Selasa, 28 September 2010

KEBAIKAN DAN KEJAHATAN

Saudaraku,...
Tidaklah Allah menciptakan manusia melainkan Allah juga menciptakan setan untuk mengujinya. Secara fitrah, manusia akan selalu cenderung pada kebaikan. Tetapi, untuk selalu sejalan dengan fitrahnya, sangatlah sulit. Karena, ketika manusia hendak memilih kebaikan, akan selalu ada bisikan-bisikan yang menghalanginya, dan menganjurkan yang sebaliknya. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw. bahwa di dalam hati manusia ada dua bisikan; bisikan malaikat dan bisikan setan. Bisikan malaikat adalah kebaikan dan bisikan setan adalah kejahatan. Adapun, bisikan mana yang akan diikuti oleh manusia, tergantung pada keadaan hati manusia itu. Jika hatinya bersih, ia akan mendengar bisikan malaikat, namun jika hatinya kotor dan berpenyakit, dia akan lebih sering menuruti bisikan setan. Dari situ, timbullah dua akibat, yaitu kebajikan dan kejahatan. Kebaikan dan kejahatan itu pun beragam. Ada yang erat kaitannya dengan Allah langsung, dan ada yang berhubungan dengan sesama hamba.

Pada kenyataannya, memang benar apa yang telah dikhabarkan Alquran bahwa manusia terlalu banyak berbuat zalim, baik pada Allah, pada dirinya sendiri, maupun pada orang lain. Hingga tidak kita pungkiri bahwa terkadang kita juga didzalimi oleh orang lain, atau ada orang lain yang berbuat jahat kepada kita. Dalam menghadapi kejahatan yang dilakukan seseorang kepada kita, Alquran memberikan petunjuk agar kita menolak (balaslah) kejahatan itu dengan kebaikan. Maksudnya adalah jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita, balaslah kejahatannya itu dengan kebaikan. Jika ada orang yang jahat kepadamu dengan perbuatannya, dengan perkataannya, atau dengan sesuatu yang lain, maka balaslah hal itu dengan kebaikan. Jika ia memutus hubungan denganmu, cobalah jalin hubungan baik dengannya. Jika ia menzalimi, maafkanlah ia. Jika berbicara tentang kamu, janganlah engkau hiraukan. Tetapi, maafkanlah ia, dan sambutlah ia dengan perkataan yang baik. Apabila ia menjauhimu dan tidak menghiraukanmu, tetaplah berkata yang lembut dan mengucapkan salam kepadanya. Jika engkau mampu membalas kejahatan dengan kebaikan, niscaya engkau akan mendapatkan faedah yang sangat besar.

Lalu, apakah faedah yang besar itu? Percayalah dengan kebesaran Allah, apabila engkau berbuat baik kepada orang yang telah berlaku jahat terhadapmu, maka kebaikanmu itu akan membawanya untuk bisa condong kepadamu, menyukaimu, dan bersikap lunak padamu, sehingga dia akan menjadi seperti teman yang setia dan sangat dekat kepadamu, dengan kasih sayang dan kebaikan untukmu.

Demikianlah apa yang dianjurkan oleh Allah kepada kita, bagaimana kita membalas kejahatan seseorang yang menimpa kita. Namun, hal itu sangatlah berat untuk dilaksanakan. Al-Qur’an mengabarkan bahwa sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan sekarang sudah mampukah kita menjadi orang yang memiliki keberuntungan yang besar itu?

Betapa berat dan sulit hal tersebut untuk dilakukan. Karena, watak seseorang akan cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan. Namun, jika seseorang mengetahui besarnya nilai kesabaran dan besarnya pahala yang akan diterima, mengetahui bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan tidak ada manfaatnya sedangkan permusuhan hanya akan menambah kekerasan, menyadari bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan bukan berarti kehinaan dan kerendahan martabat akan tetapi bersikap rendah diri dihadapan Allah, maka hal tersebut akan menjadi ringan baginya, dan dia akan melakukannya dengan lapang bahkan menikmatinya. 

Sehubungan dengan hal ini, Ibnu Abbas berkata, "Allah memerintahkan kita untuk bersabar ketika marah, lemah lembut menghadapi kebodohan, dan memaafkan perlakuan buruk (kejahatan). Barang siapa mampu mengamalkannya, maka Allah akan menghindarkannya dari godaan setan, dan akan menjadikan musuhnya tunduk padanya seperti teman yang setia padanya."

Kejahatan, bagaimanapun juga berasal dari setan. Dan setan ada dua macam, setan dari golongan manusia, dan setan dari golongan jin. Setelah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan kepada sesamanya meskipun telah mendapat perlakuan jahat, kemudian pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan untuk berlindung kepada-Nya apabila setan datang menggoda. Karena, untuk menghadapi setan yang berwujud manusia dimungkinkan dengan berbuat baik padanya, maka dia akan berubah baik kepada kita. Adapun setan dari golongan jin, tidak cara berkelit dan menghindar darinya apabila ia datang menggoda kecuali dengan meminta perlindungan kepada-Nya. Jika seseorang menyerahkan urusannya kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, makar setan tidak akan berarti baginya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika menegakkan salat mengucapkan, "A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, min hamzihi, wa nafkhihi, wa naftsihi." Artinya, "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, dari godaan, tiupan, dan hembusannya."

Saudaraku,…

Memang berat, membalas kejahatan dengan kebaikan. Suatu hal yang bertentangan dengan watak dasar manusia. Namun, barang siapa mampu mengamalkannya, ia akan mendapat keberuntungan yang besar. Dan, tidak mampu menerima dan mengamalkan hal itu kecuali orang-orang yang sabar. Maka tetapkanlah diri Anda menjadi orang-orang sabar terbaik di hadapan Allah dan makhluk-Nya yang lain.

Jumat, 17 September 2010

AKIDAH SEBAGAI LANDASAN AGAMA

Saudaraku,…
Secara etimologi akidah berasal dari kata ’aqd yang berarti pengikatan. Akidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan, “Dia mempunyai akidah yang benar,” berarti akidahnya bebas dari keraguan. Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Adapun makna akidah secara syara’ yaitu, iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan kepada hari akhir, serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Kita menyebutnya sebagai Rukun Iman.

Akidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Bagi anda yang menganggap sepele masalah akidah ini, berhati-hatilah menjaga agama anda. Menjalani kehidupan di dunia ini bukan hanya perkara sulit untuk memperoleh materi duniawi, tapi juga perjuangan yang tidak mudah untuk menegakkan agama yang anda yakini kebenarannya. Keyakinannya terhadap Allah dan kebenaran Islam akan bersentuhan dengan keyakinan lain yang ditimbulkan oleh keruwetan dunia dan godaan-godaan menggiurkan yang akan mengikutinya. Ketika interaksi akidah anda dengan keruwetan dunia semakin meninggi, maka akidah tersebut akan mengalami seranagn yang luar biasa hebat. Dan situlah kemudian akidah anda akan menunjukkan perannya. Apakah bangunan agama anda akan terhempas layaknya bangunan rapuh yang dihempaskan angin puyuh ? Atau sebaliknya, bangunan agama yang anda pelihara, tetap berdiri kokoh tanpa mengalami kerusakan pada setiap sisi dindingnya. Karena itulah, jadikanlah akidah anda sebagai pondasi yang kuat bagi bangunan agama yang anda yakini kebenarannya.

Dan bagian kecil dari usaha Anda untuk memperkuat pondasi tersebut adalah membersihkan akidah anda kepada sesuatu selain Allah SWT. Kalau sekali saja anda memiliki kecenderungan yang berlebihan kepada segala sesuatu selain Allah, maka itulah kelalaian anda yang paling besar. Sesungguhnya Islam tidak bisa dibangun dengan pondasi seperti itu. Kekuatan bangunan Islam dimulai dengan pondasi akidah yang mengikat seluruh pikiran dan segala gerak tubuh kepada allah SWT. Tidak ada yang lain. Bangunan Islam tidak akan bisa ditegakkan ketika sekejap saja hati kita berpaling sesuatu yang fana, betapapun itu menyenangkan hati kita.

Saudaraku,…

Allah SWT berfirman, "Maka, sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)." (QS. Az-Zumar : 2-3).

Karena itulah yang menjadi perhatian kita pertama kali adalah menjernihkan segala bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT dan kekasih-Nya Muhammad Saw dari segala penyimpangan dan pengingkaran. Dan itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika mengabarkan tentang kebenaran Islam kepada masyarakatnya. Baru kemudian setelah pondasi akidah sudah tertanam kuat dalam hati, pendidikan mengenai amal perbuatan baik maupun amal perbuatan buruk dapt kembali dilanjutkan.

Seorang muslim sekali lagi dituntut untuk membuat pondasi keislamannya menjadi pondasi paling kuat yang pernah ia kenal maupun yang dikenal orang lain sebelumnya. Jika pondasi akidah anda kuat, maka akan semakin kuat pula bangunan Islam yang anda dirikan. Dan jika bangunan Islam anda sangat kuat, maka perjalanan akhirat anda tidak akan terganggu oleh segala kekacauan dan keruwetan dunia yag mendatangi anda dari segala arah. Tentu saja Allah juga tidak akan sungkan memberikan pertongan kepada anda, jika demikian kondisi bangunan Islam. Percayalah, saudaraku!

Senin, 06 September 2010

PELAJARAN DARI UMAT TERDAHULU

Saudaraku,...
Perjalanan hidup manusia sejak pertama kali manusia diciptakan hingga sekarang ini, ternyata meninggalkan jejak berupa sejarah yang melukiskan perputaran roda kehidupan manusia dengan segala keindahan dan keburukannya. Allah menciptakan langit dan bumi ini dan apa yang ada di antara keduanya, adalah dengan ketetapan yang sudah ditentukan. Semua sejarah yang yang terjadi pada waktu lampau selayaknya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua,sehingga kita mampu menjadi generasi-generasi Rabbani yang unggul. Itulah yang dititahkan di dalam Alquran kepada kita, umat akhir jaman, umat pilihan, umat Nabi yang paling mulia, Muhammad saw., bahwa Allah menjadikan perjalanan umat-umat terdahulu itu sebagai pelajaran bagi kita.

Kita harus menyadari bahwa mereka, umat-umat terdahulu, diadzab oleh Allah di dunia dengan adzab yang dahsyat, yang sangat mengerikan bila dibayangkan, adalah karena mereka mendurhakai, membangkang, dan mendustakan rasul yang diutus untuk mereka. Mereka mengingkari kebenaran yang disampaikan kepada mereka, meskipun telah nyata bukti-bukti kebenaran di hadapan mereka. Itu adalah yang terjadi pada umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Rasulullah saw..

Adapun berkenaan dengan umat Rasulullah saw., umat akhir jaman ini, ada keterangan dari Rasulullah saw. bahwa jika umat-umat terdahulu mendurhakai dan mendustakan nabinya, mereka segera diadzab oleh Allah swt., dan apabila umat Muhammad saw. durhaka, maka adzab mereka ditangguhkan dahulu sampai suatu masa. Tetapi, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa Allah akan menurunkan adzab kepada umat ini, seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Karena Allah pernah mengabarkan bahwa tidak akan mengadzab suatu kaum sedang Rasulullah saw. berada di antara mereka. Sedangkan saat ini Rasulullah saw. telah wafat. Dan Allah tidak akan mengadzab suatu kaum sedangkan mereka beristighfar kepada Allah, sedangkan manusia saat ini, lebih banyak yang lalai dari pada yang berdzikir, lebih banyak yang berbuat maksiat dari pada yang beristighfar. Maka, datangnya adzab itu sangat mungkin terjadi mengingat kondisi mayoritas manusia dewasa ini telah jauh dan teramat jauh dari petunjuk, dan terang-terangan menentang aturan Allah dan Rasul-Nya. Kemaksiatan merajalela, zina, khamr, judi, penipuan, dan pemerkosaan hak sudah menjadi menu yang selalu disantap oleh masyarakat.

Maka dari itu, marilah kita tengok sejarah umat-umat terdahulu, agar kita menyadari betapa keras ancaman, betapa pedih dan mengerikannya siksaan yang diberikan oleh Allah kepada umat yang mendurhakai, di dunia dan di akherat, dan betapa besar nikmat yang diberikan kepada umat yang mentaati dan mengikuti petunjuk-Nya. Lebih dari itu, dengan mempelajari dan menghayati kisah-kisah orang-orang terdahulu, baik yang beriman maupun yang durhaka, kita harapkan hal itu bisa menjadi penyubur iman dan keyakinan yang ada di lubuk hati, akan kebenaran risalah Ilahi yang dibawa oleh Rasul-Nya, juga agar tumbuh rasa takut di dalam sanubari akan murka Allah, yang tiada sesuatu pun yang mampu menghalangi kehendak-Nya.
Yang pertama, kita lihat kaum Nabi Nuh a.s. yang mendustakan Nabi mereka. Tentang mereka Allah berfirman, "Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, 'Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman'. Maka dia mengadu kepada Rabbnya, 'bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)'. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan." (QS. Al-Qamar : 9 - 12).

Coba kita bayangkan, pintu-pintu langit dibuka sehingga turunlah hujan yang tercurah limpah dengan sangat deras, ditambah lagi Allah menjadikan seluruh permukaan bumi memancarkan air, hingga tanah yang gersang sekalipun. Maka, air dari langit bertemu dengan air yang memancar dari bumi hingga akhirnya meninggi setinggi puncak gunung. Habislah apa yang dimuka bumi, tenggelam semuanya. Apakah hukuman mereka hanya sebatas itu? Tidak. Allah berfirman, "Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah." ( QS. Nuh : 25).

Adapun Nabi Nuh a.s. dan orang-orang beriman yang bersama dengannya, mereka diselamatkan oleh Allah. Itu adalah merupakan sejarah besar yang pernah berlalu di muka bumi ini yang harus kita ambil sebagai pelajaran.

Yang kedua, kaum 'Ad. Yaitu kaum Nabi Hud a.s., yang mampu membangun bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun semisalnya. Tetapi kelebihan yang ada pada mereka itu tidak dapat memberikan manfaat sedikitpun kepada mereka ketika mereka mendustakan Nabi Hud a.s., yang kemudian diadzab oleh Allah.

Allah berfirman, "Kaum 'Aadpun telah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus-menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang. Maka betapakah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku." (QS. Al-Qamar: 18-21).

Bagian yang lain Allah berfirman, "Adapun kaum 'Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (QS. Al-Haaqqah: 6-7). Padahal, adzab mereka tidak cukup sebatas itu, bahkan adzab yang akan mereka terima di akherat lebih pedih.

Berikutnya, kaum nabi Luth a.s.. Kaum yang padanya terkumpul antara ingkar (kafir) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan perbuatan keji yang belum dilakukan oleh kaum yang sebelumnya. Yaitu, mereka menyukai sesama jenis mereka dan meninggalkan istri-istri mereka. Perbuatan mereka ini sangat terkutuk. Perbuatan yang mencerminkan rusaknya fitrah, dan kacaunya perikemanusiaan dan hati nurani mereka. Istilah dari perbuatan seperti yang mereka lakukan itu disebut liwath, mengingat asalnya adalah dari kaum Nabi Luth a.s.. Dan di jaman sekarang, perbuatan tersebut dikenal dengan homosek.

Jika di jaman Nabi Luth a.s. dikhabarkan bahwa mereka melakukannya antara laki-laki dengan laki-laki, tetapi di saat ini, kaum perempuan tidak mau ketinggalan. Sebagian mereka juga ada yang berpikiran menyimpang dari fitrah kemanusiaan, yaitu ketika sebagian mereka menyukai sesama jenis mereka. Hal ini dikenal dengan istilah lesbi. Bahkan, ada khabar yang sangat heboh menunjukkan kebejatan sebagian manusia dewasa ini, ketika telah disahkan perbuatan keji mereka itu, di salah satu belahan bumi di Eropa. Yaitu, mereka mengesahkan undang-undang kawin sejenis. Na'udzubillah min dzalik. Bukankah ini perbuatan yang sudah benar-benar melanggar aturan Allah dan melampaui batas yang dilakukan dengan terang-terangan?

Lalu, apa yang diganjarkan Allah kepada kaum Nabi Luth a.s. setelah keingkaran dan pembangkangan mereka itu? Sebelum itu, Nabi Luth a.s. tak henti-hentinya mengingatkan kepada mereka untuk bertauhid kepada Allah, dan meninggalkan perbuatan keji mereka. Tetapi, apakah jawaban mereka? Inilah berita dari Allah, "Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan, 'Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda'wakan dirinya) bersih'." (QS. An-Naml:56).

Kemudian, setelah itu Allah memberikan keputusan untuk mereka. Allah berfirman, "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim." (QS.  Hud: 82-83).

Dan tentang Nabi Ibrahim, Allah berfirman, "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth). Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas. Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih." (QS. Adz-Dzariyat: 31-37).

Kisah-kisah di atas, dan masih banyak kisah-kisah yang lain, seperti kaum Madyan, kaum Tsamud, Fir'aun, dan lain-lainnya, sangatlah penting untuk kita ambil pelajaran. Karena, semua itu berkaitan dengan masalah tauhid. Semua kisah tersebut bukanlah kisah yang dibuat-buat, dan sekedar hanya untuk bahan dongengan. Akan tetapi, mengandung sesuatu yang sangat besar. Semua kisah tersebut berasal dari Alquran. Dan Alquran, seluruhnya berisi tentang penetapan terhadap tauhid, memurnikan peribadatan hanya untuk Allah semata, atau mengesakan Allah dalam beribadah. Dan kisah-kisah di atas semuanya bermuatan tauhid, yaitu ketika berbicara tentang umat yang mengingkari seruan tauhid, yang merupakan inti ajaran para rasul. Masalah tauhid, adalah masalah yang sangat asas dan prinsip. Apabila seseorang keliru dalam masalah tersebut, berarti dia tergelincir ke jurang kesesatan dan kecelakaan yang berkepanjangan. Na'udzubillah min dzalik. Semoga Allah menunjukkan kita jalan-Nya yang lurus dan tidak tergelincir seperti kebanyakan orang.

Berkenaan dengan kisah-kisah seperti tersebut di atas, Syekh Utsaimin rahimahullah mengatakan, "Sesungguhnya, dalam menyikapi kisah-kisah tersebut dan semisalnya, manusia terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, mereka yang mengetahui dan mengenal Allah beserta tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terjadi, kemudian mereka mengambil pelajaran dari kejadian yang dialami orang-orang yang telah lalu, hingga mereka kembali kepada Allah, takut, sangat takut apabila mereka tertimpa apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu.

Adapun kelompok kedua, kelompok yang jahil (bodoh) dan tidak mengenal Allah, hati mereka kosong dari keimanan dan keras karena kedurhakaan mereka. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kejadian-kejadian itu adalah alamiah'. Sehingga mereka tidak memperhatikannya, dan tidak melihat akibat yang datang dari Allah, yaitu akibat bagi orang-orang yang mendustakan Allah dan para rasul-Nya. Kita memohon kepada Allah dengan ayat-ayatnya, dan dengan asma'-asma ' dan sifat-sifat-Nya, agar menjadikan kita sebagai orang yang mampu mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan takut akan ancaman dan siksa-Nya. Dan semoga Allah melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita, sesungguhnya Dia Maha Pemberi."

Demikianlah, hendaknya kita bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut, dan menambah rasa takut kepada Allah, apabila ditimpakan kepada kita apa-apa yang telah ditimpakan terhadap umat-umat terdahulu. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan melindungi kita dari murka-Nya.


Jumat, 28 Mei 2010

BERHARAP KEPADA ALLAH

Saudaraku,...
Kepada Allah sajalah pengharapan semua makhluk semstinya dihadapkan, tentu saja jangan yang aneh-aneh. Setiap harapan yang datang kpada Allah buknlah harpan yang kosong tanpa memilki nilai.

Nilai itu diperoleh karena usaha manusia itu sendiri. Jika seseorang berharap menjadi kaya, ya bekerja dong. Allah tidak tidak Akan begitu saja menurunkan kekayaan kepada manusia, kalau sang pemohon hanya bermalas-malsan di atas ranjang.

Selasa, 25 Agustus 2009

MENYEMBUNYIKAN ILMU

Saudaraku,…
Sesungguhnya sudut pandang manusia memang jauh berbeda dengan sudut pandang Allah SWT. Apa yang dipandang baik bagi manusia belum tentu baik pula dalam pandangan Allah. Demikian juga sebaliknya. Karena itulah, Allah menghendaki agar seluruh hamba-Nya menyelaraskan setiap sudut pandang atau pertimbangan hamba-Nya dengan sudut pandang Allah. Termasuk dalam ini adalah mengenai ilmu pengetahuan. Manusia adalah makhluk yang tidak memiliki kekuatan apapun terhadap dirinya sendiri atau makhluk lain diluar dirinya. Karena kelemahan itulah, maka ketika Allah menetapkan manusia menjadi khalifah di bumi-Nya, maka manusia diberikan ilmu pengetahuan. Allah SWT berharap dengan pemberian tersebut manusia menjadikan dunianya menjadi baik. Sebagian manusia mampu memenuhi harapan Allah SWT, tapi sebagian yang lain menjadikannya seperti sebuah neraka kecil di dunia.

Orang-orang yang mampu menyeimbangkan sudut pandangnya dengan sudut pandang Allah adalah orang yang mampu mengelola pemberian Allah itu dengan baik. Sedangkan bagi mereka yang memberikan jarak antara dirinya dengan Allah membuat pemberian Allah tersebut sebagai sebuah malapetaka yang luar biasa. Ingatlah bahwa apa yang diberikan Allah kepada manusia bukanlah untuk kemanfaatan dirinya sendiri, tetapi untuk mencipatakan kemudahan dan kemanfaatan bagi manusia dan makhluk Allah yang lain. Dan untuk mencapai hal tersebut, pengetahuan tidak dapat dikekalkan pada satu orang. Ilmu pengetahuan harus digaungkan kepada seluruh manusia yang lain. Ilmu pengetahuan harus dikabarkan kepada seluruh pelosok dunia. Sehingga pada akhirnya kemanfaatan pengetahuan tersebut tidak hanya dirasakan oleh satu orang saja, melainkan oleh seluruh umat manusia yang lainnya.

Ilmu secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu pengetahuan dunia dan pengetahuan akhirat. Kedua pengetahuan ini berasal dari Allah SWT. Dan Oleh Allah pula kedua pengetahuan tersebut diberikan kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Pengetahuan akhirat berkaitan mengenai pencapaian kebahagiaan kehidupan akhirat. Pengetahuian ini mengajarkan manusia mengenal Tuhannya dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya, termasuk dalam hal ini mengenali surga dan neraka dan segala sesuatu yang mengikutinya. Sehingga ketika seseorang mendapat kehormatan memperoleh pengetahuan ini, ia telah mengetahui dengan jelas apa yang dikehendaki Tuhannya. Sedangkan pengetahuan dunia diperlukan untuk menjaga semua ibadah dan ketaatan kepada Allah dari segala kepayahan menyertai kemudian. Karena untuk dapat stabil berjalan kepada Allah, seorang manusia harus memberdayakan dirinya, dan upaya tersebut hanya dapat dicapai dengan pengetahuan yang baik mengenai dunia. Tetapi sayangnya, pengaruh syaitan dan segala sesuatu yang melekat kepadanya lebih kuat daripada suara-suara yang datang dari sisi Allah.

Lihatlah sebagian saudara Anda yang dengan angkuh menyembunyikan pengetahuan dari pandangan manusia yang lain. Mereka beranggapan jika pengetahuannya terbagi dengan orang lain, maka rejekinya juga akan akan berlalu darinya. Sepertinya mereka berpikir bahwa kemudahan dan rejekinya yang datang kepadanya berasal dari ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Lalu kemanakah mereka menyembunyiaan Allah SWT? Bukankah ilmu pengetahuan itu bagaimana pun wujudnya muaranya adalalah Allah SWT? Sesungguhnya tidak pernah ada satu pengetahuan pun yang terlahir tanpa kehendak dam restu-Nya. Begitu juga dengan kehendak Alah mengalirkkan rejeki kepada manusia melaui pengetahuan-pengetahuan tersebut. Dunia ini memang sungguh luar biasa. Hanya sedikit rejeki yang datang melaluinya dirinya, maka sang khalifah pun lupa dengan kewajiban yang harus dikerjakan. Jika ini terus berlanut, Anda dapat bayangkan betapa besar kerusakan yang akan terjadi di dunia ini, ia akan berada dalam cengkeraman keserakahan yang tidak ada habis-habisnya. Adakah kerusakan lain yang lebih besar daripada munculnya keserakahan yang besar dari dunia ini? Semua kejahatan yang timbul di dunia ini berawal dari kesrakahan yang besar terhadap dunia. Sehingga sangat mengherankan apabila seorang cerdik pandai yang tidak mau berbagi ilmu pengetahuan dengan manusia yang lain. Dan sangat mengherankan pula orang alim yang enggan mengabarkan kebenaran yang datang dari sisi Tuhannya.

Allah SWT berfirman, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” ( QS. Al-Baqarah : 255).

Saudaraku, ...
Firman Allah sebagaimana disebutkan di atas adalah ayat kursy. Sebuah ayat Al-qur’an yang memiliki kekuatan luar biasa. Saudara kita banyak yang membacanya ketika berdekatan dengan Allah. Tetapi kita tidak akan berbicara mengenai keutamaan ayat ini. Tetapi lihatlah betapa Allah SWT menjelaskan tentang diri-Nya kepada seluruh manusia. Melalui ayat ini Allah menjamin hamba-hamba-Nya dalam pemeliharaan yang terbaik. Jika Anda kagum dengan pemeliharaan seorang induk ayam kepada anaknya atau kasih sayang ibu kepada putra-putrinya, maka sepantasnyalah Anda memberikan kekaguman yang sangat besar kepada Allah. Allah SWT adalah penjaga, pemelihara dan penjamin kehidupan yang terbaik di seluruh pelosok alam semesta ini dan di belahan alam lain yang tidak tersentuh oleh alam pikiran kita. Mungkin orang yang menyembunyikan pengetahuan karena alasan duniawi semata belum mengenal Tuhannya dengan benar. Sebab jika ia mengenal Tuhanya tentu ia tidak akan khawatir dengan pengetahuan yang ia miliki. Mereka tidak akan ketakutan kehilangan pendapatan karena harus berbagi pengetahuan yang dimiliki kepada orang. Dan ternyata orang-orang yang berpikiran duniawi seperti itu ternyata banyak tersebar di sekeliling Anda, bahkan berbincang-bincang dengan Anda. Dan tentu saja orang-orang yang mengkhianati ilmu pengetahuannya akan mendapat balasan yang tidak menyenangkan. Boleh saja seorang manusia beranggapan bahwa dengan tidak berbagi pengetahuan dengan sesamanya, maka yang akan memperoleh manfaat dari pengetahuan tersebut adalah dirinya sendiri. Tetapi jika Allah menghendaki pengetahuan tersebut memberi manfat kepada hamba-Nya, apakah ia memilki kemampuan mencegah apa yang dikehendaki Allah tersebut. Ingatlah bahwa pengetahuan merupakan milik Allah yang diberikan sementara kepada orang-orang terpilih yang dikehendaki-Nya. Allah SWT dapat mengambil kapan saja dan di mana saja tanpa harus mendapat persetujuan Anda. Bahkan Andalah yang harus siap ketika pengetahuan tersebut ditarik dari Anda. Allahlah yang membuat Anda mampu menerima pengetahuan tersebut dengan baik, sehingga masyarakat sekeliing Anda menyebut Anda sebagai orang yang cerdik pandai atau seorang alim ulama. Tetapi jika Allah tidak ridla dengan perbuatan-perbuatan Anda melalui pengetahuan tersebut, maka Allah akan membuat Anda kehilangan manfaatnya.

Itulah yang akan terjadi ketika Allah mengambil pengetahuan tersebut dari diri Anda . Rasulullah Muhammad Saw bersanda, “Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta.( HR. Abu Na’im ) Dan kepada orang-orang yang mau berbagi pengetahuan dengan orang lain, Allah memberikan balasan menyenangkan. Allah akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi para pelakunya, lalu kepadanya akan ditambahkan banyak pengetahuan yang akan menyempurnakan pengetahuan sebelumnya. Dan akhirnya Allah akan membuat kehidupannya penuh kebahagian dan kesejahteraan yang tidak diperoleh oleh orang-orang yang mengkhianati pengetahuannya.

Allah SWT adalah Dzat Maha Adil yang tidak akan lengah membuat perhitungan kepada hamba-hambanya. Kalau hamba-Nya berbuat baik dengan pengetahuan-Nya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya jauh lebih banyak daripada apa yang diberikan kepada orang lain. Jadi Anda tidak perlu khawatir pekerjaan Anda diserobot saudara Anda yang mengetahui ilmu pengetahuan yang Anda milki, sehingga rejeki Anda berkurang karenanya. Rejeki Anda datangnya dari Allah dan tidak ada yang mampu menghentikan kedatangannya, kecuali karena Allah SWT memang menghendakinya. Saudara,... Berbagilah pengetahuan yang bermanfaat kepada saudara-saudara Anda. Sehingga seluruh manusia akan memperoleh manfaat pengetahuan tersebut. Allah akan melihat Anda dan menjadi saksi dari perbuatan baik Anda. Anda tidak akan ditinggalkan Allah SWT dan manusia lainnya, selama Anda bertanggung jawab terhadap pengetahuan yang Anda peroleh. Itulah yang Allah janjikan kepada hamba-hamaba-Nya. Jadi bergembiralah saudaraku!

Senin, 10 Agustus 2009

PERBEKALAN AKHIRAT

Saudaraku,... 
Seorang muslim yang baik harus memilki pengetahuan yang baik pula mengenai perjalanan kehidupan. Islam mengenal perjalanan kehidupan tersebut dalam tiga bagian, yaitu, kehidupan dalam rahim, kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Dan diantara kehidupan di dunia dan di akhirat, terdapat kehidupan alam kubur, yang merupakan kehidupan penantian yang panjang. Karena itulah seorang muslim arus menyiapkan perbekalan sebaiknya untuk kebaikannya di alam kubur maupun kehidupannya di akhirat. Dan persiapan perbekalan itu dimulai sejak ia menjalani kehidupan di dunia ini. Ketika seseorang masih belum mampu berdiri sendiri, pencarian perbekalan dibantu oleh orangtua. Karenanya kemampuan seseorang dalam menyiapkan perbekalan akhirat akan dipengaruhi oleh kemampuan orang tua menyiapkan perbekalan akhirat untuk anaknya. Jika semakin baik perbekalan yang disiapkan orang tua, maka semakin baik pula perbekalan yang akan disiapkan oleh anaknya. Tetapi jika perbekalan yang disiapkan orang tua untuk anaknya buruk, maka perbekalan akhirat yang akan dibawa anaknya juga akan buruk. Apa yang ditunjukkan orang tua itulah yang kelak akan dibawa oleh anaknya. Itulah hebatnya seorang pemimpin. Baik buruk sebuah keluarga dan keturunan yang mengikutinya akan banyak dipengaruhi oleh perbuatan pemimpin keluarga tersebut. Kalau Anda memimpin sebuah keluarga dalam banyak kebaikan itulah sesungguhnya perbekalan terbaik yang akan dibawa di akhirat. Anak-anak Anda akan melihat itu sebagai sebuah kebaikan dan ini akan terus berlangsung pada keturunan yang selanjutnya. Bayangkan kalau orang tua mengajarkan sesuatu yang buruk kepada anaknya atau menunjukkan sesuatu yang buruk di depan anaknya, maka buahnya adalah keburukan itu akan menjadi perbekalannya kelak di akhirat. Pondasi dari seluruh kebaikan terletak pada kekuatan yang dibangun sejak manusia itu mengenal dunia. Kemudian diperkuat oleh pengetahuan dan keimanan yang datang kemudian, dan ini membutuhkan peran orang tua yang besar. Tidak dapat dipungkiri, bahwa hanya dalam keluarga yang baik sajalah kebaikan itu akan tumbuh menjadi kuat. Dan ini akan menjadi dasar persiapan perbekalan akhirat yang luar biasa. Hal yang juga menjadi sangat penting adalah kesadaran manusia itu sendiri mengenai kehidupan yang abadi di akhirat. Kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak berakhir setelah nyawanya tercerabut di bumi. Orang yang meninggal dunia harus menjalani masa penantian dan perhitungan yang lama. Sahabat Rasululah Saw Abu Bakar Shidiq ra, berkata, “Barangsiapa masuk kubur atau mati tanpa membawa bekal, maka seakan-akan menyeberangi lautan tanpa perahu (pasti tanggelam).” Manusia yang tidak memiliki perbekalan akhirat akan tenggelam ke dalam lautan kedukaan yang hebat dan tidak memiliki harapan bagi kesenangan akhirat yang dijanjikan Allah SWT. Tahukah Anda apa yang terjadi seoreang manusia tenggelam dalam lautan yangbegitu dalam? Ia akan mati tanpa mampu menikmati keindahan lautan yang ditampakkan Allah bagi manusia yang lainnya, baik yang ditampakkkan di permukaan maupun di dalam air. Berbeda kalau misalnya ia ketika menyeberangi lautan mengggunakan sebuah kapal atau setidaknya sebuah perahu yang kuat, maka ia pun akan mampu menikmati keindahan permukaan laut yang memukau. Dan jika ia memilki peralatan menyelam, maka ia pun dapat menikmati keindahan bawah laut yang jauh lebih indah daripada birunya air di permukaan laut. Inilah perbedaan yang jelas antara memiliki perbekalan yang baik dan tanpa perbekalan sama sekali. Perjalanan akhirat tentu lebih menyulitkan daripada menyeberangi lautan dan resiko-resiko yang terdapat di dalamnya juga lebih mengerikan daripada tenggelam di lautan. Kalau Anda tidak memperbaiki perbekalan tersebut, bagaimana pula Anda mampu menghadapi kesendirian alam kubur dan pertanggungjawaban Anda di hadapan Allah. Ketika seseorang meninggalkan dunia, ia harus menunggu untuk dibangkitkan hingga hari kiamat itu tiba. Selama itu pula ia akan mengalamin kesendirian yangs angat menyiksa. Tentu saja keadaan seperti ini hanya terjadi pada seseorang yang tidak mempersiapkan perbekalan akhirat sama sekali. Liang kubur yang sudah sempit akan menjadi semakin sempit, dan kesusahannya pun akan dimulai dari sini, bahkan sebelum ia mengalami perhitungan di akhirat. Jangan menngira bahwa setelah nyawa tercerabut dari jasad jasmani, tubuh dan pikirannya terbebas dari segala tekanan. Sama sekali tidak! Kehidupan alam kubur adalah ruang penantian sebelum manusia berkumpul untuk dimintai peranggungjawaban di akhirat. Itulah yang disebut kehidupan, di manapun dan bagaimanapun wujudnyan tidak akan terlepas dari tanggungjawab. Di dunia Anda bertanggung jawab terhadap perbuatan dan pekerjaan duniawi Anda. Di akhirat Anda mempertanggungjawabkan kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah SWT kepada manusia selama di dunia. Dan perbekalan itulah yang kelak akan menyelamatkan Anda dan memberikan Anda banyak kesenangan di akhirat. Saudaraku,... Persiapkanlah perbekalan akhirat Anda sebaik mungkin, selama nyawa Anda masih melekat di badan. Pergunakan waktu yang terus berkurang untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Ikutilah langkah para kekasih Allah menyiapkan perbekalan untuk kehidupan akhiratnya. Janganlah Anda dengan nafsu yang meluap-luap berburu kesenangan dunia hingga melupakan akhirat, tapi jangan pula mematikan gairah hidup Anda untuk kepentingan akhirat Anda. Kesenangan dunia pun akan dimintakan pertanggungjawaban kelak di akhirat. Jadi kalau kesenangan itu tidak digunakan dengan selayaknya, tentu Allah SWT akan menegur Anda. Itulah yang disebut perbekalan akhirat yang sesungguhnya.

Jumat, 31 Juli 2009

PUSAKA KEBAIKAN

Saudaraku,..
 Setiap orang mungkin mampu melakukan perbuatan yang baik, tetapi tidak semua orang mampu menjaga perbuatan baik tersebut menjadi sebuah kebaikan yang besar. Sehingga setiap manusia dituntut untuk menjaga perbuatan baiknya agar tidak memiliki cacat yang akan mengurangi nilai kebaikan tersebut. Inilah yang kemudian disebut sebagai pusaka kebaikan. Pusaka kebaikan itu mampu meningkatkan nilai dari perbuatan baik yang kita lakukan. Pada akhirnya ketika perbuatan itu memiliki nilai tambah di hadapan Allah, maka perbuatan tersebut akan mengantarkan pelakunya dalam takaran iman yang lebih berkualitas.

Rasulullah Muhammad Saw menyebutkan tiga hal yang menjadi pusaka kebaikan. Yang pertama adalah merahasiakan keluhan. Orang yang mencintai Allah atau orang yang sedang melakukan perjalanan kepada Allah adalah orang yang mencintai ketentuan dan ketetapan Allah yang diberlakukan kepadanya. Orang-orang seperti ini tentunya sangat mencintai kehidupannya, walaupaun ia adalah seorang fakir miskin. Menjadi Hamba Allah tidaklah cukup kalau hanya berbuat kebaikan, tetapi Anda juga harus merahasiakan keluhan-keluhan Anda kepada manusia. Bukankah Anda masih memiliki Allah? Karena itu, maka mengeluhlah kepada Allah.

Sesungguhnya orang-orang yang mengumbar keluhan-keluhannya kepada manusia layaknya manusia yang tidak memiliki kepercayaan yang baik kepada Tuhannya. Jika ia mengakui Allah sebagai Tuhan yang tunggal, tentunya ia tidak akan berlari kepada makhluk lain yang kekuatannya terbatas. Sesungguhnya apa yang dapat diberikan manusia pasti dapat diberikan Allah, tetapi manusia belum tentu mampu memberikan kebaikan sebagaimana yang telah diberikan Allah. Merahasiakan keluhan menjadi pusaka kebaikan karena ketika Anda melakukannya maka Anda berada dalam takaran iman yang luar biasa. Hanya kekuatan iman saja yang mampu menguatkan seseorang dalam kelaparan tanpa berteriak atau mengemis pada manusia. Hanya dengan kekuatan iman pula seseorang mampu bertahan dalam kepayahan tanpa mengharapkan pertolongan saudaranya. Keyakinannya bahwa Allah tidak akan membiarkan dirinya kepayahan telah membawanya pada titik di mana setiap kepayahan, kesukaran maupun kelaparan adalah bagian kecil dari rencana besar Allah SWT untuk membahagiakan dirinya. Saat itu seseorang akan mampu menerima keadaan apapun dari Tuhannya tanpa mengeluh. Allah adalah Dzat yang Maha Baik, maka kepastian dan ketentuan-Nya pun pasti baik untuk seluruh makhluk-Nya. Karena itulah, ketika Anda merasakan beban berat terhadap dunia ini, berlarilah kepada Allah. Disanalah setiap kebaikan dan keburukan akan berakhir. Allah pun bisa cemburu ketika hamba-Nya lebih suka menyampaikan kesedihannya pada hamba-Nya yang lain daripada kepada Dirinya yang kekal. Hal ini tidak terkecuali ketika Anda sedang melakukan kebaikan.

Merahasiakan keluhan ketika melakukan kebaikan adalah sebuah energi besar yang akan mampu mendorong laju kebaikan kepada sasaran-sasarannya. Dan tentunya Allah akan membuat kebaikan ini menjadi kebaikan yang sangat besar bagi Anda. Tetapi bayangkanlah kalau Anda melandasi kebaikan-kebaikan Anda dengan keluhan-keluhan kepada manusia. Maka bisa saja kebaikan Anda akan terhenti d tengah jalan dan tidak mengenai sasaran yang Anda kehendaki. Bisa saja orang lain akan berpikir Anda tidak serius dengan kebaikan-kebaikan Anda. Maka merahasiakan keluhan ketika Anda berbuat kebajikan adalah penting. Dan selayaknya menjadi perhatian pula bagi pelaku kebaikan.

Saudaraku,...

Pusaka kebaikan yang kedua adalah merahasiakan musibah. Orang-orang yang beriman biasanya lebih menyukai menyimpan duka dan musibah yang mereka alami. Sehingga dalam pandangan masyarakatnya mereka terlihat layaknya orang-orang yang selalu mendapatkan kesenangan dari Allah. Hal ini berbeda dengan manusia pada umumnya. Mereka apabila mengalami musibah biasanya lebih suka mengabarkan kepada orang lain tentang musibah tersebut, tentu saja dengan harapan mereka akan mendapatkan bantuan selekasnya. Orang-orang seperti ini bukanlah orang yang kuat menghadapi sedikit ujian dari Tuhannya. Kebiasaan untuk menunjukkan musibah kepada orang lain lambat laun akan menjadikan seseorang menjadi orang lemah dan memiki ketergantungan yang berlebihan kepada makhluk. Inilah yang sebenarnya tidak boleh melekat pada orang-orang yang beriman. Adanya musibah yang dialami manusia sebenarnya merupakan sarana agar manusia mendekatkan dirinya pada Sang Khalik, menyadari keterbatasannya sebagai makhluk dan kekuasaan Allah yang tidak terhingga. Hingga pada akhirnya seseorang akan menyadari musibah tersebut sebagai sebuah karunia yang luar biasa. Sesungguhnya ketika musibah tidak lagi dianggap sebagai musibah maka tidak perlu seseorang mengatakan dirinya terkena musibah. Karena pada titik tersebut musibah tidak tampak lagi sebagai sebuah musibah, melainkan terlihat layaknya sebuah nikmat yang luar biasa. Karena itu pula seseorang yang beriman selayaknya memandang sebuah musibah sebagai sebuah kesenangan dari Allah, karena kita tidak mengetahui apa yang dirahasiakan Allah SWT atas musibah tersebut. Saudara-saudara kita banyak yang memperoleh kekuatan luar biasa ketika mereka mampu meletakkan musibah tersebut menjadi rahasia dirinya dan Allah. Allah menjaganya dari segala sesuatu yang menyedihkan ketika orang lain berduka terhadap kehidupan yang menyesakkan mereka. Inilah penjagaan Allah yang tidak akan pernah dapat diberikan oleh makhluk-Nya.

Pusaka kebaikan yang ketiga adalah merahasiakan shadaqah (yang kita infakkan). Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Ketika Tuhan menciptakan bumi diciptakanlah gunung sebagai pasak, sambil terheran-heran para malaikat bertanya: ‘Ya Tuhan! Apakah ada dari makhluk-Mu yang lebih keras dari gunung?’ ‘Ada, yaitu besi.’ Jawab Tuhan. ‘Adakah yang lebih keras dari besi?’ ‘Api.’ , jawab Tuhan. ‘Adakah yang lebih keras dari api?’ ‘Air’, jawab Tuhan. ‘Adakah yang lebih keras dari air?’ ‘Angin’, jawab tuhan. ‘Adakah yang lebih keras dari angin? Dijawab oleh Allah, ‘yaitu anak Adam yang memberi shadaqah dengan tangan kanannya, tidak diketahui tangan kirinya.’ Lalu bagaimana merahasiakan shadaqah dapat memilki kekuatan yang luar biasa dan mengapa pula disebut sebagai pusaka kebaikan? Rahasianya terletak pada kedekatan seorang manusia dengan Tuhannya. Sesungguhnya manusia yang mampu mendekati Tuhannya dengan jarak yang sangat dekat akan menjaga shadaqah maupun ibadah yang lain dari pengaruh manusia. Baginya tidak ada yang lebih baik kecuali shadaqah itu hanya diketahui dirinya dan Allah SWT. Karena ketika perbuatan baik itu (shadaqah) diketahui oleh orang lain, maka bukan tidak mungkin hatinya akan terjangkit penyakit ujub terhadap shadaqah tersebut.

Karena alasan itu pula orang-orang Islam pada jaman dahulu (salaf) berusaha menyembunyikan shadaqahnya dari pandangan orang lain. Sehingga diantaranya lebih suka memberikan shadaqahnya kepada orang-orang buta agar tidak dikenalnya, dan ada yang mengikatkan sedekahnya pada baju yang dipakai si miskin di kala tidur atau ditaruhnya di jalan yang dilalui orang fakir. Orang yang beriman selalu khawatir terhadap perbuatan baik yang mereka lakukan, apakah akan diterima Allah sebagai sebuah kebaikan atau Allah akan melemparkan kebaikan itu ke wajah pelakunya karena terdapat setitik kesombongan yang berada di hatinya pelakunya. Memberikan shadaqah kepada orang lain harus dimulai dengan alasan yang baik, dikerjakan dengan motivasi yang baik, dan diakhiri dengan cara yang baik. Tidak jarang kita menemukan saudara kita yang memberikan shadaqah kepada fakir miskin dengan mengundang media elektronik maupun cetak. Lalu keesokan harinya berita mengenai shadaqah mereka tersebut dimuat di koran maupun ditayangkan di televisi dan tentu saja diketahui oleh banyak orang. Orang yang dekat kepada Allah pastinya tidak akan menyukai publikasi semacam ini. Karena cara seperti ini tidak akan mendekatkan dirinya kepada Allah, malainkan akan membuat pelakunya memiliki kecenderungan yang lebih besar kepada makhluk. Entah disadari atau tidak, perbuatan ini akan menjauhkan mereka dari Allah dan kebahagiaan abadi yang berada disamping-Nya. Saudaraku,... Demikianlah tiga pusaka kebaikan yang harus diketahui orang yang beriman. Berusahalah untuk menjadikan ketiganya sebagai bagian dari kebaikan-kebaikan Anda. Jagalah perbuatan baik Anda dengan tidak mengeluhkan kepayahan Anda kepada manusia. Peliharalah ibadah Anda dengan merahasiakan musibah atau kedukaan yang Anda alami. Dan pupuklah senantiasa kebaikan shadaqah Anda dengan merahasiakannya dari pendengaran dan pandangan saudara Anda yang lain. Dan lihatlah, Allah SWT akan memberikan kebahagiaan yang luar biasa kepada Anda. Ketika Anda mampu memenuhi keempat pusaka kebaikan ini, maka perhatikanlah bagaimana Allah akan memperlakukan Anda. Perhatikanlah, apakah Anda masih merasa kepayahan atau bersedih karena dunia tidak memberikan keadilan yang layak bagi Anda?

Apabila Anda menemukan diri Anda tidak terpengaruh oleh tekanan-tekanan dari arah manapun yang ditimbulkan oleh dunia, maka itulah penjagaan Allah SWT yang sebenarnya. Karena itulah, jangan pernah membiarkan diri Anda meninggalkan ketiga pusaka kebaikan ini sepanjang hidup Anda.