Kamis, 02 Februari 2012

PENCURI YANG BERTAKWA


Saudaraku,..
Dalam sebuah riwayat diceritakan terdapat seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syekh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syekh menasihati dia dan teman-temannya: "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang yang alim yang menadahkan tangannya kepada orang lain atau orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

Maka pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya: "Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?" Sambil bergetar ibunya menjawab, "Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?" Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun, akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel si ibu berkata, "Ayahmu dulu seorang pencuri."

Pemuda itu berkata, "Guruku memerintahkan kami--murid-muridnya--untuk bekerja seperti pekerjaan ayah kami masing-masing dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

Ibunya menyela, "Hai! apakah dalam pekerjaan mencuri ada ketakwaan?" Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab dengan tenang, "Ya, begitu kata guruku."

Lalu dia pergi bertanya pada orang-orang dan belajar bagaimana seorang pencuri melakukan aksinya. Sekarang ia telah mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian salat Isya' dan menunggu sampai orang-orang tidur. Kemudian dia mulai keluar rumah untuk menjalankan provesi ayahnya dengan penuh ketakwaan, seperti perintah gurunya. Dia mulai dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah itu dia ingat pesan gurunya agar selalu bertakwa. Akhirnya rumah tetangga itu ditinggalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya, "Ini rumah anak yatim, dan Allah melarang kita makan harta anak yatim."

Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. "Haa, di sini," gumamnya. Pemuda itu segera memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang telah dipersiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak, dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata, "Eh, jangan! Guruku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu."

Dia lalu mengambil buku-buk catatan yang ada di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan punya pengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, ternyata fajar telah menyingsing. Dia bicara sendiri, "Ingat takwa kepada Allah! Kau harus salat subuh dulu!" Kemudian dia keluar menuju ruang tengah, lalu berwudu di bak air untuk selanjutnya melaksanakan salat sunnah. Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat juga kotak hartanya dalam keadaan terbuka serta ada orang yang sedang melakukan salat. Istrinya bertanya, "Apa ini?" Dijawab oleh suaminya, "Demi Allah, aku juga tidak tahu." Lalu dia menghampiri si pencuri itu, "Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?" Si pencuri berkata, "Salat dulu baru bicara. Ayo pergilah wuduk lalu salat berjamaah. Tuan rumahlah yang berhak menjadi imam."

Karena khawatir pencuri itu membawa senjata, si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi--wallahu a'lam-- bagaimana dia bisa salat dengan khusyu'. Selesai salat dia bertanya, "Sekarang coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?" Dia menjawab, "Saya ini pencuri." "Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?" tanya tuan rumah lagi. Si pencuri menjawab, "Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak." Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan. Lalu ia berkata, "Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau ini sudah gila?"

Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal sampai akhir. Setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, serta mengerti akan manfaat dan kewajiban zakat, dia pergi menemui istrinya. Mereka berdua mempunyai seorang anak gadis. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, lalu berkata, "Bagaimana sekiranya kalau kau kunikahkan dengan putriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini." Ia menjawab, "Aku setuju." Di pagi harinya tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah putrinya dengan si pemuda itu.

Saudaraku,…
Pelajaran baik yang dapat kita petik dari cerita singkat ini adalah jadilah orang yan paling bertakwa dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Jika Anda beriman kepada Allah maka bertakwalah. Ini adalah penawaran terbaik yang diberikan Allah SWT kepada kita semua. Jika Anda sepakat dengan pilihan Allah ini, maka apapun beban dan kesulitan yang kelak akan Anda hadapi sungguh tidak akan memberatkan hidup Anda. Allah yang kelak akan menolong Anda. Keberpihakan manusia kepada Allah akan menjamin pula keberpihakan pertolongan Allah kepada dirinya. Karena itulah sungguh tidak ada alasan lagi seorang muslim menanggalkan pakaian iman dan takwa dalam aktifitas duniawinya. Semoga kita semua tergolong orang-orang yang beriman dan bertakwa dalam pandangan-Nya.

Kamis, 26 Januari 2012

NASIHAT IBRAHIM BIN ADHAM

Saudaraku,…
Dalam sebuah riwayat diceritakan pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi'ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya.

Ia berkata, "Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!"

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, "Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa."

Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, "Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?"

"Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah," ucap Ibrahim.

Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, "Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?"

"Benar," jawab Ibrahim dengan tegas. "Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?"

"Baiklah," jawab Jahdar tampak menyerah. "Kemudian apa syarat yang kedua?"
"Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya," kata Ibrahim lebih tegas lagi.

Syarat kedua membuat Jahdar lebih kaget lagi. "Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?"

"Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?" tanya Ibrahim.

"Kau benar Aba Ishak," ucap Jahdar kemudian. "Lalu apa syarat ketiga?" tanya Jahdar dengan penasaran.

"Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempar bersembunyi dari-Nya."

Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. "Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?"

"Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?" tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi'ah tidak berkutik dan membenarkannya.

"Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?"

"Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh."

Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, "Tidak mungkin... tidak mungkin semua itu aku lakukan."

"Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?"

Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu.

"Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!"

Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, "Cukup?cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah."

Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu'.

Saudaraku,…
Nasihat Ibrahim bin Adham sebagaimana disebutkan di atas berlaku pula bagi kita semua. Jika Anda seorang pendosa yang tidak ketulungan banyaknya dosa yang pernah Anda kerjakan, janganlah Anda bersedih hati. Allah akan menerima Anda jika Anda sungguh-sungguh hendak memilih jalan yang lurus. Dan sekali-kali janganlah Anda bermain dengan taubat Anda. Allah SWT Maha Tahu apa yang Anda kerjakan dan akan membalas dengan adil apapun yang anda kerjakan. Ingatlah sauadarku, sesungguhnya Allah itu Dzat Yang Maha Adil terhadap setiap perbuatan hamba-hamba-Nya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapat kebaikan yang tidak ada habis-habisnya dari Allah SWT.



Kamis, 19 Januari 2012

MENYELESAIKAN UJIAN ALLAH

Berhati-hatilah menghadapi godaan-godaan menyenangkan dalam mengarungi perjalanan kehidupan ini. Ini adalah ujian bagi manusia. Ini adalah batas perubahan kehidupan yang akan anda alami. Kemiskinan, kekayaan, kesulitan atau kemudahan adalah bagioan kecil dari godaan-godaan dan ujian-ujian Allah yang harus kita selesaikan dengan hasil yang baik. Sekali lagi, ujian HARUS DISELESAIKAN!

Jika Anda mampu mempertahankan kadar keimanan Anda tanpa terkikis oleh godaan tersebut, Anda akan memperoleh kehormatan dan pertolongan dari Allah SWT. Jika Anda diuji Allah dengan kemiskinan, maka Anda akan diangkat dari kemiskinan dan memiliki kekayaan yang banyak seperti yang Anda bayangkan atau yang belum pernah Anda bayangkan. Jika Anda diuji Allah dengan kekayaan, maka Allah akan melipatgandakan kekayaan Anda berlipat-lipat kali banyaknya. Jika Anda diuji Allah dengan kesulitan, maka Allah akan memberikan Anda banyak kemudahan dan setiap urusan kehidupan Anda. Dan jika Anda diuji Allah dengan kemudahan, maka Allah akan memberikan kemudahan kepada Anda lebih banyak dan lebih banyak lagi. Jika Anda mampu menyelesaikan ujian Allah sesuai dengan kehendak Allah, maka Anda akan mencapai derakat yang lebih tinggi dalam pamdangan Allah SWT dan manusia.

Hal sebaliknya akan terjadi jika Anda gagal menyelesaikan ujian-ujian tersebut. Jika Anda diuji dengan kemiskinan, maka Allah akan membuat Anda tetap berkutat dengan kemiskinan, bahkan kemiskinan itulah yang akan membuat hidup Anda makin kepayahan. Jika Anda diuji Allah dengan kekayaan, maka Allah akan membuat kekayaan tersebut menjauh dari kehidupan Anda. Jika Anda diuji dengan kesulitan, maka Allah tidak akan melpaskan dari lingkaran kesulitan. Jika Anda diuji Allah dengan kemudahan, maka Allah pun akan menhilangkan kemudahan tersebut dalam kehidupan anda. Kesemuanya dapat terjadi dalam kehidupan Anda, jika Anda tidak mampu menjaga Islam dan iman dalam keadaan yang baik ketika Anda sedang diuji oleh Allah. Bersyukurlah kepada Allah SWT dalam setiap keadaan yang Anda hadapi. Bersyukurlah kepada Allah dengan sebaik-baiknya ketika Anda menghadapi ujian dari-Nya.

Saudaraku,…
Selesaikanlah ujian-ujian dari Allah yang diberikan kepada Anda tanpa merusak iman dan Islam. Bersyukurlah, bersyukurlah, bersyukurlah, dan teruslah bersyukur terhadap apapun yang ditetapkan Allah bagi Anda. Jika Anda mampu lulus dari godaan-godaan dunia dan ujian-ujian dari Allah SWT, sungguh Anda akan menerima banyak kebaikan dari sisi-Nya.  
 
 
TRI AGUNG SETYAWAN


Kamis, 12 Januari 2012

INDAHNYA BERJILBAB


Saudaraku,…
Sesungguhnya merupakan kegembiraan yang luar biasa melihat saudari-saudari kita mengenakan jilbab. Lihatlah betapa luar biasa mereka semua. Ketika semua orang mengabaikan seruan untuk berjilbab hanya karena kepentingan duniawi, mereka mengikat hatinya kepada Allah dengan mengenakan jilbab.

Dunia ini benar-benar tidak pernah ramah dengan orang-orang baik yang mencintai Allah. Banyak saudari-saudari kita yang berjilbab dikucilkan dalam pergaulan, ditekan oleh banyaknya regulasi yang dikeluarkan oleh Negara, atau membatasi ruang-ruang aktivitasnya. Tapi toh Allah SWT itu benar-benar Dzat Yang Maha Kuasa. Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini, bahkan di seluruh alam semesta ini yang mampu merubah kehendak-Nya. Jika Allah menghendaki kemudahan kepada wanita-wanita yang berjilbab, maka tidak akan ada yang mampu menyulitkannya. Allah SWT akan memberikan jalan keluar yang menyenangkan bagi setiap kesulitan yang dihadapi wanita-wanita berjilbab yang berpijak pada jalan yang lurus.

Jika Anda seorang wanita yang belum mengenakan jilbab hanya karena khawatir dengan peluang pekerjaan yang semakin menyempit, maka yakinkanlah diri Anda sekali lagi kepada kekuasaan Allah SWT yang tidak terhingga. Jika Anda benar-benar beriman kepada Allah, Anda tidak akan pernah takut kehilangan pekerjaan atau berkurang pendapatan Anda. Karena jika Allah sudah meridhai pilihan Anda untuk mengenakan jilbab, sungguh Allah tidak akan sungkan lagi memberikan kemudahan-kemudahan kepada Anda, nahkan yang belum pernah Anda pikirkan. Bukankah Allah lebih berkuasa daripada seluruh makhluk-Nya?

Wanita-wanita yang mengenakan jilbab sesungguhnya dalam kegembiraan yang besar. Jilbab telah mencitrakan dirinya sebagai pribadi yang anggun. Karakter yang luar biasa tersebut memancar keluar dan mempengaruhi cara pandand lingkungan terhadap dirinya. Para wanita yang berjilbab mampu tampil sebagai pribadi yan anggun dan mampu menjaga kehormatan dirinya sebagai ibu manusia.

Lalu bagaimana dengan wanita yang berjilbab karena tuntutan sebuah pekerjaan atau sekedar menjadikan jilbab sebagai trend fashion yang temporer. Jangan buru-buru menghujat, saudaraku. Sungguh kita semua ini tidak pernah tahu rencana apa yang dikehendaki Allah SWT terhadap mereka. Apapun alasan mereka mengenakan jilbab, semua itu adalah kebaikan. Biarkanlah akhir perjalanan tersebut ditentukan oleh kehendak-Nya. Tidak sedikit pula wanita-wanita yang konsisten mengenakan jilbab berawal dari niat coba-coba atau sekedar mengikuti trend fashion. Bukankah jika Allah menghendaki mereka merubah niat mereka mengenakan jilbab hanya karena cinta kepada Allah, tidak sesuatu yang sulit. Kehendak dan ketetapan Allah itulah yang kelak akan terjadi, saudaraku!

Saudaraku,…
Sungguh membahagiakan banyak saudari muslimah kita mengenakan jilbab dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya kita melihat para penghuni surga turun ke dunia memberikan kita banyak senyuman dan kebahagiaan. Semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan-Nya kepada wanita-wanita yang berjilbab dengan cinta yang meluap-luap kepada Allah SWT Yang Maha Mulia.