Tidaklah Allah menciptakan manusia melainkan Allah juga menciptakan setan untuk mengujinya. Secara fitrah, manusia akan selalu cenderung pada kebaikan. Tetapi, untuk selalu sejalan dengan fitrahnya, sangatlah sulit. Karena, ketika manusia hendak memilih kebaikan, akan selalu ada bisikan-bisikan yang menghalanginya, dan menganjurkan yang sebaliknya. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw. bahwa di dalam hati manusia ada dua bisikan; bisikan malaikat dan bisikan setan. Bisikan malaikat adalah kebaikan dan bisikan setan adalah kejahatan. Adapun, bisikan mana yang akan diikuti oleh manusia, tergantung pada keadaan hati manusia itu. Jika hatinya bersih, ia akan mendengar bisikan malaikat, namun jika hatinya kotor dan berpenyakit, dia akan lebih sering menuruti bisikan setan. Dari situ, timbullah dua akibat, yaitu kebajikan dan kejahatan. Kebaikan dan kejahatan itu pun beragam. Ada yang erat kaitannya dengan Allah langsung, dan ada yang berhubungan dengan sesama hamba.
Jumat, 28 Mei 2010
BERHARAP KEPADA ALLAH
Saudaraku,...
Kepada Allah sajalah pengharapan semua makhluk semstinya dihadapkan, tentu saja jangan yang aneh-aneh. Setiap harapan yang datang kpada Allah buknlah harpan yang kosong tanpa memilki nilai.
Nilai itu diperoleh karena usaha manusia itu sendiri. Jika seseorang berharap menjadi kaya, ya bekerja dong. Allah tidak tidak Akan begitu saja menurunkan kekayaan kepada manusia, kalau sang pemohon hanya bermalas-malsan di atas ranjang.
Selasa, 25 Agustus 2009
MENYEMBUNYIKAN ILMU
Sesungguhnya sudut pandang manusia memang jauh berbeda dengan sudut pandang Allah SWT. Apa yang dipandang baik bagi manusia belum tentu baik pula dalam pandangan Allah. Demikian juga sebaliknya. Karena itulah, Allah menghendaki agar seluruh hamba-Nya menyelaraskan setiap sudut pandang atau pertimbangan hamba-Nya dengan sudut pandang Allah. Termasuk dalam ini adalah mengenai ilmu pengetahuan. Manusia adalah makhluk yang tidak memiliki kekuatan apapun terhadap dirinya sendiri atau makhluk lain diluar dirinya. Karena kelemahan itulah, maka ketika Allah menetapkan manusia menjadi khalifah di bumi-Nya, maka manusia diberikan ilmu pengetahuan. Allah SWT berharap dengan pemberian tersebut manusia menjadikan dunianya menjadi baik. Sebagian manusia mampu memenuhi harapan Allah SWT, tapi sebagian yang lain menjadikannya seperti sebuah neraka kecil di dunia.
Orang-orang yang mampu menyeimbangkan sudut pandangnya dengan sudut pandang Allah adalah orang yang mampu mengelola pemberian Allah itu dengan baik. Sedangkan bagi mereka yang memberikan jarak antara dirinya dengan Allah membuat pemberian Allah tersebut sebagai sebuah malapetaka yang luar biasa. Ingatlah bahwa apa yang diberikan Allah kepada manusia bukanlah untuk kemanfaatan dirinya sendiri, tetapi untuk mencipatakan kemudahan dan kemanfaatan bagi manusia dan makhluk Allah yang lain. Dan untuk mencapai hal tersebut, pengetahuan tidak dapat dikekalkan pada satu orang. Ilmu pengetahuan harus digaungkan kepada seluruh manusia yang lain. Ilmu pengetahuan harus dikabarkan kepada seluruh pelosok dunia. Sehingga pada akhirnya kemanfaatan pengetahuan tersebut tidak hanya dirasakan oleh satu orang saja, melainkan oleh seluruh umat manusia yang lainnya.
Ilmu secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu pengetahuan dunia dan pengetahuan akhirat. Kedua pengetahuan ini berasal dari Allah SWT. Dan Oleh Allah pula kedua pengetahuan tersebut diberikan kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Pengetahuan akhirat berkaitan mengenai pencapaian kebahagiaan kehidupan akhirat. Pengetahuian ini mengajarkan manusia mengenal Tuhannya dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya, termasuk dalam hal ini mengenali surga dan neraka dan segala sesuatu yang mengikutinya. Sehingga ketika seseorang mendapat kehormatan memperoleh pengetahuan ini, ia telah mengetahui dengan jelas apa yang dikehendaki Tuhannya. Sedangkan pengetahuan dunia diperlukan untuk menjaga semua ibadah dan ketaatan kepada Allah dari segala kepayahan menyertai kemudian. Karena untuk dapat stabil berjalan kepada Allah, seorang manusia harus memberdayakan dirinya, dan upaya tersebut hanya dapat dicapai dengan pengetahuan yang baik mengenai dunia. Tetapi sayangnya, pengaruh syaitan dan segala sesuatu yang melekat kepadanya lebih kuat daripada suara-suara yang datang dari sisi Allah.
Lihatlah sebagian saudara Anda yang dengan angkuh menyembunyikan pengetahuan dari pandangan manusia yang lain. Mereka beranggapan jika pengetahuannya terbagi dengan orang lain, maka rejekinya juga akan akan berlalu darinya. Sepertinya mereka berpikir bahwa kemudahan dan rejekinya yang datang kepadanya berasal dari ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Lalu kemanakah mereka menyembunyiaan Allah SWT? Bukankah ilmu pengetahuan itu bagaimana pun wujudnya muaranya adalalah Allah SWT? Sesungguhnya tidak pernah ada satu pengetahuan pun yang terlahir tanpa kehendak dam restu-Nya. Begitu juga dengan kehendak Alah mengalirkkan rejeki kepada manusia melaui pengetahuan-pengetahuan tersebut. Dunia ini memang sungguh luar biasa. Hanya sedikit rejeki yang datang melaluinya dirinya, maka sang khalifah pun lupa dengan kewajiban yang harus dikerjakan. Jika ini terus berlanut, Anda dapat bayangkan betapa besar kerusakan yang akan terjadi di dunia ini, ia akan berada dalam cengkeraman keserakahan yang tidak ada habis-habisnya. Adakah kerusakan lain yang lebih besar daripada munculnya keserakahan yang besar dari dunia ini? Semua kejahatan yang timbul di dunia ini berawal dari kesrakahan yang besar terhadap dunia. Sehingga sangat mengherankan apabila seorang cerdik pandai yang tidak mau berbagi ilmu pengetahuan dengan manusia yang lain. Dan sangat mengherankan pula orang alim yang enggan mengabarkan kebenaran yang datang dari sisi Tuhannya.
Allah SWT berfirman, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” ( QS. Al-Baqarah : 255).
Saudaraku, ...
Firman Allah sebagaimana disebutkan di atas adalah ayat kursy. Sebuah ayat Al-qur’an yang memiliki kekuatan luar biasa. Saudara kita banyak yang membacanya ketika berdekatan dengan Allah. Tetapi kita tidak akan berbicara mengenai keutamaan ayat ini. Tetapi lihatlah betapa Allah SWT menjelaskan tentang diri-Nya kepada seluruh manusia. Melalui ayat ini Allah menjamin hamba-hamba-Nya dalam pemeliharaan yang terbaik. Jika Anda kagum dengan pemeliharaan seorang induk ayam kepada anaknya atau kasih sayang ibu kepada putra-putrinya, maka sepantasnyalah Anda memberikan kekaguman yang sangat besar kepada Allah. Allah SWT adalah penjaga, pemelihara dan penjamin kehidupan yang terbaik di seluruh pelosok alam semesta ini dan di belahan alam lain yang tidak tersentuh oleh alam pikiran kita. Mungkin orang yang menyembunyikan pengetahuan karena alasan duniawi semata belum mengenal Tuhannya dengan benar. Sebab jika ia mengenal Tuhanya tentu ia tidak akan khawatir dengan pengetahuan yang ia miliki. Mereka tidak akan ketakutan kehilangan pendapatan karena harus berbagi pengetahuan yang dimiliki kepada orang. Dan ternyata orang-orang yang berpikiran duniawi seperti itu ternyata banyak tersebar di sekeliling Anda, bahkan berbincang-bincang dengan Anda. Dan tentu saja orang-orang yang mengkhianati ilmu pengetahuannya akan mendapat balasan yang tidak menyenangkan. Boleh saja seorang manusia beranggapan bahwa dengan tidak berbagi pengetahuan dengan sesamanya, maka yang akan memperoleh manfaat dari pengetahuan tersebut adalah dirinya sendiri. Tetapi jika Allah menghendaki pengetahuan tersebut memberi manfat kepada hamba-Nya, apakah ia memilki kemampuan mencegah apa yang dikehendaki Allah tersebut. Ingatlah bahwa pengetahuan merupakan milik Allah yang diberikan sementara kepada orang-orang terpilih yang dikehendaki-Nya. Allah SWT dapat mengambil kapan saja dan di mana saja tanpa harus mendapat persetujuan Anda. Bahkan Andalah yang harus siap ketika pengetahuan tersebut ditarik dari Anda. Allahlah yang membuat Anda mampu menerima pengetahuan tersebut dengan baik, sehingga masyarakat sekeliing Anda menyebut Anda sebagai orang yang cerdik pandai atau seorang alim ulama. Tetapi jika Allah tidak ridla dengan perbuatan-perbuatan Anda melalui pengetahuan tersebut, maka Allah akan membuat Anda kehilangan manfaatnya.
Itulah yang akan terjadi ketika Allah mengambil pengetahuan tersebut dari diri Anda . Rasulullah Muhammad Saw bersanda, “Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta.( HR. Abu Na’im ) Dan kepada orang-orang yang mau berbagi pengetahuan dengan orang lain, Allah memberikan balasan menyenangkan. Allah akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi para pelakunya, lalu kepadanya akan ditambahkan banyak pengetahuan yang akan menyempurnakan pengetahuan sebelumnya. Dan akhirnya Allah akan membuat kehidupannya penuh kebahagian dan kesejahteraan yang tidak diperoleh oleh orang-orang yang mengkhianati pengetahuannya.
Allah SWT adalah Dzat Maha Adil yang tidak akan lengah membuat perhitungan kepada hamba-hambanya. Kalau hamba-Nya berbuat baik dengan pengetahuan-Nya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya jauh lebih banyak daripada apa yang diberikan kepada orang lain. Jadi Anda tidak perlu khawatir pekerjaan Anda diserobot saudara Anda yang mengetahui ilmu pengetahuan yang Anda milki, sehingga rejeki Anda berkurang karenanya. Rejeki Anda datangnya dari Allah dan tidak ada yang mampu menghentikan kedatangannya, kecuali karena Allah SWT memang menghendakinya. Saudara,... Berbagilah pengetahuan yang bermanfaat kepada saudara-saudara Anda. Sehingga seluruh manusia akan memperoleh manfaat pengetahuan tersebut. Allah akan melihat Anda dan menjadi saksi dari perbuatan baik Anda. Anda tidak akan ditinggalkan Allah SWT dan manusia lainnya, selama Anda bertanggung jawab terhadap pengetahuan yang Anda peroleh. Itulah yang Allah janjikan kepada hamba-hamaba-Nya. Jadi bergembiralah saudaraku!
Senin, 10 Agustus 2009
PERBEKALAN AKHIRAT
Saudaraku,...
Seorang muslim yang baik harus memilki pengetahuan yang baik pula mengenai perjalanan kehidupan. Islam mengenal perjalanan kehidupan tersebut dalam tiga bagian, yaitu, kehidupan dalam rahim, kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Dan diantara kehidupan di dunia dan di akhirat, terdapat kehidupan alam kubur, yang merupakan kehidupan penantian yang panjang. Karena itulah seorang muslim arus menyiapkan perbekalan sebaiknya untuk kebaikannya di alam kubur maupun kehidupannya di akhirat. Dan persiapan perbekalan itu dimulai sejak ia menjalani kehidupan di dunia ini. Ketika seseorang masih belum mampu berdiri sendiri, pencarian perbekalan dibantu oleh orangtua. Karenanya kemampuan seseorang dalam menyiapkan perbekalan akhirat akan dipengaruhi oleh kemampuan orang tua menyiapkan perbekalan akhirat untuk anaknya. Jika semakin baik perbekalan yang disiapkan orang tua, maka semakin baik pula perbekalan yang akan disiapkan oleh anaknya. Tetapi jika perbekalan yang disiapkan orang tua untuk anaknya buruk, maka perbekalan akhirat yang akan dibawa anaknya juga akan buruk. Apa yang ditunjukkan orang tua itulah yang kelak akan dibawa oleh anaknya. Itulah hebatnya seorang pemimpin. Baik buruk sebuah keluarga dan keturunan yang mengikutinya akan banyak dipengaruhi oleh perbuatan pemimpin keluarga tersebut. Kalau Anda memimpin sebuah keluarga dalam banyak kebaikan itulah sesungguhnya perbekalan terbaik yang akan dibawa di akhirat. Anak-anak Anda akan melihat itu sebagai sebuah kebaikan dan ini akan terus berlangsung pada keturunan yang selanjutnya. Bayangkan kalau orang tua mengajarkan sesuatu yang buruk kepada anaknya atau menunjukkan sesuatu yang buruk di depan anaknya, maka buahnya adalah keburukan itu akan menjadi perbekalannya kelak di akhirat. Pondasi dari seluruh kebaikan terletak pada kekuatan yang dibangun sejak manusia itu mengenal dunia. Kemudian diperkuat oleh pengetahuan dan keimanan yang datang kemudian, dan ini membutuhkan peran orang tua yang besar. Tidak dapat dipungkiri, bahwa hanya dalam keluarga yang baik sajalah kebaikan itu akan tumbuh menjadi kuat. Dan ini akan menjadi dasar persiapan perbekalan akhirat yang luar biasa. Hal yang juga menjadi sangat penting adalah kesadaran manusia itu sendiri mengenai kehidupan yang abadi di akhirat. Kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak berakhir setelah nyawanya tercerabut di bumi. Orang yang meninggal dunia harus menjalani masa penantian dan perhitungan yang lama. Sahabat Rasululah Saw Abu Bakar Shidiq ra, berkata, “Barangsiapa masuk kubur atau mati tanpa membawa bekal, maka seakan-akan menyeberangi lautan tanpa perahu (pasti tanggelam).” Manusia yang tidak memiliki perbekalan akhirat akan tenggelam ke dalam lautan kedukaan yang hebat dan tidak memiliki harapan bagi kesenangan akhirat yang dijanjikan Allah SWT. Tahukah Anda apa yang terjadi seoreang manusia tenggelam dalam lautan yangbegitu dalam? Ia akan mati tanpa mampu menikmati keindahan lautan yang ditampakkan Allah bagi manusia yang lainnya, baik yang ditampakkkan di permukaan maupun di dalam air. Berbeda kalau misalnya ia ketika menyeberangi lautan mengggunakan sebuah kapal atau setidaknya sebuah perahu yang kuat, maka ia pun akan mampu menikmati keindahan permukaan laut yang memukau. Dan jika ia memilki peralatan menyelam, maka ia pun dapat menikmati keindahan bawah laut yang jauh lebih indah daripada birunya air di permukaan laut. Inilah perbedaan yang jelas antara memiliki perbekalan yang baik dan tanpa perbekalan sama sekali. Perjalanan akhirat tentu lebih menyulitkan daripada menyeberangi lautan dan resiko-resiko yang terdapat di dalamnya juga lebih mengerikan daripada tenggelam di lautan. Kalau Anda tidak memperbaiki perbekalan tersebut, bagaimana pula Anda mampu menghadapi kesendirian alam kubur dan pertanggungjawaban Anda di hadapan Allah. Ketika seseorang meninggalkan dunia, ia harus menunggu untuk dibangkitkan hingga hari kiamat itu tiba. Selama itu pula ia akan mengalamin kesendirian yangs angat menyiksa. Tentu saja keadaan seperti ini hanya terjadi pada seseorang yang tidak mempersiapkan perbekalan akhirat sama sekali. Liang kubur yang sudah sempit akan menjadi semakin sempit, dan kesusahannya pun akan dimulai dari sini, bahkan sebelum ia mengalami perhitungan di akhirat. Jangan menngira bahwa setelah nyawa tercerabut dari jasad jasmani, tubuh dan pikirannya terbebas dari segala tekanan. Sama sekali tidak! Kehidupan alam kubur adalah ruang penantian sebelum manusia berkumpul untuk dimintai peranggungjawaban di akhirat. Itulah yang disebut kehidupan, di manapun dan bagaimanapun wujudnyan tidak akan terlepas dari tanggungjawab. Di dunia Anda bertanggung jawab terhadap perbuatan dan pekerjaan duniawi Anda. Di akhirat Anda mempertanggungjawabkan kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah SWT kepada manusia selama di dunia. Dan perbekalan itulah yang kelak akan menyelamatkan Anda dan memberikan Anda banyak kesenangan di akhirat. Saudaraku,... Persiapkanlah perbekalan akhirat Anda sebaik mungkin, selama nyawa Anda masih melekat di badan. Pergunakan waktu yang terus berkurang untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Ikutilah langkah para kekasih Allah menyiapkan perbekalan untuk kehidupan akhiratnya. Janganlah Anda dengan nafsu yang meluap-luap berburu kesenangan dunia hingga melupakan akhirat, tapi jangan pula mematikan gairah hidup Anda untuk kepentingan akhirat Anda. Kesenangan dunia pun akan dimintakan pertanggungjawaban kelak di akhirat. Jadi kalau kesenangan itu tidak digunakan dengan selayaknya, tentu Allah SWT akan menegur Anda. Itulah yang disebut perbekalan akhirat yang sesungguhnya.
Jumat, 31 Juli 2009
PUSAKA KEBAIKAN
Saudaraku,..
Setiap orang mungkin mampu melakukan perbuatan yang baik, tetapi tidak semua orang mampu menjaga perbuatan baik tersebut menjadi sebuah kebaikan yang besar. Sehingga setiap manusia dituntut untuk menjaga perbuatan baiknya agar tidak memiliki cacat yang akan mengurangi nilai kebaikan tersebut. Inilah yang kemudian disebut sebagai pusaka kebaikan. Pusaka kebaikan itu mampu meningkatkan nilai dari perbuatan baik yang kita lakukan. Pada akhirnya ketika perbuatan itu memiliki nilai tambah di hadapan Allah, maka perbuatan tersebut akan mengantarkan pelakunya dalam takaran iman yang lebih berkualitas.
Rasulullah Muhammad Saw menyebutkan tiga hal yang menjadi pusaka kebaikan. Yang pertama adalah merahasiakan keluhan. Orang yang mencintai Allah atau orang yang sedang melakukan perjalanan kepada Allah adalah orang yang mencintai ketentuan dan ketetapan Allah yang diberlakukan kepadanya. Orang-orang seperti ini tentunya sangat mencintai kehidupannya, walaupaun ia adalah seorang fakir miskin. Menjadi Hamba Allah tidaklah cukup kalau hanya berbuat kebaikan, tetapi Anda juga harus merahasiakan keluhan-keluhan Anda kepada manusia. Bukankah Anda masih memiliki Allah? Karena itu, maka mengeluhlah kepada Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang mengumbar keluhan-keluhannya kepada manusia layaknya manusia yang tidak memiliki kepercayaan yang baik kepada Tuhannya. Jika ia mengakui Allah sebagai Tuhan yang tunggal, tentunya ia tidak akan berlari kepada makhluk lain yang kekuatannya terbatas. Sesungguhnya apa yang dapat diberikan manusia pasti dapat diberikan Allah, tetapi manusia belum tentu mampu memberikan kebaikan sebagaimana yang telah diberikan Allah. Merahasiakan keluhan menjadi pusaka kebaikan karena ketika Anda melakukannya maka Anda berada dalam takaran iman yang luar biasa. Hanya kekuatan iman saja yang mampu menguatkan seseorang dalam kelaparan tanpa berteriak atau mengemis pada manusia. Hanya dengan kekuatan iman pula seseorang mampu bertahan dalam kepayahan tanpa mengharapkan pertolongan saudaranya. Keyakinannya bahwa Allah tidak akan membiarkan dirinya kepayahan telah membawanya pada titik di mana setiap kepayahan, kesukaran maupun kelaparan adalah bagian kecil dari rencana besar Allah SWT untuk membahagiakan dirinya. Saat itu seseorang akan mampu menerima keadaan apapun dari Tuhannya tanpa mengeluh. Allah adalah Dzat yang Maha Baik, maka kepastian dan ketentuan-Nya pun pasti baik untuk seluruh makhluk-Nya. Karena itulah, ketika Anda merasakan beban berat terhadap dunia ini, berlarilah kepada Allah. Disanalah setiap kebaikan dan keburukan akan berakhir. Allah pun bisa cemburu ketika hamba-Nya lebih suka menyampaikan kesedihannya pada hamba-Nya yang lain daripada kepada Dirinya yang kekal. Hal ini tidak terkecuali ketika Anda sedang melakukan kebaikan.
Merahasiakan keluhan ketika melakukan kebaikan adalah sebuah energi besar yang akan mampu mendorong laju kebaikan kepada sasaran-sasarannya. Dan tentunya Allah akan membuat kebaikan ini menjadi kebaikan yang sangat besar bagi Anda. Tetapi bayangkanlah kalau Anda melandasi kebaikan-kebaikan Anda dengan keluhan-keluhan kepada manusia. Maka bisa saja kebaikan Anda akan terhenti d tengah jalan dan tidak mengenai sasaran yang Anda kehendaki. Bisa saja orang lain akan berpikir Anda tidak serius dengan kebaikan-kebaikan Anda. Maka merahasiakan keluhan ketika Anda berbuat kebajikan adalah penting. Dan selayaknya menjadi perhatian pula bagi pelaku kebaikan.
Saudaraku,...
Pusaka kebaikan yang kedua adalah merahasiakan musibah. Orang-orang yang beriman biasanya lebih menyukai menyimpan duka dan musibah yang mereka alami. Sehingga dalam pandangan masyarakatnya mereka terlihat layaknya orang-orang yang selalu mendapatkan kesenangan dari Allah. Hal ini berbeda dengan manusia pada umumnya. Mereka apabila mengalami musibah biasanya lebih suka mengabarkan kepada orang lain tentang musibah tersebut, tentu saja dengan harapan mereka akan mendapatkan bantuan selekasnya. Orang-orang seperti ini bukanlah orang yang kuat menghadapi sedikit ujian dari Tuhannya. Kebiasaan untuk menunjukkan musibah kepada orang lain lambat laun akan menjadikan seseorang menjadi orang lemah dan memiki ketergantungan yang berlebihan kepada makhluk. Inilah yang sebenarnya tidak boleh melekat pada orang-orang yang beriman. Adanya musibah yang dialami manusia sebenarnya merupakan sarana agar manusia mendekatkan dirinya pada Sang Khalik, menyadari keterbatasannya sebagai makhluk dan kekuasaan Allah yang tidak terhingga. Hingga pada akhirnya seseorang akan menyadari musibah tersebut sebagai sebuah karunia yang luar biasa. Sesungguhnya ketika musibah tidak lagi dianggap sebagai musibah maka tidak perlu seseorang mengatakan dirinya terkena musibah. Karena pada titik tersebut musibah tidak tampak lagi sebagai sebuah musibah, melainkan terlihat layaknya sebuah nikmat yang luar biasa. Karena itu pula seseorang yang beriman selayaknya memandang sebuah musibah sebagai sebuah kesenangan dari Allah, karena kita tidak mengetahui apa yang dirahasiakan Allah SWT atas musibah tersebut. Saudara-saudara kita banyak yang memperoleh kekuatan luar biasa ketika mereka mampu meletakkan musibah tersebut menjadi rahasia dirinya dan Allah. Allah menjaganya dari segala sesuatu yang menyedihkan ketika orang lain berduka terhadap kehidupan yang menyesakkan mereka. Inilah penjagaan Allah yang tidak akan pernah dapat diberikan oleh makhluk-Nya.
Pusaka kebaikan yang ketiga adalah merahasiakan shadaqah (yang kita infakkan). Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Ketika Tuhan menciptakan bumi diciptakanlah gunung sebagai pasak, sambil terheran-heran para malaikat bertanya: ‘Ya Tuhan! Apakah ada dari makhluk-Mu yang lebih keras dari gunung?’ ‘Ada, yaitu besi.’ Jawab Tuhan. ‘Adakah yang lebih keras dari besi?’ ‘Api.’ , jawab Tuhan. ‘Adakah yang lebih keras dari api?’ ‘Air’, jawab Tuhan. ‘Adakah yang lebih keras dari air?’ ‘Angin’, jawab tuhan. ‘Adakah yang lebih keras dari angin? Dijawab oleh Allah, ‘yaitu anak Adam yang memberi shadaqah dengan tangan kanannya, tidak diketahui tangan kirinya.’ Lalu bagaimana merahasiakan shadaqah dapat memilki kekuatan yang luar biasa dan mengapa pula disebut sebagai pusaka kebaikan? Rahasianya terletak pada kedekatan seorang manusia dengan Tuhannya. Sesungguhnya manusia yang mampu mendekati Tuhannya dengan jarak yang sangat dekat akan menjaga shadaqah maupun ibadah yang lain dari pengaruh manusia. Baginya tidak ada yang lebih baik kecuali shadaqah itu hanya diketahui dirinya dan Allah SWT. Karena ketika perbuatan baik itu (shadaqah) diketahui oleh orang lain, maka bukan tidak mungkin hatinya akan terjangkit penyakit ujub terhadap shadaqah tersebut.
Karena alasan itu pula orang-orang Islam pada jaman dahulu (salaf) berusaha menyembunyikan shadaqahnya dari pandangan orang lain. Sehingga diantaranya lebih suka memberikan shadaqahnya kepada orang-orang buta agar tidak dikenalnya, dan ada yang mengikatkan sedekahnya pada baju yang dipakai si miskin di kala tidur atau ditaruhnya di jalan yang dilalui orang fakir. Orang yang beriman selalu khawatir terhadap perbuatan baik yang mereka lakukan, apakah akan diterima Allah sebagai sebuah kebaikan atau Allah akan melemparkan kebaikan itu ke wajah pelakunya karena terdapat setitik kesombongan yang berada di hatinya pelakunya. Memberikan shadaqah kepada orang lain harus dimulai dengan alasan yang baik, dikerjakan dengan motivasi yang baik, dan diakhiri dengan cara yang baik. Tidak jarang kita menemukan saudara kita yang memberikan shadaqah kepada fakir miskin dengan mengundang media elektronik maupun cetak. Lalu keesokan harinya berita mengenai shadaqah mereka tersebut dimuat di koran maupun ditayangkan di televisi dan tentu saja diketahui oleh banyak orang. Orang yang dekat kepada Allah pastinya tidak akan menyukai publikasi semacam ini. Karena cara seperti ini tidak akan mendekatkan dirinya kepada Allah, malainkan akan membuat pelakunya memiliki kecenderungan yang lebih besar kepada makhluk. Entah disadari atau tidak, perbuatan ini akan menjauhkan mereka dari Allah dan kebahagiaan abadi yang berada disamping-Nya. Saudaraku,... Demikianlah tiga pusaka kebaikan yang harus diketahui orang yang beriman. Berusahalah untuk menjadikan ketiganya sebagai bagian dari kebaikan-kebaikan Anda. Jagalah perbuatan baik Anda dengan tidak mengeluhkan kepayahan Anda kepada manusia. Peliharalah ibadah Anda dengan merahasiakan musibah atau kedukaan yang Anda alami. Dan pupuklah senantiasa kebaikan shadaqah Anda dengan merahasiakannya dari pendengaran dan pandangan saudara Anda yang lain. Dan lihatlah, Allah SWT akan memberikan kebahagiaan yang luar biasa kepada Anda. Ketika Anda mampu memenuhi keempat pusaka kebaikan ini, maka perhatikanlah bagaimana Allah akan memperlakukan Anda. Perhatikanlah, apakah Anda masih merasa kepayahan atau bersedih karena dunia tidak memberikan keadilan yang layak bagi Anda?
Apabila Anda menemukan diri Anda tidak terpengaruh oleh tekanan-tekanan dari arah manapun yang ditimbulkan oleh dunia, maka itulah penjagaan Allah SWT yang sebenarnya. Karena itulah, jangan pernah membiarkan diri Anda meninggalkan ketiga pusaka kebaikan ini sepanjang hidup Anda.
Langganan:
Postingan (Atom)