Ia dapat datang kapan saja dan dimana pun saja. Mungkin setelah Anda minum seteguk air, mungkin setelah Anda mencicipi ayam goreng dari tetangga, atau ketika Anda bertamu ke kerabat terdekat. Sebagai seorang hamba yang mengharapkan pertemuan dengan Sang Majikan, maka kita pun semestinya menyambut dengan penuh kegembiraaan datangnya ajal. Masalahnya adalah sudah siapkah kita bertemu dengan Allah? Atau yakinkah kita kalau setelah nyawa tidak lagi melekat, kita berada di surga-Nya dan bukan mendekam di neraka-Nya? Karena itu, sudah selayaknyalah kita mempersiapkan sebaik mungkin pertemuan kita dengan Malaikat Izra’il, sehingga ketika ia datang, kita dapat berkata kepadanya, “Ayo antarkan aku kepada Tuhanku yang Maha Mulia, Allah SWT.” Dan malaikat Izra’il pun mengambil titipan-Nya dengan cara yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Bukankah itu cara yang sangat indah untuk menemui Allah, saudaraku? Allah SWT berfirman, “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.” (QS. Al-An’am : 61-62) Saudaraku,... Demikianlah delapan tuntutan yang harus kita hadapi setiap hari. Mohonlah kepada Allah agar kita senantiasa mampu menghadapi tuntutan-tuntutan tersebut dengan hati yang ikhlas, sebagaimana Rasulullah Muhammad Saw menghadapinya. Amiin !

Jumat, 17 April 2009

MENGHARAP RIDHA ALLAH

Saudaraku,... 

Apakah Anda pernah menyadari bahwa kekuatan terbesar seorang muslim untuk mendekat kepada Tuhannya adalah ridha Allah SWT terhadap kehidupan yang ia jalani? Untuk mengetahui kekuatan ini seseorang haruslah mampu mengenali dirinya sendiri, terutama tujuan hidupnya. Apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini dan apa saja yang telah kita lakukan untuk mencapainya? Berhati-hatilah menentukan tujuan hidup Anda, karena masa depan akhirat Anda bergantung kepada tujuan-tujuan tersebut. Tujuan kehidupan manusia dibedakan menjadi dua bagian. Bagian pertama, tujuan tersebut diletakkan pada sisi keduniaan. Hal-hal yang melingkupi bagian ini adalah kecenderungan yang besar kepada perkara-perkara duniawi. Maka perbuatan-perbuatan maupun amalan ibadah yang dilakukan pada akhirnya selalu berujung pada pengharapan kepada makhluk dan nilai-nilai kebendaan yang fana. Dan orang-orang yang selalu berkutat dengan tujuan-tujuan ini tidak akan merasa terpuaskan, walupun seluruh dunia sudah berada di dalam genggamannya. Yang lebih menakutkan lagi, ridha Allah tidak pernah melingkupi tujuan-tujuan ini. Sedangkan pada bagian yang kedua, tujuan-tujuan tersebut diletakkan pada sisi akhirat. Seseorang yang menetapkan tujuan hidupnya pada bagian ini akan memiliki kecenderungan yang kuat kepada Tuhannya. Diantaranya diwujudkan dalam amalan-amalan akhirat yang intens. Tujuan-tujuannya senantiasa berkaitan dengan keridhaan Allah. Apa yang dilakukan hari ini maupun esok hari haruslah seirama dengan kehendak-kehendak Allah. Sehingga amal perbuatannya akan terpelihara dari kesia-siaan. Abdul Wahid bin Zaid ra berkata, “Ridha merupakan merupakan pintu Allah yang terbesar, surga dunia, dan kenyamanan para ahli ibadah.” Ungkapan ini memiliki tiga alasan yang menjelaskan mengapa orang yang beriman sangat mengharapkan ridha Allah terhadap kehidupan yang mereka jalani. Alasan yang pertama menyebutkan bahwa ridha Allah adalah pintu Allah yang terbesar. Pintu ini mendekatkan seorang hamba dalam penghambaannya kepada Sang Khaliq. Renungkanlah bagaimana ridha Allah SWT melingkupi hamba-hamba-Nya. Seorang muslim harus mampu menepati perjanjiannya dengan Allah terhadap kebenaran yang datang dari Tuhannya. Bersamaan dengan ketaatan ini, maka Allah akan meridhai setiap helaan nafasnya. Dan ketika Allah memberikan pintu ridha-Nya, maka tidak ada sesuatu hal pun yang mampu membuatnya bersedih. Kesusahan dan kepayahan hidup yang ia alami seperti garam yang terlarut dalam lautan, kesusahan tersebut tenggelam dalam kesenangan mendapat perhatian dari Tuhannya. Kedekatan dengan Allah dan ridha yang menyertainya jauh lebih besar dari penderitaan yang dialami manusia. Sehingga baginya tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada kedekatan dengan Allah SWT. Pada tingkatan yang lebih tinggi, seorang muslim bahkan tidak peduli apakah ia akan masuk neraka atau surga. Karena baginya keridhaan Allah SWT jauh lebih mahal dan bernilai daripada keindahan-keindahan surga. Karena ia pun mengetahui bagi hamba Allah yang mampu meridhai setiap ketetapan Allah dengan baik dan Allah pun ridha dengan penghambaanya, maka Allah akan memberikan kepadanya nikmat yang jauh lebih besar dan menyenangkan daripada surga. Kebahagiaan itulah yang sebenarnya sangat diharapkan oleh setiap muslim di dunia. Alasan yang kedua menyebutkan bahwa ridha Allah adalah surga dunia. Sesungguhnya apabila Allah SWT telah berketetapan memberikan kekuatan ridha kepada hamba-Nya, maka dunia tidak akan mampu menekan hidupnya. Ia hanya melihat dunia sebagai kesenangan-kesenangan yang diberikan oleh Tuhannya. Ia hanya menemukan dunia sebagai rangkaian kebahagiaan. Meskipun dalam pandangan orang lain ia tampak sebagai orang yang kekurangan. Jika ia adalah orang yang miskin dalam pandangan dunia, maka ia adalah orang miskin yang berkecukupan dengan hartanya yang sedikit. Demikian juga apabila ia memiliki harta yang berlimpah, maka hartanya sungguh tidak akan membebani dirinya. Orang yang ridha terhadap keputusan maupun ketetapan Allah dan Allah pun ridha terhadap terhadap dirinya, maka surga dunia akan melingkupi setiap sisi kehidupannya. Hidupnya dipenuhi dengan kebahagiaan dan barokah yang tidak ada henti-hentinya. Sedangkan alasan yang ketiga menyebutkan bahwa ridha merupakan kenyamanan ahli ibadah. Sebagian besar saudara kita belum benar-benar menyadari tentang kenyamanan maupun kegelisahan yang akan mendatangi kehidupan ibadah mereka. Keridhaan manusia terhadap kehidupan yang sedang mereka jalani akan memberikan kenyamanan dan kedamaian saat mereka beribadah kepada Allah, baik ibadah yang terkait langsung dengan Allah maupun ibadah-ibadah yang berhubungan dengan manusia. Ada semacam jaminan bahwa ketika mereka ridha dengan ketetapan Tuhannya, maka kehidupan mereka akan dijaga oleh Tuhannya. Tentang bagaimana Allah menjaga kehidupan mereka, hanya mereka sendiri yang mengetahui. Sekarang saya ingin mengajak Anda mengkondisikan diri Anda dalam kenyamanan beribadah kepada Allah. Yang pertama, Anda yakinkan diri Anda bahwa setiap hari, termasuk hari ini, Anda tidak pernah kekurangan nikmat dari Allah. Lalu selanjutnya pikirkanlah mengenai ibadah-ibadah yang Anda lakukan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Dan yang terakhir, buatlah kesimpulan atas diri Anda dalam kedudukannya sebagai hamba Allah. Saudaraku, ... Perasaan nyaman dalam setiap kondisi baik itu yang berkaitan dengan kehidupan rohani maupun jasmani, bergantung kepada perasaan berkecukupan pada setiap manusia. Semakin kuat kesadaran terhadap kenikmatan atau kesenangan yang diperoleh maka perasaan nyaman terhadap hidup yang sedang dijalani pun akan semakin kuat. Dalam hubungannya dengan kenyamanan beribadah kepada Allah, faktor ini mutlak harus dipenuhi. Ketika Anda mengerjakan shalat atau berdizikir, maka pusatkanlah setiap kesadaran tehadap kekuasaan Allah yamg membuat Anda mampu melakukan amal perbuatan tersebut. Bergembiralah terhadap kekuatan iman dan Islam Anda, kemampuan finansial Anda, kesehatan Anda maupun keluarga Anda yang menyenangkan. Apabila kesadaran ini sudah sangat mengakar di dalam hati kita, maka shalat, dzikir, puasa maupun ibadah-ibadah yang lainnya akan terasa sangat menyenangkan. Sudahkah Anda memikirkan amal perbuatan Anda hari ini atau hari-hari sebelumnya atau pada masa yang akan datang? Mata hati Anda akan selalu menemukan keridhaan Allah di setiap sisi kehidupan Anda. Sungguh Anda tidak akan merasa susah ketika sampai pada titik ini. Ketika Anda shalat, maka tanamkanlah dalam hati Anda bahwa saat ini tidak ada yang dapat mengganggu Anda berdekatan demgan Allah. Ayolah sampaikan pada Allah apa yang membebani hidup Anda. Allah pasti tidak akan keberatan melepaskan beban Anda atau menggembirakan hidup Anda atau menghilangkan kedukaan Anda. Jadikanlah shalat Anda tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban menegakkan agama Anda, tetapi jadikanlah pula sebagai kegembiraan bagi Anda berdekatan dengan Allah. Ingatlah, apabila Anda bergembira berdekatan dengan Allah, maka Anda pun akan bergembira menjalani kehidupan Anda. Karena Allah tidak akan membiarkan dunia membebani orang-orang yang bergembira berdekatan dengan-Nya. Jadikanlah juga puasa Anda sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah secara penuh. Pada saat Anda berpuasa sebenarnya Anda diajak untuk mengenali diri Anda sendiri, yang pada akhirnya akan menuntun Anda untuk mengenali Allah dan sifat-sifat-Nya. Bukankah ketika Anda berpuasa Anda merasa lemah dan tidak bertenaga hanya karena hari itu Anda tidak diperboleh makan dan minum hingga waktu berbuka tiba? Dan bukankah saat itu pula Anda lebih mudah mengenali Allah dan kebesaran-kebesaran-Nya? Bahwa Allah tidak seperti makhluk-Nya. Allah berkuasa untuk membuat Anda lemah dan tidak berdaya, dan Allah juga berkuasa untuk membangkitkan Anda dari kepayahan. Pada titik inilah Anda seharusnya mampu mengenali tujuan-tujuan Anda. Dan menanyakan kepada diri Anda sendiri apakah ibadah-ibadah yang Anda lakukan mengarahkan diri Anda kepada tujuan-tujuan tersebut. Proses perenungan itulah yang harus benar-benar kita pahami. Hal ini pada akhirnya akan mengarahkan Anda kepada kesimpulan mengenai kedudukan Anda sebagai hamba Allah. Menjadi hamba Allah berarti Anda menerima dengan kegembiraan apa pun yang ditetapkan Allah bagi Anda. Anda tetap shalat dengan kerinduan yang menggebu-gebu kepada Allah ketika Anda kepayahan menjalani hidup ini. Anda tetap berpuasa dengan cinta yang meluap-luap kepada Allah, ketika tubuh Anda didera masalah yang tidak pernah berhenti. Dan Anda juga tetap berada di jalan-Nya meskipun hari ini Anda adalah seorang fakir yang terlantar. Tetapi jika Anda menemukan diri Anda tidak sepenuhnya menerima ketetapan Allah yang diberlakukan bagi Anda dan hamba-hamba-Nya yang lain, maka perbaikilah hubungan Anda dengan Allah. Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa yang dirahasiakannya maka Allah akan memperbaiki apa yang dilahirkannnya (terang-terangan).” (HR. Hakim ). Para sahabat Rasulullah Saw adalah pribadi yang benar-benar paham tentang kekuatan ridha. Karena itu pula, kita mengenal mereka sebagai kekuatan Islam yang luar biasa. Mereka mencintai Allah, mereka mencintai utusan-Nya, mereka mencintai jalan-Nya, mereka mencintai keputusan-Nya dan mereka juga mencintai ketetapan-Nya. Hal ini setidaknya dapat terlihat dari ucapan-ucapan mereka. Abu Darda ra. pernah mengungkapkan bahwa apabila Allah menetapkan suatu keputusan, Ia menyukai bila keputusan-Nya itu diridhai oleh manusia. Senada dengan Abu Darda ra, Ibnu Mas’ud ra berkata, “Sesungguhnya berkat kebijaksanaan dan keadilan-Nya, Allah menjadikan ketentraman dan kegembiraan berada dalam keyakinan dan ridha, dan menjadikan kegundahan dan kesedihan berada dalam keraguan.” Sedangkan Umar bin Khaththab ra berkata, “Sesungguhnya semua kebaikan itu terletak pada ridha. Jika engkau memiliki kemampuan untuk meraihnya, maka raihlah ridha itu; dan jika engkau tidak mampu, maka bersabarlah!” Saudaraku,... Cintailah Allah dengan mencintai ketetapan dan keputusan-Nya. Ridhailah apa yang diberlakukan Allah bagi Anda, maka Allah pun meridhai kehidupan Anda. Dan ketika Allah meridhai hidup Anda, sungguh Anda adalah orang yang paling kaya. Dalam keadaan seperti itu, Anda seperti memperoleh kekuatan yang akan menegakkan punggung Anda dan menguatkan pijakan Anda pada jalan yang lurus. Selanjutnya dengan kekuatan ridha yang luar biasa tersebut, Anda dapat berjihad menegakkan Islam kapanpun dan dimana pun Anda berada. Dan tetaplah tersenyum saudaraku. Allah SWT akan memberikan balasan yang menyenangkan bagi Anda.

MENELUSURI AYAT AYAT ALLAH

Saudaraku,… Kita sudah lama berbicara tentang kebenaran dan badan pun terasa mulai lunglai. Kita telah berjalan dan berlari mengibarkan bendera Islam melewati jalan yang rata, jalan yang tidak rata, lembah yang curam bahkan sungai dan lautan yang dalam. Sebagian dari saudara kita tidak mampu meneruskan perjalanan, seperti terhenti seketika lalu kembali ke tempat asalnya atau meninggal dunia dengan kebanggaan berjihad di jalan-Nya. Sebagian lagi dengan jumlah yang sangat sedikit melanjutkan perjalanan demi kecintaan mereka kepada Tuhan-Nya, Allah Azza wa Jalla. Karena itulah saya mengajak Anda dan saudara-saudara kita yang lain bersyahadat kembali, agar untuk kesekian kali kekuatan iman kita berlipat-lipat. Dan untuk menambah kekuatan tersebut, marilah kita berpikir sejenak tentang ayat-ayat Allah. Saya yakin apabila kita mampu menghimpun energi dari setiap ayat-ayat Allah tersebut, maka kekuatan kita untuk menegakkan Islam menjadi lebih besar dan mampu memberikan pengaruh yang berarti bagi lingkungan yang bersangkutan. Al-Qur’an mendefinisikan ayat-ayat Allah dengan berbagai pengertian yang dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu, ayat-ayat kauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Yang dimaksud ayat-ayat kauliyah adalah ayat-ayat dalam pengertian sebenarnya sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ia berupa firman-firman Allah kepada Nabi Muhammad Saw dan umatnya, tidak terkecuali untuk manusia generasi sekarang. Kita tidak akan berbicara banyak tentang ayat-ayat kauliyah, hanya sebagai gambaran bahwa di dalam ayat-ayat ini terdapat mukjizat yang luar biasa. Apabila Anda mampu mengambil hikmah dan pelajaran di dalamnya, maka Anda akan memperoleh pertolongan yang sejati. Banyak pemikir-pemikir muslim yang menyandarkan gagasan-gagasannya berdasarkan kandungan Al-Qur’an. Karena itulah, Al-Qur’an disebut sebagai Kitab Pengetahuan Terbesar. Sedangkan yang dimaksud yang dimaksud ayat-ayat kauniyah adalah ayat-ayat Allah yang tidak tertulis. Ayat-ayat ini biasanya berupa fenomena alam dan gejala perubahannya yang menunjukkan kepada kebenaran dan keberadaan-Nya. Tetapi sayangnya, tidak semua orang mampu menemukan dan membaca ayat-ayat tersebut. Allah menegaskan bahwa hamba-Nya yang mau berpikir tentang ciptaan-Nya sajalah yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran tersebut. Pada pembicaraan ini kita akan mengupas lebih lanjut tentang ayat-ayat kauniyah yang banyak tersebar di seluruh penjuru alam semesta ini. Berpikir tentang ayat-ayat ini adalah berpikir tentang tanda-tanda kekuasaan-Nya dan kebenaran yang menyertai firman-firman-Nya. Apa saja yang melekat pada diri seorang manusia maupun lingkungan yang bersangkutan memberikan pelajaran yang baik. Pada dasarnya manusia sangat dekat dengan ayat-ayat Allah bahkan dirinya sendiri adalah bagian kecil dari ayat-ayat tersebut. Maka dari itu, apabila Anda hendak mencari ayat-ayat yang tidak tercatat dalam Al-Qur’an, pertama kali yang harus Anda lakukan adalah mengenali diri Anda sendiri. Setidaknya Anda harus mengetahui asal mula kejadian Anda, dan mengapa Allah memulai perjalanan kehidupan Anda dari setetes air yang hina. Lalu kembangkanlah pertanyaan ini menjadi seribu pertanyaan tentang kesempurnaan Anda sebagai makhluk-Nya yang terhormat. Percayalah Anda akan menemukan bahwa Allah adalah kreator sejati di alam semesta ini. Setelah Anda mampu mengenali diri Anda sendiri (baik yang buruk dan baik), maka tahap selanjutnya Anda harus mampu membaca tanda-tanda yang ditampakkan Allah bagi Anda. Tetapi sebelumnya, yakinkan dulu pada diri Anda bahwa keimanan yang berada dalam diri Anda akan membuka hijab yang menghalangi Anda. Karena Allah akan menunjukkan tanda-tanda-Nya hanya kepada hamba-Nya yang beriman. Dan selama iman itu tidak tertanam kuat dalam hati Anda, maka yang Anda lihat hanyalah sekedar benda-benda duniawi. Anda tidak akan mampu menemukan dan membaca kebenaran Allah dari benda-benda tersebut. Karena itu pulalah, Anda semestinya menanamkan keimanan pada setiap sudut hati Anda sehingga ayat-ayat-Nya akan tampak jelas bagi Anda. Sudah saatnya bagi Anda membuka mata lebih lebar dan membuka pikiran Anda lebih tajam. Lalu carilah ayat-ayat Allah yang bertebaran di seluruh semesta ini dengan semangat yang menggelora. Saya akan mengantarkan Anda menemukan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Saudaraku... Apabila Anda memiliki waktu luang, maka pergilah ke taman terdekat yang banyak pepohonannya. Anda cukup duduk di bangku taman dan memperhatikan apa yang terjadi dengan lingkungan di sekitar Anda. Saya ingin Anda memperhatikan daun yang masih melekat di dahannya maupun yang jatuh berserakan di sekitar Anda. Daun tersebut memiliki bentuk, warna dan ukuran yang berbeda-beda. Bukankah inilah yang membuat Anda betah berlama-lama berada di taman tersebut? Perhatikan pula bagaimana daun-daun itu jatuh dari tangkainya. Sebagian ada yang jatuh di kolam ikan, di tangkai-tangkai mawar, sebagian lagi jatuh di ubin keramik yang indah, dan sisanya jatuh digenangan lumpur. Lalu perhatikan juga bagaimana kondisi daun-daun yang berjatuhan tersebut. Bukankah daun yang berjatuhan tidak hanya daun yang kering, bersamanya berjatuhan pula daun yang masih muda. Ini adalah ayat-ayat Allah yang ditampakkan bagi Anda. Sudahkah Anda berpikir tentangnya? Sesungguhnya daun-daun tersebut adalah perumpamaan kehidupan manusia. Jika sebuah taman menjadi sangat indah karena adanya keragaman warna maunpun bentuk daun tanaman-tanamannya, maka demikian pula hidup ini. Ia menjadi indah karena keanekaragaman pemikiran para penghuninya. Ini juga mengandung pengertian bahwa kita tidak boleh memaksakan kebenaran-kebenaran yang kita yakini kepada orang lain. Karena hakekatnya, kebenaran satu akan menuntun kepada kebenaran-kebenaran yang lain pada arah yang sama. Anda tidak perlu khawatir tentang kelangsungan kebenaran yang Anda miliki, karena ia tidak akan tergerus oleh zaman yang semakin tua. Daun-daun itu juga menunjukkan kepada kita tentang kehendak-kehendak Allah yang tidak bisa ditolak. Ia mengajarkan kepada kita bagaimana harus menyikapi kematian. Walaupun Anda sekuat Superman atau Gatotkaca bahkan sekaya milyuner dunia, sungguh Anda tidak akan mampu menyurutkan langkah kematian untuk menjauhi Anda. Bukankah daun-daun itu memberi pemahaman kepada Anda bahwa Anda tidak akan pernah mengetahui akhir perjalanan hidup Anda. Apakah seindah ketika dedaunan tersebut jatuh di tengah harumnya bunga mawar, dan berkilaunya ubin keramik atau bahkan akhir hidup Anda seburuk ketika dedaunan tersebut jatuh digenangan lumpur. Apabila Anda memikirkan dedaunan tersebut dengan hati Anda, maka Anda akan mempersiapkan bekal perjalanan hidup Anda sebaik-baiknya. Saudaraku,... Setelah Anda sibuk mencari makna dari dedaunan, saya anjurkan Anda memperhatikan bebatuan yang berada di tepian jalan raya maupun jalan setapak yang sering Anda lalui. Letaknya yang tidak beraturan seperti hendak menunjukkan kalau ia bukanlah bagian dari perencanaan yang besar. Bayangkanlah kalau kerikil-kerikil itu berada di tengah jalan. Apakah kendaraan yang melewatinya berhenti kemudian menyingkirkannya ketepian. Tentu saja kerikil-kerikil itu dilindas dengan begitu saja oleh kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang. Lalu bayangkanlah pula yang berada di tengah jalan itu adalah sebuah batu yang besar. Tentu saja, kendaraan yang lewat akan berhenti untuk menyingkirkannya. Bahkan mereka akan berpikir ulang untuk menempatkannya sembarangan. Pernahkah Anda berpikir bagaimana batu tersebut memberikan manfaat? Tengoklah taman-taman yang berada di Jepang. Pada taman-taman tersebut batu dengan ukuran yang cukup besar mendominasi pada setiap sudutnya. Sehingga kita pun percaya bahwa batu itu membuat taman-taman di Jepang terlihat sangat menakjubkan. Sudahkah Anda mengerti apa yang hendak Allah ungkapkan kepada Anda melalui batu-batu tersebut? Sesungguhnya batu-batu itu memberi pelajaran kepada Anda bagaimana menjadi muslim yang baik. Pilihannya tergantung kepada Anda, apakah hendak menjadi muslim dengan iman seringan kerikil atau menjadi muslim dengan iman seberat batu besar. Apabila Anda memutuskan untuk beriman kepada Allah dengan iman seringan kerikil, maka Anda harus waspada dengan iblis dan kroco-kroconya yang berlalu lalang di sekitar Anda, bahkan mungkin juga bercakap-cakap dengan Anda. Iblis itulah yang akan membuat iman Anda terpelanting kesana kemari sesuai dengan kehendak-kehendaknya. Bahkan jika sang iblis menghendaki Anda untuk menginjak-nginjak Islam, maka Anda akan menurutinya begitu saja. Tujuannya sangat jelas, yaitu ia hendak menyesatkan Anda pada jalan gelap yang tidak berujung. Kecuali jika iman Anda yang seringan kerikil itu diletakkan bersama-sama bebatuan yang lain pada sebuah taman yang indah. Dalam keadaan seperti itu maka iman Anda akan belajar kepada lingkungannya untuk menjadi muslim yang baik. Ia akan belajar kepada batu-batu besar maupun batu artifisial untuk memupuk kekuatan imannya pada tingkatan yang lebih baik. Ia juga akan belajar kepada tanaman-tanaman hias bagaimana mensinergikan setiap potensi yang dimiliki untuk menciptakan taman yang indah. Sebaliknya, jika iman Anda seperti batu yang besar maka berbahagialah karena iblis tidak akan mampu menyesatkan Anda. Bahkan dunia pun akan tunduk terhadap keinginan-keinginan Anda. Iman Anda akan mampu menciptakan pribadi maupun lingkungan yang mengagumkan. Saudaraku,... Allah SWT berfirman, “Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. ( QS. Ar-Rad: 2-4). Alam semesta ini menyimpan banyak sekali ayat-ayat Allah yang menunggu untuk Anda akrabi. Perhatikanlah sekeliling Anda. Dan ingatlah, seremeh apapun benda yang Anda temukan, ia tidaklah diciptakan Allah SWT dalam kesia-siaan. Renungkanlah bagaimana makhluk-Nya mengalami metamorfosis dalam kehidupan. Mengapa pula Allah mencipatakan akhir perubahan tersebut pada titik yang terbaik? Apakah Anda tidak pernah keheranan mengetahui kupu-kupu yang indah berasal dari ulat yang menjijikan? Apakah Anda juga tidak pernah memikirkan bahwa pigura yang Anda beli di pasar seni berawal dari limbah pabrik yang tidak memiliki nilai? Apakah Anda juga tidak berpikir tentang kendaraan yang mengantarkan Anda ke tempat kerja? Apakah Anda tidak memikirkan bagaimana kendaraan tersebut mensinergikan roda-rodanya? Selanjutnya, silahkan Anda temukan ayat-ayat Allah lainnya yang menunggu untuk Anda kenali dengan baik. Cobalah untuk sekali lagi bukalah hati Anda lebih dalam. Saya berharap dengan kasih sayang Allah SWT, Anda akan diperkenankan mengenal dengan sangat baik ayat-ayat-Nya. Saya berharap dengan keagungan-Nya Anda akan diberikan arah menemukan ayat-ayat-Nya. Amiin !

MEMBANGKITKAN KEKUATAN SYAHADAT

Saudaraku… Belakangan ini banyak kejadian di kalangan umat muslim yang melukai hati kita. Sebagian saudara kita telah menganggap sepele persaksian atas keesaan Allah SWT dan kebenaran Muhammad Saw sebagai utusan-Nya. Syahadat yang diucapkan lambat laun menjadi sangat buruk bahkan kemudian tidak memiliki makna sama sekali. Inilah yang menjadi alasan utama bagi kita untuk memurnikan dan menemukan hakekat-hakekatnya. Kalimat syahadat adalah sebuah persaksian atau pengakuan kebenaran manusia bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah. Seseorang yang dengan sukarela dan sepenuh hati mengucapkan kalimat syahadat maka ia harus menetapkan diri dalam Rukun Iman yang selanjutnya, seperti mengerjakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan mengerjakan ibadah Haji apabila mampu. Selain itu ia juga tidak boleh memalingkan wajahnya dari Rukun Iman (Iman kepada Allah, iman kepada malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada utusan-utusan Allah, iman kepada hari akhir dan iman kepada ketentuan dan ketetapan Allah). Sesungguhnya apabila syahadat Anda semakin kuat tertanam di hati Anda, maka iman dan amalan ibadah Anda akan semakin hebat mempengaruhi kualitas hidup Anda. Apabila syahadat Anda seperti tanaman yang lapuk akarnya, maka waspadalah. Karena iblis akan menyerang Anda dengan dunia dan kesenangan-kesenangannya. Dan inilah yang akan membuat Anda dan saudara-saudara kita kehilangan keseimbangan untuk menegakkan Islam. Karena itu apabila Anda hendak bersyahadat maka jadikanlah syahadat Anda sekokoh gunung, sedalam samudra, dan seluas langit. Sesungguhnya apabila syahadat Anda sekokoh gunung, maka iblis pun gentar mendekati Anda. Apabila iblis hendak meniup syahadat Anda dengan godaan-godaannya, maka tiupannya akan kembali kepadanya berupa angin topan yang sangat keras. Ketahuilah, kalimat syahadat Anda tidak akan runtuh oleh terpaan petir, hujan maupun badai yang sangat kencang. Apapun yang menekan hidup Anda tidak akan mampu melemahkan syahadat Anda. Ia akan menegakkan ibadah duniawi dan akhirat Anda, menguatkan pijakan Anda pada jalan kebenaran dan menguatkan akar cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sesungguhnya apabila kalimat syahadat Anda sedalam samudra, maka Anda dapat menampung air bah dari seluruh dunia dalam ketaatan yang sebenarnya. Dan dengan ketaatan itulah Anda akan mampu mengendalikan dunia dan nafsu yang menyertainya ke dalam syahadat Anda. Dunia tidak akan mampu menundukkan dan menenggelamkan Anda ke dalam genangan-genangannya. Tetapi jika syahadat Anda layaknya sungai yang dangkal, maka air bah dunia akan menenggelamkan Anda hingga Anda tidak sempat bernafas, lalu Anda kehilangan eksistensi di dunia ini. Yang dimaksud dengan eksistensi di sini adalah Anda berada di dunia ini bukan untuk kebingungan mencari tujuan, tetapi memantapkan diri dengan semua potensi yang Anda miliki untuk mencapai tujuan-tujuan Anda. Dan tujuan-tujuan itu akan semakin menjauh apabila Anda sendiri terlena oleh kesenangan dunia yang datang kepada Anda. Pada titik akhir Anda akan kehilangan semangat kalimat syahadat yang Anda ucapkan. Jika Anda berada dalam keadaan seperti itu, maka Anda seperti menukar Tuhan dengan harta dan kemewahan. Sesungguhnya apabila syahadat Anda seluas langit, maka dada Anda pun akan terasa lapang menampung semua kotoran dunia yang membumbung kepada keyakinan Anda. Sehingga nafas Anda pun tidak terasa sesak oleh polusi yang ditimbulkannya. Bahkan karena keluasan syahadat Anda, kotoran-kotoran tersebut akan dinetralisir menjadi kepingan-kepingan kebaikan. Sebaliknya, jika syahadat Anda tidak lebih luas dari kamar pribadi Anda, maka dada Anda pun menjadi sangat sempit untuk menampung semua kotoran dunia yang memasukinya. Dan akhirnya Anda akan terkungkung oleh kotoran-kotoran tersebut. Saudaraku… Tetapkanlah syahadat Anda menjadi kalimat syahadat yang sekokoh gunung, sedalam lautan maupun seluas langit. Agar keyakinan Anda pun terpatri dengan sangat kuat di dalam tubuh Anda. Yakinkan pula dalam panca indra Anda dan perasaan Anda bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad Saw adalah kekasih dan utusan-Nya. Lalu berjalanlah di jalan yang lurus sebagai golongan orang-orang yang bersyahadat secara kaffah. Selain itu, pemahaman mengenai syahadat juga harus dilanjutkan kepada pengenalan hakekat-hakekatnya. Kalimat syahadat sebenarnya memiliki makna yang sangat luas. Ari Ginanjar Sebastian mengungkapkan bahwa kalimat syahadat apabila dipahami dengan intensif, ia akan memberikan energi yang luar bisa bagi Anda. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang mampu menumbuhkembangkan iman dan Islam seorang muslim. Yang pertama adalah menetapkan misi kehidupan Anda. Orang yang bersyahadat adalah orang yang dengan sepenuh hati menetapkan misi perjalanan hidup untuk mengabdi kepada Allah SWT. Persaksiannya terhadap keesaan Allah melahirkan sebuah orientasi hidup yang jelas, yaitu mengoptimalkan semua potensi untuk kebaikan diri sendiri maupun orang lain. Menempatkan Allah sebagai satu-satunya tujuan sebenarnya untuk memberi batasan-batasan yang dipenuhi oleh tujuan tersebut. Sehingga tidak dibenarkan apabila misi (sasaran) hidup ini dicapai dengan menyekutukan-Nya. Sekali lagi, misi kehidupan orang-orang yang bersyahadat adalah mengabdikan diri kepada Allah secara kaffah, dengan menjadikan diri mereka bermanfaat bagi diri mereka sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa maupun agamanya. Sesungguhnya orang-orang yang sadar dengan tujuan-tujuan hidup ini adalah manusia yang penuh semangat mengerjakan jihad untuk meninggikan nama Allah. Apapun potensi yang melekat pada dirinya dapat dijadikan amunisi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Harta yang berlimpah, ilmu yang bermanfaat, tenaga yang berguna, hati yang bersemangat dan kekuasaan-kekuasaan adalah sedikit dari banyak potensi yang dapat digunakan untuk mengaktualisasikan kalimat syahadat. Dan siapapun yang mengabdikan diri kepada Allah paling baik, maka ia akan memperoleh keberuntungan yang besar. Yang kedua, membulatkan tekad untuk bersujud hanya kepada Allah. Orang-orang yang bersyahadat adalah manusia yang menempatkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Mereka bersujud kepada Allah dalam tiga bentuk, yaitu dengan mata hati mereka, dengan ucapan-ucapan mereka dan dengan amal perbuatan mereka. Mereka tidak akan puas apabila hanya hati mereka yang bersujud, sementara ucapan dan amal perbuatan mereka meniadakannya. Mereka juga belum bahagia, apabila hanya ucapan yang mengikuti hati untuk bersujud kepada Allah. Jika ketiganya telah sepakat untuk bersujud kepada Allah maka itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika Anda bersujud kepada Allah, maka yakinlah Anda akan merasa sangat kaya dan tidak membutuhkan apa-apa lagi. Bersujud kepada Allah SWT berarti Anda menyerahkan diri kepada ketetapan Allah, keputusan Allah, maupun kehendak-kehendak-Nya. Apapun kesusahan dan kesenangan yang mendekati Anda, Anda tetap bersujud kepada Allah dengan kenikmatan yang besar. Anda juga tidak menganggap remeh pertemuan Anda dengan Allah ketika mengerjakan sholat, dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan Anda terhadap dunia. Allah SWT berfirman, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran : 18 ). Pernyataan Allah SWT di atas menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memaksa kita untuk menyekutukan-Nya. Ia adalah Dzat yang Esa dan tidak berbilang, kekuasaannya lebih luas dari negara atau kerajaan manapun di dunia, dan keadilannya meliputi semua makhluk-Nya, baik yang tampak maupun tersembunyi, baik yang mukmin maupun yang kafir, yang kaya maupun yang miskin, dan makhluk-makhluk lain yang belum terpikirkan oleh kita. Maka bersujudlah kepada Allah dengan kecintaan yang besar. Yang ketiga adalah menyerap dan mengingat sifat-sifat Allah yang luhur. Orang-orang yang bersyahadat adalah manusia yang sangat mengenal Allah. Ia bersujud kepada Allah SWT karena ia mengetahui dengan pasti bahwa tidak ada sesuatu pun yang layak disembah melainkan Allah. Keimanan kepada Allah menegakkan pilar-pilar tauhid. Setidaknya terdapat 13 sifat bagi Allah yang perlu diketahui oleh orang-orang yang mengesakan-Nya. Diantaranya adalah Allah Maha Ada (Wujud), Allah Maha Terdahulu dan Tidak Berawal (Qidam), Allah Maha Kekal dan Tidak Berakhir (Baqa), Allah Maha Berbeda dari makhluk-Nya, Allah Maha Berdiri Sendiri (Qiyamuhu binafsihi), Allah Maha Esa (Wahdaniyah), Allah Maha Kuasa (Al-Qudrat), Allah Maha Berkehendak (Iradat), Allah Maha Mengetahui (‘Aliimun), Allah Maha Hidup (Al-Hayat), Allah Maha Mendengar (Samii’un), Allah Maha Melihat (Bashiirun)dan Allah Maha Berfirman (Mutakalliman). Ketiga belas sifat Allah ini harus benar-benar ditanamkan di hati, agar kekuatan syahadat yang kita ucapkan mampu memaksimalkan ikhtiar-ikhtiar kita untuk mendekati Allah. Selain itu, Allah juga memiliki nama-nama yang indah yang kita kenal dengan sebutan Asma’ul Husna. Mengingat dan mengenal Asma’ul Husna berperan penting untuk menemukan hakekat syahadat. Percayalah, orang-orang yang sangat mengenal Tuhannya dengan baik adalah pribadi yang mampu menjaga syahadatnya. Yang keempat adalah menerapkan sifat-sifat Allah dalam keseharian dengan mencontoh perilaku Nabi Muhammad Saw. Orang-orang yang bersyahadat adalah manusia yang memiliki rasa cinta yang besar kepada Allah SWT dan utusan-Nya Nabi Muhammad Saw. Mereka mengenal dan mengingat sifat-sifat Allah yang luhur, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, tidak ada hal yang lebih baik selain Anda menjadikan diri Anda sebagai implementasi sifat-sifat Allah tersebut. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Ada (Wujud), maka tampakkanlah eksistensi Anda dalam banyaknya kebaikan yang Anda kerjakan. Ingatlah pula, bahwa keberadaan Anda akan diakui ketika Anda mampu memberikan manfaat dan daya guna terhadap lingkungan Anda. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Terdahulu dan Tidak Berawal (Qidam), maka jadikanlah diri Anda sebagai pelopor dalam segala bidang. Apapun yang Anda kerjakan jangan menciptakan hasil yang setengah-setengah. Allah SWT dan manusia-manusia yang lain tentunya lebih senang apabila apa yang Anda kerjakan merupakan karya yang terbaik. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Kekal dan Tidak Berakhir (Baqa), maka kekalkanlah kenangan dan keteladanan Anda dalam banyak kebaikan. Yakinkan pada diri Anda sendiri bahwa kebaikan yang Anda kerjakan hari ini akan mengekalkan nama Anda dalam kebaikan. Orang-orang setelah Anda akan menjadikan Anda sebagai sebuah teladan yang baik. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Berbeda dari makhluk-Nya, maka jadikanlah diri Anda sebagai pribadi yang memiliki kreatifitas yang tinggi. Anda harus menciptakan karya-karya baru yang berbeda dengan produk pada umumnya dan jangan menjadi seorang peniru dari produk yang sudah dikenal sebelumnya. Orang yang bersyahadat akan menjadikan diri mereka dan produk-produk yang mereka hasilkan berbeda dari yang pernah ada. Dan inilah yang sebenarnya sedang kita perlukan. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu bahwa Berdiri Sendiri (Qiyamuhu binafsihi), maka tanamkanlah pada diri Anda untuk tidak menggantungkan diri pada bantuan dan pertolongan orang lain. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Esa (Wahdaniyah), maka satukanlah berbagai perbedaan dalam sebuah kesatuan yang utuh. Orang yang bersyahadat menyadari bahwa perbedaan yang disatukan akan menciptakan kekuatan yang luar biasa. Ingatlah, kekuatan sepuluh orang itu jauh lebih lebih daripada kekuatan satu orang. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Kuasa (Al-Qudrat), maka jadilah seorang manusia yang memiliki banyak kemampuan dalam menjalani hidup ini. Karena kemampuan-kemampuan tersebut akan sangat membantu Anda untuk meredakan kesulitannya. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Berkehendak (Iradat), maka janganlah Anda pernah menyerah untuk mengejar cita-cita. Anda tidak akan pernah mewujudkannya selama pikiran dan seluruh tubuh Anda berhenti di jalan atau semakin lemah. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Mengetahui (Aliimun), maka tetapkanlah diri Anda sebagai pribadi yang senantiasa mencari ilmu pengetahuan. Orang yang bersyahadat tidak akan merasa puas dengan pengetahuan yang dimiliki hari ini. Ia akan mencarinya meskipun seluruh tubuh Anda terasa letih. Sehingga pengetahuan-pengetahuan tersebut akan meninggikan derajat dirinya di hadapan Allah dan sesama manusia yang lain. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Hidup (Al-Hayat), maka tetapkanlah diri Anda sebagai pribadi yang selalu menghidupkan setiap hati dan kehidupan dalam kebaikan. Orang-orang bersyahadat adalah orang yang menghidupkan semangat manusia lainnya yang telah mati dan tenggelam dalam putus asa dalam kesusahan-kesusahan. Apabila ia berada dalam kelompoknya, maka ia akan membuat kelompok tersebut bersemangat dan bergairah mencapai tujuan-tujuan yang dikehendaki. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Mendengar (Sami’un), maka tetapkanlah diri Anda sebagai pribadi yang mau mendengar kebenaran-kebenaran Allah, meskipun kebenaran itu berasal dari orang kafir maupun dari mulut para pendosa. Anda juga hendaknya tidak sungkan mendengarkan setiap keluhan atau jerit kepayahan dari saudara Anda yang mengalami banyak kesusahan. Apabila Anda berketetapan menjadi pribadi yang seperti ini, maka Allah pun tidak akan sungkan untuk mendengarkan keluhan-keluhan Anda dan memberikan pertolongan-pertolongan-Nya. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Melihat, maka tetapkanlah diri Anda sebagai pribadi yang mampu melihat kebaikan-kebaikan Allah yang bertebaran di setiap sudut alam semesta. Anda juga hendaknya mampu melihat peluang-peluang yang dapat Anda manfaatkan bagi kebaikan Anda sendiri dan lingkungan sekitar Anda. Apabila Anda percaya bahwa Allah itu Maha Berfirman (Mutakalliman), tetapkanlah diri Anda sebagai pribadi yang gemar menyampaikan kebenaran-kebenaran Allah dan kebaikan yang lainya kepada saudara Anda yang lain. Diharapkan setiap kebaikan atau kebenaran yang Anda sampaikan dapat mempersempit pengaruh-pengaruh syaitan atas manusia. Demikian juga untuk nama-nama Allah yang indah (Asma’ul Husna). Orang yang bersyahadat tidak sekedar berupaya untuk menyerap dan mengingatnya saja, tetapi lebih daripada itu, ia akan menerapkan setiap kebaikan Asmaul Husna menjadi kebaikan pribadinya. Apabila Anda mampu menjadikan nama Allah yang indah ini sebagai bagian perilaku dan karakter Anda, maka Anda akan memiliki perilaku-perilaku ilahiah sebagaimana yang diberikan kepada kekasih Allah Muhammad Saw. Nama-nama Allah inilah yang harus kita terapkan dalan kehidupan keseharian kita. Nama-nama Allah seperti Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Quddus, dan nama-nama indah lainnya, apabila dipahami dengan sungguh-sungguh maka ia akan mengantarkan Anda kepada kedudukan sebagai insan kamil. Yang kelima adalah menanamkan komitmen untuk memegang teguh Rukun Iman dan Rukun Islam. Orang-orang yang bersyahadat adalah orang-orang yang menanamkan komitmen yang teguh pada dirinya sendiri untuk menepati Rukun Iman dan Rukun Islam. Apabila kita telah sepakat bahwa orang yang bersyahadat adalah pribadi yang mengesakan Allah SWT dan mengakui kebenaran Muhammad Saw sebagai utusan-Nya, maka memenuhi Rukun Islam dan Rukun Iman adalah pembuktian atas pengakuan tersebut. Memenuhi dan berpegang erat kepada Rukun Iman berarti Anda beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, hari akhir dan ketetapan-ketetapan-Nya. Selanjutnya keimanan tersebut juga harus ditampilkan dalam bentuk Rukun Islam. Mengucapkan kalimat syahadat adalah bagian pertama Rukun Islam. Dan perwujudan iman ini akan menjadi lebih baik apabila pengucapan kalimat syahadat dilanjutkan dengan mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji. Berkomitmen kepada Rukun Iman bukanlah perkara yang mudah. Anda menjalani kehidupan di dunia ini layaknya melakukan perjalanan yang sangat jauh. Dan pada setiap perjalanan tersebut keimanan Anda akan menemui banyak kesukaran yang ditimbulkan oleh dunia. Kisah atau pengalaman hidup seseorang yang berakhir sebagai orang yang kufur nikmat, haruslah mampu memberikan Anda pelajaran bahwa dunia dan kesenangannya seringkali menipu mata. Apa yang tampak menyenangkan bagi Anda, bisa jadi akan membahayakan Anda. Banyak saudara kita yang menukar imannya, hanya karena wajah dan tubuh yang mempesona, harta yang berlimpah atau sekedar makanan instan. Kejadian pertukaran iman itulah yang memaksa kita untuk mengurut dada. Demikian juga halnya dengan Rukun Islam. Umat ini mungkin banyak memenuhi rukun-rukunnya, tetapi banyak pula yang tidak berhasil menemukan kebaikannya. Orang yang bersyahadat hanya memperoleh ingatan atas pengakuannya. Yang mendirikan sholat tidak memperoleh apapun kecuali rasa letih yang mendera. Yang memberikan zakat hanya menemukan hartanya berkurang dan sedikit pujian dari sesama manusia lainnya. Orang yang berpuasa hanya memperoleh lapar dan dahaga dan orang yang menunaikan haji hanya memperoleh kelelahan dan sedikit panggilan status. Berkomitmen kepada Rukun Islam dan Rukun Iman sesungguhnya adalah sebuah perjuangan yang sangat keras dan melelahkan. Hanya orang-orang yang berkomitmen kepada kalimat syahadat yang mampu meneguhkan dirinya kepada Rukun Iman dan Rukun Islam. Kita melihat mereka sebagai manusia yang memiliki kualitas pengabdian pada tingkatan yang sangat tinggi. Apabila Anda hendak menawarkan sedikit kesenangan dari dunia ini, maka Anda tidak akan pernah melihat mereka menerimanya, kecuali kesenangan-kesenangan itu memberikan kebaikan bagi agamanya. Bagi mereka mengucapkan kalimat syahadat adalah perjanjian langsung dengan Allah untuk memenuhi hati dan seluruh hidup mereka dengan iman dan Islam. Dan mereka akan terus berjuang mewujudkan perjanjian ini. Yang keenam adalah berjanji bersungguh-sungguh kepada Allah untuk memenuhi janji-janji (syahadat) dengan sepenuh hati. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bersyahadat adalah menempatkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa dan membenarkan Nabi Muhammad Saw sebagai kekasih dan utusan-Nya. Dan pengakuan inilah yang harus selalu dipenuhi setiap muslim di setiap sudut kehidupan. Mengesakan Allah berarti menempatkan Allah di atas semua kepentingan dan kebutuhan. Ia lebih penting dari usaha-usaha Anda, pacar Anda yang menggoda, mobil keluaran terbaru, rumah megah, maupun perhiasan yang berkilauan. Syahadat yang baik akan selalu menautkan seorang muslim dengan Allah dalam setiap keadaan. Apabila ia sedang berduaan dengan pacarnya, maka syahadat akan datang untuk menjaganya dari perbuatan-perbuatan yang dimurkai Allah. Apabila ia sedang bergembira dengan usaha-usahanya maka syahadat akan mengingatkan ia untuk bersujud kepada Allah dengan ikhlas. Apabila ia sedang bersenang-senang dengan mobil keluaran terbaru, maka syahadat akan datang untuk mengingatkan tentang datangnya hari perhitungan. Apabila ia sedang berpesta dalam rumah megahnya, maka syahadat akan datang menghampirinya dengan memberi kabar dari Allah bahwa rumahnya kelak sangat sempit dan gelap. Apabila ia sedang berbangga dengan perhiasan-perhiasannya, maka syahadat akan menuntut ia untuk hidup dengan hiasan-hiasan indah yang disukai Allah, yaitu iman dan Islam. Membenarkan Nabi Muhammad Saw berarti menetapkan diri sendiri dan kehidupan yang sedang dijalani dengan kaidah-kaidah dari kekasih Allah, Nabi Muhammad Saw. Membenarkan kebenarannya tidak cukup kalau hanya sekedar mengakui statusnya sebagai utusan Allah. Pembenaran ini harus pula diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Apa yang diyakini Muhammad Saw sebagai sebuah kebenaran, maka yakinilah pula sebagai kebenaran. Apa yang disebutkan Muhammad Saw sebagai sebuah kebaikan, maka katakanlah pula sebagai kebaikan. Apa yang dikerjakan Muhammad Saw sebagai kebaikan, maka kerjakanlah pula sebagai kebaikan. Kalimat syahadat yang diucapkan haruslah dipenuhi secara kaffah. Kita tidak bisa mengesakan Allah dengan mengingkari-Nya. Kita juga tidak layak membenarkan utusan-utusan-Nya sambil meninggalkan sunnahnya. Karena itulah, apabila kalimat syahadat telah Anda nyatakan, maka tetapkanlah diri Anda untuk memenuhi janji tersebut. Insya Allah, Ia akan memberikan balasan yang baik kepada Anda. Saudaraku.... Kelima nilai-nilai kalimat syahadat seperti disebutkan di atas sesungguhnya memiliki dampak yang luar biasa. Percayalah, apabila kelima nilai-nilai ini berada dalam satu pribadi, maka kalimat syahadat yang diucapkan akan memberikan energi yang luar biasa. Ia seperti sebuah kekuatan yang menyatukan seluruh energi pada satu tempat. Kekuatan inilah yang membuat seseorang mampu menangkap ayat-ayat-Nya dan memberdayakannya bagi kesejahteraan saudaranya yang lain. Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “Barang siapa yang menyatakan (bersyahadat) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, diharamkan api neraka baginya oleh Allah.” Dalam kesempatan lain beliau juga bersabda, “Jika seorang mukmin membaca, ‘ Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, keluarlah dari mulutnya suatu makhluk (malaikat) dalam bentuk burung hijau (dengan) dua sayap putih yang bertaburan dengan mutiara dan yaqut, sayap yang satu berada di Masyriq (timur) dan yang lainnya di maghrib (barat) apabila dibentangkan. Terbanglah burung itu ke langit dengan disertai dengungan seperti suara dengungannya lebah, lalu oleh malaikat pendukung Arsy diperintahkan,’ Berhentilah demi keperkasaan Allah dan keaugungan-nya! ‘Jawab burung itu, ’Aku tidak akan berhenti sebelum Allah mengampuni hamba yang membaca syahadat tadi.’ Maka diberikan oleh Allah 70.000 lidah yang beristighafar bagi hamba itu sampai hari Kiamat, di mana pada hari itu malaikat akan menuntunnya melewati sirath dan memasukkannya di surga.’ “ Sesungguhnya Allah akan memberikan balasan yang baik apabila syahadat yang kita ucapkan dapat mempengaruhi seluruh anggota badan dalam kebaikan-kebaikannya. Maka, penuhilah perjanjian tersebut dengan pengabdian diri kepada Allah secara penuh. Dan kita kelak akan menemukan bahwa janji Allah adalah benar !

ISLAM DAN PERGAULAN LAWAN JENIS

Saudaraku,… Kehidupan di dunia menuntut kita untuk menciptakan hubungan-hubungan yang baik dengan semua makhliuk-Nya, baik itu kepada binatang, tumbuh-tumbuhan maupun kepada sesama manusia. Berhubungan baik kepada binatang berarti tidak menelantarkan binatang tersebut dalam kesusahan-kesusahan yang akan mengantarkannya kepada kematian. Apabila binatang peliharaan Anda tidak mendapat perlakuan yang baik, maka binatang tersebut tidak akan memberikan kesenangan-kesenangan kepada Anda. Berhubungan baik kepada tumbuh-tumbuhan berarti Anda menjaga eksistensinya di dunia sehingga ia mampu mencegah bumi dari banyak kehancuran. Bukankah sebagian besar musibah yang menghampiri dunia ini diciptakan oleh kelengahan-kelengahan manusia untuk menjaga, melindungi, dan memelihara kelangsungan hidupnya? Sedangkan berhubungan baik dengan sesama manusia berarti Anda tidak menciptakan kemungkaran, kebencian, dan permusuhan terhadap manusia yang lain. Termasuk dalam hal ini adalah menciptakan pergaulan yang baik antara laki-laki dan perempuan. Kita akan berbincang sebentar bagaimana mensinergikan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam bingkai Islam. Berkaitan dengan hal ini Allah SWT telah berfirman, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat :13). Ayat di atas memberi penegasan bahwa penciptaan laki-laki dan perempuan bertujuan agar keduanya saling mengenal. Dan aktifitas saling mengenal ini tidak akan berlangsung baik tanpa adanya pengertian diantara keduanya. Seringkali dikatakan bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi daripada wanita. Pemikiran inilah yang kemudian ditafsirkan secara keliru oleh sebagian saudara kita dalam menciptakan pola pergaulan dengan lawan jenis. Sehingga yang kemudian timbul adalah tekanan-tekanan terhadap wanita, baik itu secara fisik atau psikis oleh laki-laki. Selanjutnya sudah dapat ditebak, bahwa pergaulan ini kemudian mengantarkan kita pada bentuk-bentuk hubungan laki-laki dan perempuan yang menjauhi Islam. Di dalam Islam sendiri, nilai penghargaan tidak ditentukan pada jenis kelaminnya, tetapi berdasarkan kualitas keimanannya. Seorang laki-laki tidak secara otomatis masuk surga lebih dahulu daripada wanita karena kelaki-lakiannya. Dan seorang wanita juga tidak akan masuk surga terakhir kali karena kewanitaannya. Allah SWT hanya memperhitungkan kualitas iman dan takwa yang melekat diantara keduanya. Kebanyakan saudara kita ketika duduk dengan seorang wanita, berkenalan dengan seorang wanita, atau berpergian dengan seorang wanita, tidak membawa agamanya. Pertanyaannya adalah apakah Islam tidak sesuai dengan pergaulan kita atau sebaliknya, pergaulan kitalah yang tidak sesuai dengan Islam. Dan siapakah yang harus menyesuaikan diri dengan yang lainnya? Apabila Islam yang harus menyesuaikan diri dengan pola pergaulan yang kita kehendaki, maka tunggulah saat kehancuran itu tiba. Pada saat itu tidak jelas lagi bagaimana wujud kebenaran dan tidak jelas pula jalan-jalan lurus yang harus ditempuh. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya’; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur : 30-31). Ayat ini menunjukkan beberapa hal yang harus dipenuhi agar kita mampu menciptakan pergaulan yang baik dengan lawan jenis. Diantaranya adalah: Yang pertama, menahan pandangan. Yang dimaksud menahan pandangan bukanlah meniadakan kontak visual dengan sesama manusia, tetapi membatasi kontak visual yang dilakukan dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Tujuannya adalah agar manusia tidak terjebak dalam kesenangan sesaat yang seringkali membahayakan dirinya. Karena apabila setiap pandangan dibebaskan, maka hawa nafsu duniawi akan bermain diantaranya. Ia akan mengajak manusia kepada kesenangan dunia dan keindahan-keindahannya. Sementara salah satu keindahannya adalah wanita. Hawa nafsu harus dikekang dengan memposisikan diri kita untuk menjunjung kehormatan wanita. Sebagian besar kaum lelaki masih memandang wanita dengan pandangan penuh nafsu dan keinginan untuk merendahkannya. Apabila Anda memandang wajah dan tubuh lawan jenis Anda, maka pandanglah ia satu kali saja. Hindarkan diri Anda untuk memandang dirinya secara berlebihan (terus-menerus). Dan yang lebih berbahaya lagi, apabila bagian tubuh yang Anda pandang merupakan bagian tubuh wanita yang sensitif. Sesungguhnya, dalam pandangan-pandangan itulah tersimpan seribu syaitan yang membujuk Anda kepada perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah SWT. Menahan pandangan kepada lawan jenis yang bukan muhrim sebenarnya memiliki banyak kebaikan. Di sana terdapat banyak petunjuk menuju penghargaan Allah yang tinggi. Di sana juga terdapat penghargaan manusia kepada manusia-manusia yang lainnya. Maka jemputlah penghargaan-penghargaaan itu dengan mengendalikan semua pandangan ke dalam cermin kebaikan. Yang kedua adalah memelihara kemaluan. Yang dimaksud memelihara kemaluan adalah menjaga, memelihara, dan melindungi kemaluan dari hal apapun juga yang tidak dikehendaki Allah SWT dan utusan-utusan-Nya. Perintah untuk memelihara kemaluan pada dasarnya memiliki dua pengertian. Pengertian pertama yaitu menjaga kebersihan dan kesehatannya dari penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan. Karena pada area kemaluan tersebut mudah sekali dihinggapi kuman-kuman penyakit yang dapat merugikan kita sendiri. Dan salah satu bentuk ketidakbersyukuran kita kepada Allah adalah ketidakmampuan kita untuk memelihara dan melindunginya dari penyakit-penyakit tersebut. Sedangkan pengertian yang lainnya menyebutkan, memelihara kemaluan adalah menempatkan fungsi kemaluan tersebut kepada jalur-jalur yang sudah ditetapkan Allah SWT sebagai sebuah kebenaran. Disini mengandung pengertian bahwa pemakaian ataupun penggunaan kemaluan tidak boleh menyimpang dari garis agama Islam. Karena disanalah tersimpan banyak kebaikan. Timbulnya kasus aborsi, pemerkosaan, maupun hubungan seks bebas telah menunjukkan kepada kita bahwa sebagian masyarakat ini belum mampu mengendalikan kemaluannya dengan baik. Dan akibatnya adalah terjadinya epidemik IMS (Infeksi Menular Seksual) maupun HIV/AIDS, meskipun tidak semua penderita HIV/AIDS adalah pelaku penyimpangan seksual. Kelemahan untuk memelihara kemaluan akan menciptakan sistem atau pola pergaulan yang tidak sehat. Pergaulan ini sangat disukai syaitan dan ia akan membuatnya lebih parah. Padahal seperti sudah diperingatkan oleh Allah SWT bahwa ia adalah musuh yang nyata bagi manusia. Tetapi apabila kita mampu memposisikan kemaluan kita di dalam kehendak-Nya, maka berbahagialah. Karena Allah akan memberi kebahagiaan kepada Anda. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina ;sesungguhynya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu perbuatan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ : 32). Peringatan Allah untuk tidak mendekati zina sebenarnya merupakan solusi terbaik untuk menciptakan pergaulan yang Islami. Di dalamnya terdapat upaya interaksi antara laki-laki dan perempuan, baik muhrim maupun non muhrim dalam koridor yang benar. Sehingga tidak dibenarkan apabila interaksi-interaksi tersebut dilakukan dengan memandang rendah dan melecehkan satu dengan yang lainnya. Demikian pula apabila interaksi-interaksi tersebut keluar dari batasan-batasan Islam. Apabila kekhawatiran itu terjadi, maka sesungguhnya umat ini sedang mengalami sebuah bencana. Yang ketiga adalah tidak berlaku sombong. Pada dasarnya hubungan laki-laki dan perempuan adalah sebuah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Keberadaan seorang laki-laki akan menguatkan keberadaan seorang perempuan. Demikian pula sebaliknya, keberadaan seorang perempuan juga akan menguatkan keberadaan seorang laki-laki. Tidak diperbolehkan satu diantara keduanya melemahkan yang lainnya. Seorang laki-laki sebagai kepala keluarga tidak akan mampu melakukan fungsinya dengan sempurna tanpa peran serta istrinya, bahkan seringkali dikatakan bahwa dibalik kesuksesan seorang laki-laki terdapat peran serta seorang perempuan yang luar biasa. Sebuah pergaulan mutlak membutuhkan toleransi yang tinggi. Dan sebuah toleransi tidak pernah memberikan ruang bagi kesombongan walaupun hanya sebesar lubang jarum. Sebaik apapun pergaulan itu apabila terdapat keinginan untuk membanggakan diri maka lama-kelamaan akan menjadi rapuh. Yang miskin tidak boleh merendahkan dirinya karena kemiskinannya, dan yang kaya tidak boleh memandang rendah orang lain dengan kekayaannya. Hal ini berlaku pula untuk laki-laki dan perempuan. Laki-laki tidak boleh menyombongkan hartanya ketika bergaul atau berhubungan dengan seorang perempuan. Perempuan juga tidak diperkenankan membangga-banggakan perhiasan untuk menarik lawan jenisnya. Apabila pergaulan dengan lawan jenis memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada sesama manusia, maka ia (pergaulan) akan mendapatkan bentuknya yang paling sempurna dan tentu saja ia akan mendapatkan curahan kasih sayang Allah SWT yang berlimpah. Saudaraku,… Ketiga hal yang disebutkan di atas harus dapat terwadahi dalam pola pergaulan kita. Selain itu jika Anda meyakini bahwa kebenaran Islam itu baik dan indah, maka nyatakanlah kebaikan dan keindahannya ketika berhubungan dengan lawan jenis Anda. Berikanlah hak-haknya dengan wajar. Biarkanlah ia mengerjakan kewajibannya yang harus dipenuhi. Janganlah Anda meremehkan dirinya ketika berada di jalan, ketika berada di bus kota, ketika berada di pasar, atau ketika Anda sedang bekerja atau bahkan ketika Anda sedang balajar di sekolah. Janganlah Anda merendahkan diri Anda sendiri maupun lawan jenis Anda dengan cara yang buruk, karena kita semua adalah pewaris semesta ini. Sehingga sungguh tidak layak kalau hidup ini dikotori dengan perilaku-perilaku tersebut. Bukankah Rasulullah Muhammad Saw adalah sebuah pribadi yang sangat memuliakan wanita ? Bukankah tidak sedikit pula ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan penghormatan kepada perempuan? Apabila Rasulullah Muhammad Saw saja menempatkan wanita pada kedudukan yang terhormat, mengapa kita tidak bergegas berbuat yang serupa. Atau Anda berpikir bahwa kata-kata Anda lebih bermakna daripada Al-Qur’an! Saudaraku,… Apabila Anda merasa lebih baik daripada utusan Allah SWT tersebut, silahkan lakukan apa saja yang Anda inginkan. Tetapi jika sebaliknya, maka tidak ada hal yang lebih baik selain bersikap baik kepada para perempuan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw dan pendahulu-pendahulu Anda.

HAKEKAT MANUSIA

Saudaraku,… Allah SWT beberapa kali menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk-Nya yang tertinggi diantara hamba-Nya yang lain. Tetapi tidak ada yang tahu apakah hidupnya akan berakhir dengan kegembiraan dari Allah atau kepayahan di Neraka. Karena sepanjang yang kita ketahui, hanya manusialah yang banyak melakukan kerusakan di dunia ini. Hingga pada akhirnya, Allah SWT memberikan sedikit teguran-Nya. Dan teguran inilah yang membuat sebagian manusia kembali mengingat tanggung jawabnya sebagai makhluk yang terpilih. Sebagian yang lain, masih asyik berbuat kerusakan di dunia. Melihat apa yang sudah terjadi, sepantasnyalah kita kembali bertanya mengenai asal kejadian diri kita sendiri. Merenungkan jatidiri kita selaku penjaga kedamaian di bumi. Tidak tahukah Anda bahwa manusia merupakan makhluk terbaik yang berasal dari sesuatu yang hina? Karena itulah manusia memilki dua jenis kecenderungan. Kecenderungan pertama adalah keberpihakannya kepada kebaikan dan kebenaran Tuhan. Kecenderungan ini membawa kepada kemuliaan bagi manusia itu sendiri. Karena keberpihakannya kepada kebenaran maka ia akan dipandang terhormat oleh manusia yang lain maupun oleh Allah SWT. Sedangkan kecenderungan yang kedua adalah keberpihakannya kepada nafsu keduniaaan. Kecenderungan ini akan membuat orang melupakan kebenaran-kebenaran yang datang dari sisi Tuhannya. Meskipun sejak awal manusia sudah memilki kedua jenis kecenderungan ini, tetapi sungguh tidak layak jika membesar-besarkan kehinaan lalu meninggalkan kemuliaannya. Kesadaran mengenai kedua jenis kecenderungan ini seharusnya mampu membuat manusia itu sendiri menstabilkan dirinya dalam kebenaran. Kekuatan akalnya seharusnya mampu membuat dirinya mengendalikan nafsu yang tersembunyi di dadanya. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan manusia dalam kesempurnaan tentunya bukan tanpa tujuan, karena Dialah Perencana terbaik di alam semesta raya ini. Pikirkanlah apa yang dikehendaki Allah atas diri Anda. Pernahkah Anda bertanya mengapa Allah SWT menciptakan manusia dengan latar belakang yang saling bertentangan? Bukankah manusia diciptakan dari sesuatu yang hina tetapi manusia pula yang menerima kemuliaan dari Allah untuk menjaga makhluk-Nya yang lain? Apabila Anda mau sedikit berpikir tentang hal ini tentunya Anda akan menyadari bahwa Allah telah menaruh kepercayaan yang sangat besar kepada manusia. Tetapi sayangnya tidak seluruh manusia menaruh kepercayaan yang sama kepada Tuhannya. Karena kepercayaan itu pula, Allah memberi akal dan nafsu sebagai perbekalan untuk melakukan tugas tersebut. Melalui perbekalan itulah, Allah SWT berharap manusia mampu menjaga keseimbangan dunia dan akhiratnya. Dengan kekuatan akal manusia diharapkan dapat mengenali kebenaran dan berjalan dengannya kemanapun ia pergi. Dengan kekuatan akal pula manusia diharapkan memiliki kemampuan untuk memberdayakan potensi-potensi duniawi yang ia miliki. Dan dengan nafsu Allah berharap manusia senantaisa bergairah menegakkan syariat-syariat-Nya. Akal dan nafsu harus dalam posisi yang seimbang. Satu sama lain tidak boleh saling menenggelamkan. Sebab apabila nafsu lebih dominan, maka manusia akan sangat bersemangat melakukan perbuatan yang tidak dipertimbangkan oleh akalnya. Hasilnya adalah mereka akan menjadi pribadi-pribadi kafir yang tidak mengindahkan seruan dari Tuhannya. Orang-orang seperti inilah yang membuat beban manusia yang lain semakin berat. Merekalah yang membuat kerusakan, kehancuran dan tentu saja juga menistakan agama yang haq. Mereka terlalu sombong dengan apa yang dititipkan Allah untuknya. Mereka juga terlalu serakah dengan apa yang sudah berada di tangan orang lain. Hingga yang mereka hasilkan hanyalah sederetan kezaliman dan kekejaman terhadap manusia atau makhluk Allah lainnya. Merekalah para perampok, koruptor, pezina, pencuri, pemerkosa, pembunuh dan para pelanggar syariat Allah lainnya. Demikian juga ketika akal lebih mendominasi daripada nafsunya, maka lahirlah manusia-manusia yang mengenali kebenaran tetapi kehilangan semangat untuk menegakkannya. Nafsu adalah bahan bakar ilmu yang diperoleh dengan akal. Karena itulah apabila nafsu dimatikan maka kekuatan akal akan kehilangan daya gempurmya. Yang paling baik adalah menyertakan nafsu ketika akal melakukan perannya. Atau sebaliknya, menyertakan akal ketika nafsu berperan. Percayalah, apabila keseimbangan ini berada pada setiap pribadi muslim, maka ia akan menjadi pribadi-pribadi yang beriman kepada Tuhannya dengan gairah keimanan yang berkobar-kobar. Kekuatan akalnya dan semangat yang menggelora akan membuat ia mampu mengenali kebenaran-kebenaran yang datang Tuhannya. Merekalah sang khalifah bumi yang sebenarnya. Merekalah yang berusaha menjaga bumi dari banyak kerusakan. Merekalah yang memelihara lingkungan mereka bertempat tinggal dalam naungan keridhaan Allah SWT. Saudaraku,... Manusia seharusnya harus benar-benar menyadari tanggungjawabnya sebagai khalifah di bumi. Jangan cuma terpacu pada kehinaan yang mengikutinya sejak lahir. Fakta bahwa manusia diciptakan dari sesuatu yang hina seharusnya membuatnya tidak berlaku berlebih-lebihan kepada manusia lainnya maupun kepada Tuhannya. Fakta ini juga seharusnya mampu menjadikan manusia pribadi yang rendah hati dan menyadari ketergantungannya kepada Allah SWT. Ini lho yang tidak benar-benar disadari oleh manusia. Ada yang terlampau keterlaluan dalam mengejar duniawinya dengan meninggalkan banyak kerusakan pada setiap jejak langkahnya. Ada pula yang terlampau keterlaluan dalam ketaaan kepada-Nya, lalu berlaku sombong dan dzalim kepada Allah dan saudaranya yang lain. Maka dari itu, yang paling baik bagi kita adalah mengenal sebaik mungkin dsiri kita sendiri. Ia yang mengenal dirinya sendiri adalah yang paling baik mengenal Tuhannya dan tujuan hidupnya. Dari pengetahuan inilah akan dimulai ketaatan kepada kebenaran. Lalu ketatatan-ketaatan tersebut akan membentuk manusia menjadi khalifah yang sesungguhnya. Dan itulah yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah SWT terhadap manusia seluruhnya. Karena itu bergegaslah Anda menuju ketaatan kepada Allah dan kekasih-Nya Muhammad Saw.