Selasa, 26 April 2011

Menjadi Bahagia Dengan Ketaatan


Saudaraku,…
Setiap manusia di dunia ini mendambakan kebahagiaan dan melakukan pengejaran mati-matian untuk mencapainya. Bahkan ada yang menggadaikan Tuhan dan agamanya untuk pencarian kebahagiaan tersebut. Tetapi yang aneh adalah ketika objek kebahagiaan telah mereka genggam, toh tetap saja mereka tidak bahagia. Lihatlah saudara-saudara  kita yang berupaya sekuat tenaga menjadi kaya raya. Ketika mereka diperkenankan Allah mejadi kaya raya, sedikit sekali dari mereka yang mampu merasakan kebahagiaan. Pada saat itu mereka bahkan tidak dapat menikmati kekayaannya karena kesibukan pekerjaan yang luar biasa. Yang lainnya ada yang menghabiskan hartanya untuk biaya pengobatan keluarganya yang menderita penyakit.

JIka kita memperhatikan kenyataan seperti ini, selayaknya  kita bertanya kepada diri kita sendiri, kebahagiaan seperti apakah yang kita inginkan. Apakah kebahagiaan itu adaalah sebuah rumah yang megah, mobil keluaran terbaru, atau keluarga yang menyenangkan. Atau bahkan sebuah pekerjaan dengan gaji yang sangat tinggi. Andalah yang menentukan kebahagiaan seperti apakah yang Anda inginkan. Tetapi saudaraku, kebahagia-kebahagaian seperti disebutkan di atas hanyalah kebahaiaan dunia semata yang tidak akan melekat kuat kepada pribadi-pribadi yang beriman.

Sesungguhnya kebahagiaan bagi seorang muslim akan dialami ketika ia mampu bersujud kepada Allah SWT dan melakukan ketaatan lainnya dengan ikhlas dan khusyuk. Shalat adalah waktu bagi seorang muslim untuk mendekati Allah dengan jarak yang sangat dekat. Inilah pertemuan yang membuat seorang muslim memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebagai seorang muslim ia tidak perlu khawatir dengan mengkhawarirkan kebahagiaannya, selama ia mampu menjaga ketaatannya kepada Allah SWT dan rasul-Nya Muhammad Saw. Hanya Allah SWT yang memiliki kebahagiaan yang sejati. Selama seorang manusia tidak mengabaikan Tuhannya, maka Allah SWT pun tidak akan mengabaikan ataupun menelantarkan kehidupannya.

Allah SWT akan membuat kehidupannya senantiasa bahagia dengan harta yang dimilikinya, betapun itu sedikit. Sungguh sangat banyak saudara kita yang mampu memperoleh kebahagiaan dengan harta yang sedikit. Dan agaknya kenyataan ini memberi pengertian kepada kita semua bahkan kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah terletak pada jumlah harta tau kmewahan duniawi lainnya. Karena itulah, selayaknya seorang muslim janganlah tertipu oleh kemegahan dunia yang sementara. Dan jika pun hendak mengejar kemegahan duniawi, janganlah mengabaikan kepentingan Allah di belakang urusan duniawi kita.

Saudaraku…
Berbahagialah dengan ketaatan-ketaatan kepada Allah SWT dan kekasih-Nya Muhammad Saw.

Rabu, 20 April 2011

Meluruskan Niat Amal Kebaikan

Saudaraku,…
Sebuah amal kebaikan atau amal keburukan diawali oleh sebuah niat. Karena itulah sebuah niat mempunyai peranan penting yang menunjukkan arah kehidupan seseorang, menjadi seorang munafik, seorang mukmin atau seorang kafir. Jika sebuah keburukan diawali oleh sebuah niat yang bagaimanapun baiknya, akan tetap dikenal sebagai sebuah keburukan. Tidak pernah ada kebaikan di dalam pencurian, perampokan, perzinahan atau perbuatan-perbuatan buruk lainnya.

Demikian pula dengan sebuah kebaikan. Kualitas sebuah amal kebaikan ditentukan dengan niat yang melatarbelakanginya. Terdapat banyak motif dalam setiap amal kebaikan. Ada yang benar-benar hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Ada yang mengharapkan sanjungan dan pujian dari orang-orang terkasih. Ada pula yang bertujuan mencitrakan diri sebagai pribadi yang baik. Apapun motif dari amal kebaikan yang Anda kerjakan, Anda sendirilah yang kelak akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT.

Bagi Allah SWT, niat terbaik dalam setiap amal kebaikan adalah mengharapkan ridha-Nya; tidak ada yang lain. Jika seseorang mempunya motif lainnya, seperti segala urusan duniawi yang fana, sungguh ia telah mengalami kerugian yang besar. Semua amal kebaikan yang dilakukan dengan kelelahan fisik dan harta yang dimiliki, sama sekali tidak dapat memberi manfaat apapun jika semuanya hanya dilambari niat memperoleh kesenangan duniawi semata.

Saudaraku,..
Berimanlah kepada Allah dengan niat-niat yang berada di hati. Berimanlah kepada Allah dengan perkataan-perkataan kita. Berimanlah kepada Allah dengan perbuatan-perbuatan kita. Janji Allah adalah benar. Jika Anda berniat yang benar, berkata yang benar dan berbuat yang benar, maka Allah SWT akan memberikan balasan yang sangat menyenangkan kepada Anda.

Sabtu, 16 April 2011

Mengesakan Allah


Saudaraku…
Mengesakan Allah SWT adalah hal mutlak yang harus dipenuhi setiap muslim. Mengesakan bukanlah sekedar berucap kalimat tauhid, tetapi jauh lebih besar daripada itu. Mengesakan Allah adalah menyerahkan segala urusan kehidupan Anda hanya kepada Allah. Sekali lagi hanya kepada Allah.

Sudah selayaknya seorang muslim selalu mengoreksi tauhid yang melekat di hatinya. Ketika seorang muslim untuk kali pertama bertauhid kepada Allah SWT melalui lidahnya, semestinya kalimat tauhid yang diucapkannya terus dibawa ke tingkatan yang lebih baik. Yaitu bertauhid dengan semua anggota tubuh. Pada tingkat itulah seseorang baru dikatakan mengesakan Allah. Ia meletakkan kepentingan SWT jauh di atas kepentingan kehidupan dunianya.

Secara kuantitas jumlah umat Islam semakin lama kian bertambah banyak dan mengambil peranan penting dalam pertumbuhan dunia. Tetapi sejalan dengan pertumbuhan tersebut, serangan-serangan terhadap perisai tauhid yang dibangun seorang muslim semakin bertambah gencar. Ia dikepung oleh teknologi peradaban dan toleransi pergaulan dunia, sehingga tanpa disadari ia mampu melalaikan Allah untuk sebuah kepentingan sesaat saja. Lihatlah ketika seorang muslim masih mengutamakan sahabat, kekasih, atau urusan pekerjaan daripada bersujud kepada Allah yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Lihatlah pula ketika seorang muslim yang asyik di depan internet, sementara ia telah melewatkan shalat fardhu yang harus ia kerjakan.

Jika pada masa kenabian banyak manusia menyekutukan Allah dengan menyembah Tuhan-Tuhan baru yang mereka ciptakan sendiri. Tetapi pada jaman ini, cita-cita yang melambung dan teknologi mutakhir merupakan Tuhan-Tuhan baru yang membuat manusia memalingkan wajahnya dari Allah SWT. Kalaupun diantara saudara kita ada yang mampu menjaga keimanannya kepada Allah, ia tetap akan bersentuhan  dengan semua itu. Karena itulah, seorang musli harus mengoreksi keimanannya setiap saat, menilai imannya denga hati dan pikiran yang jernih. Hal ini akan mengembalikan iman pada posisi yang benar, ketika ia sejenak berpaling kepada selain Allah.

Dalam sebuah riwayat diceritakan suatu ketika Nabi Musa as berbicara dengan Tuhan. Nabi Musa as berkata, "Oh Tuhan, ajarilah kami sesuatu yang dapat kami gunakan untuk berzikir dan berdoa kepada Engkau." Tuhan menjawab,  "Ucapkan Laa Ilaaha Illallaah,  hai Musa!" Musa as berkata kembali,  "Oh Tuhan, semua hamba-Mu telah mengucapkan kalimat itu." Tuhan pun menjawab, "Hai Musa, andaikan langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya selain Aku, dan bumi yang tujuh ditimbang dengan Laa Ilaaha Illallaah, niscaya masih berat Laa Ilaaha Illallaah."

Saudaraku,…
Hal paling penting yang perlu kita ketahui adalah kalimat tauhid bukanlah pernyataan lisan mengesakan Allah. Tetapi jauh lebih hebat daripada itu. Kalimat tauhid adalah sebuah sikap penyerahan total kepada Allah terhadap kehidupan dan cita-cita yang kita miliki. Penyerahan inilah yang akan meniadakan ketakutan
Dan kekhawatiran manusia terhadap kpayahan hidup. Allah adalah Penguasa segala bentuk kenikmatan dan kebahagiaan. Kalau seseorang sudah menyerahkan hidupnya kepada Allah SWT, semestinya ia tidak perlu khawatir lagi dengan kehidupannya. Sesungguhnya kalimat tauhid yang benar timbangannya jauh lebih berat daripada dunia dengan segala isinya.

Seruan Allah untuk mengesakan-Nya selayaknya disambut dengan spirit yang benar. Meletakkan pribadi kita dalam ketaatan dan kepatuhan yang senantiasa terpelihara. Semoga Allah selalu menjaga kalimat tauhid yang kita ikrarkan hingga pertemuan dengan Allah telah tiba waktunya.

Senin, 04 April 2011

Amalkanlah Ilmumu

Saudaraku,..
Rasulullah Muhammad Saw pernah bersabda, ” Tanda-tanda kebencian Allah terhadap seseorang ialah bila ia menyia-nyiakan waktu deengan melakukan hal -hal yan tiada guna. Umur seseorang akan berlalu, tetapi bila ia tidak menggunakannya untuk melakukan ibadah yang dperintahkan Allah, maka pantas ia menyesal sepanjang masa. Barangsiapa yang telah berumur lebih dari empatpuluh tahun sedangkan amal baiknya belum mampu mengalahkan amal buruknya, maka bersiap-siaplah dia masuk neraka.”

Nasehat Rasulullah tersebut mudah dikerjakan tetapi sulit menerimanya. Nasehat itu akan terasa sangat pahit bagi orang yang mengikuti dorongan nafsunya. Ia lebih cenderung lebih suka pada hal-hal yang dilarang agama, apalagi bagi kaum muda yang menyia-nyiakan waktu untuk mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Mereka menyangka tanpa tindakan nyata ilmu pengetahuan akan mampu membawanya pada kebahagiaan dan keselamatan. Dan inilah yang keliru, saudaraku! Sebuah pengetahuan hanyalah sebuah pengetahuan kalau hanya didiamkan layaknya batu mulia yang dismpan di dalam perut bumi ini. Ini hanya terlihat memiliki kilauan yang luar biasa, ketika ia dimanfaatkan dalam banyak kegunaan untuk manusia.

Maha Suci Allah!

Allah menitipkan sebuah pengetahuan kepada manusia bukan untuk didiamkan saja, tetapi wajib dikerjakan. Dan jika sang pemilik enggan mengerjakannya, sungguh ini akan memperberat siksa yang akan ditimpakan kepadanya kelak. Inilah yang kabarkan oleh Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Seberat-berat siksa pada hari kiamat nanti adalah orang pandai yang tidak bisa memberi manfaat dengan ilmunya.”

Saudaraku,…
Janganlah Anda hidup dalam keadaan miskin amal dan kehilangan semangat kerja. Tanamkamlah dari Anda, bahwa pengetahuan tanpa disertai amal perbuatan tidak akan memberikan manfaat apapun, apalagi kebahagiaan. Perumpamaannya seperti seorang lelaki yang memasuki hutan membawa sepuluh pedang yang tajam. Tiba-tiba datang seekor singa yang besar menerkamnya. Dan jika kesepuluh pedang tidak dicabut untuk melakukan perlawanan terhadap singa, tentunya kesepuluh pedang tersebut benar-benar tidak memberikan manfaat bagi pelakunya.

Demikian juga halnya dengan seseorang yang membaca buku tentang seribu masalah dan mempelajarinya secara mendalam. Tetapi jika pengetahuan tersebut tidak pernah diterapkan, maka pengetahuan itu tidak berguna untuknya.

Yang paling utama bukanlah seberapa banyak pengetahuan yang kita miliki, tepat, seberapa banyak perbuatan yang kita lakukan berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Bahkan ada yang berpendapat bahwa seseorang yang bodoh dengan pengetahuan yang terbatas tetapi mampu menerapkan pengetahuan tersebut jauh lebih daripada seorang cerdik pandai yang tidak memperoleh manfaat dari kecerdasannya.

Karena itulah jika seseorang hendak bertemu Allah dalam keadaan yang baik, maka perbanyaklah berbuat kebaikan, tidak cukup kalau ia hanya sekedar mengetahui cara melakukan kebaikan. Allah SWT hanya memandang kepada hambanya yang BERBUAT, bukan mengetahui. Seorang muslim itu berbeda dengan seorang yang kafir maupun orang-orang munafik. Keduanya sama-sama mengetahui kebenaran dan berucapa tentang kebenaran, tetapi tidak pernah berbuat benar kepada Tuhannya.

Iman adalah pernyataan lisan, mengakui kebenarannya dengan hati, dan mengamalkannya dengan seluruh anggota badan. Dalam beberapa keterangan banyak disebutkan tentang kewajiban seseorang untuk beramal. Seseorang mungkin dapat mencapai surga dengan limpahan karunia dan kemurahan Allah. Tepapi keistimewaan ini hanya dapat diperoleh jika ia mempersiapkan diri dengan ketaatan beribadah kepada Allah. Dan rahmat Allah hanya melekat kepada orang-orang yang BERBUAT kebaikan, bukan MENGETAHUI kebaikan.

Hasan Al-Bashri menjelaskan bahwa kelak pada hari kiamat, Allah SWT berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, masuklah ke surga dengan rahmat anugerah-Ku. Dan bagilah surga sesuai dengan amalmu masing-masing.”

Saudaraku,…
Ingatlah, selama Anda tidak beramal, maka selama itu pula Anda tidak akan memperoleh pahala. Maka berbuatlah kebaikan dengan pengetahuan yang Anda miliki lalu lihatlah bahwa janji Allah adalah benar!

Selasa, 22 Maret 2011

Diam Itu Emas


Saudaraku,…
Sebuah perkataan yang sia-sia dapat menjerumuskan kita ke dalam keburukan yang menistakan. Ucapan dan perkataan memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Sejarah dunia mengungkapkan kata-kata bersemangat pemimpin dunia mampu membangun sebuah revolusi yang merubah dunia.  Bangsa ini memiliki beberapa tokoh yang mampu mendayagunakan perkataan bermanfaat untuk menggedor perjuangan mencapai kemerdekaan. Kata-kata Bung Toha dan Bung Karno pada waktu perjuangan kemerdekaan adalah kata-kata bermanfaat yang membangun spirit melawan penindasan terhadap Negara kita. Di dalam sejarah Islam pun tidak sedikit tokoh-tokoh perjuanga Islam yang mampu membangun spirit menegakkan bendera Islam di manapun mereka menjejakkan kakinya.

Tapi bagaimanakah jika kata-kata tidak lebih hanyalah buih-buih gelombang di lautan? Atau bahkan lebih buruk, kata-kata hanyalah kesia-siaan penggunaan waktu oleh manusia. Untuk yang satu ini, maka yang paling baik adalah diam. Dalam beberapa hal diam jauh lebih baik daripada berkata-kata.

Kelemahan manusia umumnya terletak pada ketidakmampuan untuk mengendalikan lidahnya dalam kebaikan. Dusta selalu terlahir dari perbincangan sia-sia diantara para manusia. Pada awalnya seseorang mungkin berbicara tentang kebaikan, tapi lidah sungguh tak bertulang. Entah dengan alas an dan tujuan apa, ia kemudian mempergunjingkan keburukan orang lain atau kebohongan-kebohongan lain yang tidak terpikirkan sebelumnya. Karena itulah orang-orang yang beriman dihimbau Rasulullah Muhammad Saw untuk diam saja apabila mulut tidak mampu berucap kebaikan.

Dalam sebuah kisah diceritakan mengenai seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak,

"Minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!."

Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.

Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, "Mungkin ia tidak sengaja." Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, "Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi."

Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, "Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!" dengan nada sedikit emosi. "Pokoknya saya tetap minta ganti," lanjutnya.

Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, "Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?" Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya."

Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.

Saudaraku,…
Dalam beberapa keadaan diam dapat menyelamatkan hidup Anda. Dim itu meletakkan semua kemauan terhadap nafsu manusia dalam posisi serendah-rendahnya. Sehingga manusia mampu mengendalikan diri dalam kewaspadaan yang terjaga. Kebaikan diam inilah menjadikannya sebagai karakter seorang muslim yang baik. Semoga kita diberikan kebaikan diam oleh Allah SWT. Tidak ada Dzat yang mampu menolong kita dalam banyak keadaan, kecuali Allah SWT yang Maha Kuasa.



Kamis, 10 Maret 2011

Kematian Amru bin Ash


Saudaraku,..
Dalam sebuah riwayat diceritakan, Amru bin Ash ketika akan wafat ia menangis tersedu-sedu, lalu ia memalingkan mukaanya ke dinding, sedang putranya memanggil, "Oh, ayah, bukankah Rasulullah saw. telah memberi kabar gembira padamu akan mendapaatkan ini dan itu (pahala yang besar)?" Lalu ia memandang anaknya dan berkata, "Sebaik-baik yang kami sediakan adalah kalimat syahadat Laa ilaaha illa Allah wa anna Muhammadar Rasulullah, sungguh saya telah mengalami tiga tingkatan dalam hidup ini."
Pertama, saya benci kepada Rasulullah dan tidak ada keinginanku pada waktu itu melainkan mendapat kesempatan untuk membunuh beliau, dan andaikata waktu itu saya mati, niscaya saya jadi ahli neraka.

Kedua, Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, lalu saya datang kepada Rasulullah seraya berkata, "Ulurkan tanganmu, saya akan berbai'at kepadamu." Ketika beliau mengulurkan tangannya, maka aku menarik lagi tanganku. Lalu Nabi bertanya, "Mengapakah engkau hai Amru?" Saya menjawab, "Saya minta suatu syarat." Beliau bertanya, "Syarat apakah itu?" Saya berkata, "Semua dosa saya diampunkan." Lalu Nabi menjawab, "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Islam itu menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu juga menghapuskan dosa-dosa sebelumnya."

Pada tingkatan ketiga ini tidak ada seorang pun yang saya muliakan dan saya kasihi lebih dari Nabi Muhammad saw., hingga saya tidak berani mengangkat mata di hadapannya karena hebatnya. Maka, sekiranya seseorang bertanya kepadaku sifat Nabi saw., saya tidak akan sangggup menerangkannya, sebab saya tidak pernah berani memandang beliau sepenuhnya. Sekiranya saya mati ketika itu, niscaya saya mengharapkan surga.

Saudaraku,..
Betapa sungguh luar biasa kehidupan para sahabat Rasululah Muhammad Saw. Mereka mencintai Muhammad saw dengan cinta yang bersih, tanpa  ternoda oleh banyaknya kepentingan hidup. Sangat berbeda dengan apa yang tersembunyi di hati kita. Banyak diantara kita yang mencintai Rasulullah karena harapan-harapan duniawi yang menggantung di hati. Kapankah kita semua mampu membersihkan diri mencintai Allah dan utusan-Nya dengan kejernihan iman yang berkilau?

Allah Maha Mengetahui


Saudaraku,…
Setiap muslim tentunya sudah mengenal Allah SWT dan kekuasaan-Nya yang tidak memiliki batas. Apa yang tidak dapat dijangkau manusia atau makhuk-Nya yang lain, dapat diwujudkan oleh Allah di luar kemampuan pikiran kita. Salah satu kekuasaan-Nya adalah kemampuan-Nya mengetahui apa yang tidak dapat diketahui oleh manusia dan mendengar apa yang tidak dapat didengar oleh makhluk-Nya. Kemampuan Allah di luar kemampuan manusia. Karena itu maka selayaknyalah seorang muslim beriman kepada Allah dengan kualitas yang terbaik.

Pengetahuan Allah mampu menjangkau kehidupan kita. Ia mampu mengetahui setiap gejolak dalam hati dan pikiran yang belum tersampaikan melalui kata-kata. Allah mengetahui setiap perkataan sis-sia maupun perkataan bermanfat yang keluar melalui lidah kita, betapun rendah suara yang kita keluarkan. Allah mengetahui setiap kebaikan dan keburukan yang dilakukan anggota tubuh kita walaupun tersembunyi dalam lubang yang paling sempit. Dan seharusnya pengetahuan mengenai kekuasaan Allah ini mampu mengikat kehidupan kita dalam iman yang kuat kepada-Nya.

Dan jika Anda hanya dapat melakukan kebaikan melalui hati Anda, jangan Anda khawatir Allah tidak menerima kebaikan Anda. Keadilan-Nya mampu mendengar kebaikan yang diucapkan dengan hati yang ikhlas. Anda akan memperoleh keadilan yang dijanjikan Allah karena kebaikan Anda.

Dalam sebuah riwayat diceritakan pada suatu hari Rasulullah mendapat berita yang mengagetkan tentang salah seorang sahabatnya. "Ia sedang mengalami sakaratul maut. Sudah kami talkin agar menyebut nama Allah, tetapi lidahnya bagai terkunci," demikian tutur si pembawa kabar.

Rasulullah bergegas menuju ke rumah sahabatnya itu. Sebab, ia seorang mukmin yang beriman, pejuang yang ikhlas, dan dermawan yang tekun beribadah. Ia harus diselamatkan.

"Sahabatku, katakanlah la ilaha illallah," ujar Nabi. Tetapi, orang itu hanya membisu saja.
Katakanlah illallah," desak Nabi. Masih juga orang itu memandang kosong.

"Katakanlah Allah," Nabi berbisik kembali. Orang itu tetap bengong. Lalu, menghembuskan napas penghabisan.

Para sahabat menjerit kecil. Mereka sangat sedih menyaksikan rekan setia itu mengakhiri hidup di dunianya tanpa mampu melafalkan kalimat tauhid. Namun, anehnya Nabi malah tersenyum ceria dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja para sahabat keheranan. Di antara mereka, ada yang tidak tahan untuk segera melontarkan pertanyaan.
"Wahai kekasih Allah, alangkah menyakitkan sikapmu. Kami semua cemas memikirkan nasib malang yang menimpa rekan kami itu di akhirat kelak, mengapa engkau justru kelihatan gembira?"

Nabi, masih bersinar-sinar menjawab. "Tidakkah kalian lihat menjelang ajalnya, ia menatap ke atas sekilas? Ia menghadap Allah dengan isyarat mata. Ia tidak mampu bertobat dengan lidahnya. Tetapi, ia memohon ampun dengan hatinya. Aku senang sekali, karena Allah berfirman kepadaku bahwa kedatangannya diterima dalam rida-Nya."

Saudaraku,…
Allah adalah Dzat yang memilki kekuasaan dan keadilan yang luar biasa. Jika anda beriman kepada Allah, maka yakinlah dengan sepenuhnya terhadap keadilan Allah tanpa keraguan sedikitpun. Inilah sikap seorang muslim yang semestinya.