Jumat, 21 Maret 2014

SHALATLAH TEPAT WAKTU


Ajak dan doakan keluarga, saudara, teman, atasan, bawahan dan semua agar senantiasa menjaga shalat tepat waktu

Nasehat Luqman buat anaknya:
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Luqmaan : 17)

Do'a Nabi Ibrahim 'alaihisholaatu wassalam buat anak keturunannya: 
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat). (Ibraahiim : 40-41)

Shalat merupakan salah satu pengundang datangnya rezeki dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Thaahaa : 132)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl : 97)

Sebelum jauh-jauh mencari solusi, perbaiki saja dulu shalatnya! Jadikanlah shalat sebagai media untuk memohon hadirnya pertolongan Allah
Minta tolonglah (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mendirikan shalat . Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.'( Al-Baqarah : 45)

Dari Hudzaifah rodhiyallahu 'anhu, beliau berkata :
Apabila Rasulullah mengalami kesulitan, maka beliau segera melaksanakan shalat. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Sabtu, 08 Maret 2014

JANGAN PERNAH TINGGALKAN SHOLAT...!


Pada suatu senja yang lengang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan uluk salam.

Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.

"Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa as terkejut. "Saya takut mengatakannya." jawab wanita cantik.

"Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya ......telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun......lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya....... cekik lehernya sampai......tewas", ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik "Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi !..." teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik. Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya.

Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobatdari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat .

Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. "Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?"

"Ada!" jawab Jibril dengan tegas.
"Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran.

"Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina" Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sholat itu tidak
wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.

Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang
yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

Peringatan untuk seluruh umat yang sering kali melakukan perjalanan, misalnya apabila kita pulang dari kantor sudah menjelang aktu Maghrib, tapi seringkali kita merasa malas untuk menunggu, dan saat dalam perjalanan pulang adzan maghrib berkumandang kita masih didalam kendaraan, sampai dirumah sudah hampir waktu Isya. Apabila di jalan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan dan kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dalam keadaan meninggalkan sholat Maghrib, Naudzubillah. Hal ini juga menjadi perhatian buat kaum Wanita.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut ...

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita
semua," desah hati semua sahabat kalaitu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya didunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

" Bolehkah saya masuk ? " tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut.

Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.

"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.

"Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan
saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?"

Dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Kirimkan kepada temen-temen muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.



Tulisan ini dikutip dari sumber yang tidak dikenal















Jumat, 21 Februari 2014

HUTANG DHUHA

Kita punya hutang sama Allah? Hutang apaan? Hutang shalat dhuha 2 rakaat. Saban hari tuh hutang.

Ini adalah istilah saya saja. Silahkan Saudara semua nanti berpikir. Jika ada benarnya, ya ikutin. Jika tidak benar, ga usah diikutin.

Sekarang kita lihat nih 2 hadits berikut ini:

Abu Dzar meriwayatkan Rasulullah shollawloohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap pagi hendaknya seluruh persendian kalian bersedekah. Setiap tasbih itu sedekah, tahmid adalah sedekah, tahlil juga sedekah. Takbir merupakan sedekah, menyuruh orang berbuat baik sedekah, melarang orang berbuat buruk sedekah. Dan semua itu cukup dengan dua rakaat shalat dhuha.” (Hadits Shahih diriwayatkan Imam Muslim).

Buraidah pernah mendengar Rasulullah shollawloohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Manusia mempunyai 360 persendian. Hendaklah setiap persendian bersedekah dengan satu sedekah. Para sahabat bertanya, “Siapa yang sanggup melakukan itu ya Rasulallah? Rasulullah shollawloohu ‘alaihi wasallam bersabda menjawab, “Bersedekahlah walau sekedar membersihkan ludah dari masjid dan membuang duri dari jalan. Jika tidak mampu, maka cukup melaksanakan dua rakaat shalat dhuha.” (hadits Shahih riwayat Ahmad).

Coba bulak balik baca itu dua hadits yang saya kutip.

Manusia menempati sebidang tanah dan yang dibangun di atasnya rumah, dengan uangnya sendiri, dengan keringatnya sendiri. Tapi masya Allah, negara mengutip pajak atasnya. Pajak bumi dan bangunan.

Jika sebidang tanah dan rumah itu saja kita harus bayar ke manusia, bagaimana lagi kepada Allah yang telah menganugerahkan bumi dan langitnya untuk kita?

Manusia makan dan minum, baik di restoran secara langsung, maupun makan dan minum yang dibeli di pasar. Semua ada pajaknya. Semua bayar. Bayar ke negara. Dan kita pun tanpa bayar ke negara, ya bayar juga ke mereka yang menjualnya.  Nah, nah, nah, aslinya semua makanan dan minuman, milik siapa? Siapa yang menyediakan bahan bakunya? Siapa yang memberikan fasilitas tangan dan kaki, otak untuk berpikir, waktu untuk bekerja, kesehatan untuk beraktifitas, dan lain-lain karunia hingga manusia bisa makan minum, bercocok tanam, dan berniaga? Semuanya adalah dari Allah. Lalu bayar engga selama ini?

Seorang manusia gagal nafas. Dibawalah ke rumah sakit dan diberikan nafas buatan. Diberikan oksigen. Ternyata tidak sedikit rumah sakit yang tidak mau melakukan tindakan medis tanpa ada yang bertanggung jawab. Hatta itu secarik kertas dari pemerintah, atau KTP dari yang mengantarnya. Setelah dilakukan tindakan medis, ada bayarannya yang harus dibayar pasien atau keluarga pasien.

Sedangkan Allah memberikan oksigen? Free. Masya Allah. Bukan hanya oksigennya, tapi juga sistem alamnya yang bekerja secara ajaib yang merupakan tanda-tanda Kebesaran dan Kekuasaan Allah.

Sepasang mata yang diberikan oleh manusia, rusak. Baik karena umur, atau karena penyakit misalnya. Lalu ia bawa ke rumah sakit. Diberikanlah tindakan medis terhadap mata tersebut. Lah, bayar. Sedang sama Allah yang ngasih mata yang dibetulin? Kaga bayar.

Maen ke pantai yang sudah dikelola oleh swasta maupun pemerintah, bayar. Sedang dari rumah menuju pantai itu, dengan segala Izin-Nya, tidak bayar. Sedangkan untuk jalanan yang dilalui oleh manusia dan disebut “tol”, bayar. Bayarnya ga cukup sekali. Saban sambungan itu tol, bayar. Lah, setiap sambungan ruas sendinya manusia? Kaga bayar.

Engga bakalan cukup lembaran demi lembaran untuk mengingat, merekam, dan menulis ni’mat Allah. “… Laa tuhshuuhaa…, engga akan bisa kalian menghitungnya.” (Qs. Ibroohiim: 34).

 Lalu kita melihatlah tadi di awal dua hadits dari Rasulullah. Ternyata… Hanya karena Kebaikan Allah lah kita ini ga dikutip bayaran. Karena Kemurahan Allah lah kita ga dikutip bayaran. Karena Allah tahu kita ga sanggup bayar juga lah Allah ga mengutip bayaran. Dan memang Allah tidak butuh bayaran manusia. Tapi Allah pun “menuntut” manusia untuk berterima kasih kepada-Nya. Saya kasih tanda kutip, sebab emang tuntutan ini pun demi kepentingan manusia.  Allah benar-benar ga perlu terima kasihnya manusia. “… Dan jika kalian semua dan juga semua yang di bumi lupa sama Allah, kufur sama Allah, menolak Allah, tidak berterima kasih kepada Allah, membangkang terhadap Allah, maka ketahuilah Allah itu Maha Kaya Lagi Maha Terpuji.” (Qs. Ibroohiim: 8).

Bahasa bahwa Allah menuntut manusia, hanya menandakan kita ini benar-benar kudu berterima kasih. (Ah, tau dah. Makin saya pikiran bahasa buat Saudara semua, makin kayaknya kudu dijelaskan. Padahal kalimat begini, ga kudu dijelaskan kiranya. Udah jadi kepahaman umum).
Murah bener Allah menetapkan “bayaran” atas manusia. Cukup dengan shalat dhuha 2 rakaat, udah cukup buat kita ini “membayar” semua kewajiban sedekah. Padahal tadinya dituntut untuk sedekah mulai dari bangun tidur, sampe tidur lagi, sampe bangun tidur lagi. Masya Allah, yang dua rakaat ini pun menjadi perkara yang dilalaikan, dianggap enteng, dianggap angin lalu, dianggap ga penting. Dan akhirnya memang ga meluangkan waktu, ga mentingin, ga merluin.

Coba ya kita ajak diri kita, dan keluarga kita untuk shalat dhuha. Berterima kasih kepada Allah atas segala karunia-Nya. Seribu kali  yang mengajak kerja adalah ayah kita sendiri, saudara kita sendiri, sahabat kita sendiri, yang dengannya lalu kita bisa mencari nafkah yang halal, namun kiranya mata kita harus bisa memandang bahwa Allah lah yang sejatinya memberi pekerjaan buat kita, menyediakan pekerjaan buat kita, membuat kita mampu bekerja, mengizinkan kita bekerja, dan mengizinkan pula hasil pekerjaan itu bisa kita pakai dan ni’mati. Karenanya kita memang “wajib” membayar-Nya, sesuai dengan apa yang disuruh-Nya. Enteng. Ga berat. Cukup dengan shalat dhuha 2 rakaat dah. Tentunya satu, dengan tetap memperhatikan dan mengerjakan shalat-shalat yang wajibnya. Dua, semakin banyak bilangan rakaat dhuha yang dikerjakan, akan semakin baik lagi persembahan kita untuk Allah.

***

Seorang sahabat yang memiliki sebuah toko di Cipulir, datang mengadu. Habis sudah hartanya. Bahkan jika hartanya habis pun, ia tidak punya cukup sisa untuk membayar hutangnya. Ia menyebutnya, bukan saja jatuh bangkrut, tapi juga minus.

Ketika datang mengadu, selain  diajak bersyukur bahwa ia masih diberi kesempatan hidup, dan sehat. Pun dimotivasi soal ibadah, semangat hidup, pantang menyerah, dan yakin bisa bayar semua hutangnya dan balik jaya.

Di antara obrolan, diajak juga kemudian bicara soal dosa besar. Dosa-dosa yang dilakukan oleh anak manusia, menghalangi rizkinya. Semakin besar dosanya dan semakin banyak, akan semakin besar penghalangnya dan semakin banyak juga penghalang rizkinya.

“Alhamdulillah Ustadz, dosa-dosa besar tidak ada yang saya lakukan…”, begitu katanya.

Ya saya percaya.

“Soal shalat pegimana?”

“Alhamdulillah, soal shalat yang wajib, saya ga pernah tinggal…”.

Iseng saya bertanya. “Kalo yang sunnah…?”

“Ah itu. Kalo soal yang sunnah, emang saya ga sempet…”

“Ga sempet, apa ga nyempetin…? Ga nyempetin kali…?”

Dia tertawa kecil, “Iya.”

“Dhuha itu hutang. 2 rakaat hutangnya setiap hari. Namanya juga hutang. Ada tagihan yang harian, mingguan, tahunan, atau ada yang udah jatuh temponya. Mungkin Saudara sudah jatoh tempo. Ditagihnya sebenernya udah dari setahun terakhir ini kali. Addaaaa aja jalan-jalan bagi Allah mengambil apa yang menjadi hak-Nya, dan atau sekedar mengurangi rizki kita. Nah, tagihan itu akhirnya emang harus ditutup dengan penyitaan. Kan, meski kelihatannya yang mengambil adalah manusia; Saudara ditipu, Saudara dibohongi, ada giro yang bolong sehingga bolong juga ke orang lain, ada yang kabur, ada yang lain-lain, sesungguhnya semua itu terjadi atas izin dan kehendak-Nya juga.”

Makanya, jangan tunggu ditagih itu bayaran atas semua ruas sendi badan kita, dan jangan tunggu sampe diambil bayaran oleh-Nya atas semua karunia yang diberikan-Nya; mata, telinga, apa yang di badan, dan segala kesempatan usaha dan lain sebagainya. Jangan sampe ditagih. Pahit. Bayar aja. cicil-cicil dua rakaat saban hari. Syukur-syukur ya itu tadi, bisa ngasih lebih sama Allah. Jangan pas-pasan tagihannya.

***

Satu kali saya pernah mendengar ada yang bayar cicilannya ke satu BMT. Oleh pengurus BMT, setiap yang datang ke BMT nya, untuk bayar cicilannya, dan mau langsung datang ke BMT tersebut, diberikan jajanan pasar. Sebagai bonus. Macem-macem bentuknya. Ada pisang goreng, ubi goreng, teh manisnya, dan lain sebagainya. Sederhana, tapi efektif membuat nasabah datang. Digelar juga pengajian harian yang bisa diikuti nasabah BMT tersebut.
Saya melihat Allah jauh lebih baik dan lebih murah lagi Karunia-Nya. Sesiapa yang mau “membayar-Nya” dua rakaat, maka Allah memberi bonus lebih kepada ini orang. Entah itu tambahan rizki, kesehatan tambahan, atau penjagaan dari penyakit dan bala. Dan yang sudah pasti, tambahan pahala. Ga dia dianggep impas. Kan mestinya mah ga usah lagi ditambahin, iya kan? Wong itu kan memang hutang tertagih. Tapi ini engga. Masiiiiiiih saja ditambahin sama Allah. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Baik.


Jumat, 14 Februari 2014

BERPEDOMAN PADA AL QUR’AN DAN AS SUNNAH

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu. Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka.
 
Aku tinggalkan 2 perkara, yang jika berpegang pada keduanya, ummatku tidak akan sesat selama-lamanya: Al Qur’an dan As Sunnah.(Rasulullah Muhammad).
 
Agak lama dulu saya memahami hadits tersebut di atas. Apa iya kalo seseorang memegang Kitabullah dan as Sunnah tidak akan susah hidupnya? Tidak akan menderita? Akan hidup bahagia? Akan hidup senang?

Ah masa… Begitu saya berpikir. Waktu demi waktu bergulir. Masa demi masa berjalan. Subhaanallaah… Ternyata benar. Bukan saja di perkara benar dan salahnya saja yang kita pegang al Qur’an dan as Sunnah sebagai pegangan. Bukan saja di urusan halal dan haram yang kita megang al Qur’an dan as Sunnah sebagai pedoman. Bukan saja arah hidup ke kanan dan ke kiri yang kalau kita megang al Qur’an dan as Sunnah kita jadi tidak tersesat. Bukan itu saja. Ternyata secara sederhana bila kita memegang al Qur’an dan as Sunnah, ga usah banyak. 1-2 saja. Subhaanallaah, bener-bener akan melesat.

Contoh. Di dalam al Qur’an ada ayat tentang bangun malam. bahkan ini ayat tidak 1 ayat. Lebih dari 1 ayat. Tapi kemudian seseorang “megang”. Dalam artian, dia mengamalkan ayat bangun malam ini. Dia shalat malam secara istiqamah setiap malam. Saya tidak menyangsikan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kekayaan, akan Allah berikan.

Bayangkan tuh. Hanya 1 ayat saja. Yakni ayat tentang bangun malam.

Ada ayat tentang sedekah. Pegang satu dah. Amalkan. Amalkan secara istiqamah, terus menerus, dan ikhlas karena Allah, bukan karena manusia, dan riya. Maka subhaanallaah, ayat ini akan mengangkat pelakunya.

Demikian juga hadits. Hadits itu bertebaran. Memandu kita mulai dari bangun tidur, sampe tidur lagi. Melliputi seluruh kebiasaan Rasul dan apa saja yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Saya pun tidak menyangsikan bahwa jika seseorang hidup dengan berpedoman pada al Qur’an dan as Sunnah, sungguh benar-benarlah dia tidak akan tersesat, tidak akan merugi, tidak akan kacau. Bahkan sebaliknya, bakalan senang dunia akhirat, bahagia lahir batin.
Namun satu hal hebat yang saya kagumi adalah, ada seseorang yang megang ga banyak nih hadits. Hanya 1 saja. Tapi ia jadikan hadits ini sebagai amalan sehari-hari sebagai sunnah Rasul yang ia jalankan, masya Allah, hidupnya terang banget.

Ada yang memegang benar keharusan taat sama orang tua. Birrul walidain. Wuih, sama orang tua, top banget dah. Ia jalankan perintah Allah lewat Rasul-Nya, yang juga ada di al Qur’an selain di as Sunnah. Berbakti sama orang tua. Hidupnya terangkat benar. Ada saja selalu kemudahan dari Allah.

Ada yang memegang sedekah sebagai tolak bala. Nyatanya memang demikian.

Ada yang memegang silaturahim sebagai pembuka rizki. Nyatanya pun memang demikian.

Ada yang memegang shalat dhuha sebagai pakaian di pagi harinya. Masya Allah benar-benar keangkat hidupnya.
Dan lain sebagainya.

Apa yang saya katakan di sini adalah begitu hebatnya al Qur’an dan as Sunnah. Hingga ia meski dijalankan “hanya” 1-2 ayat dan 1-2 hadits saja, kehidupan seseorang sudah akan terangkat.

Tentu saja jangan Saudara bayangkan bahwa kalimat ini jeplak hitam putih hanya 1-2 saja dan ayat serta hadits lainnya tidak terjalani atau tidak dijalani. Tentu saja tidak. Contoh, seseorang yang birrul walidainnya bagus, tentulah menuntut pula persyaratan semua yang wajib-wajib juga terpenuhi; Shalat lima waktu, puasa di bulan suci Ramadhan, zakat dan haji jika mampu.

Akhirnya saya menyadari, bahwa sungguh Maha Benar Allah dan Rasul-Nya. Jika kita mau megang al Qur’an dan as Sunnah, maka hidup kita akan bahagia. Sebagai kewajaran hidup seorang anak manusia, maka wajar sajalah jika ada masalah dalam hidupnya. Namun sebagaimana pegangan anak tangga di tangga yang licin, maka pegangan anak tangga akan menyelamatkannya. Seseorang yang kehidupannya jauh dari al Qur’an dan as Sunnah, juga jauh dari isinya, maka dipastikan kegersangan hidup, kekeringan jiwa, kekacauan berpikir, akan menghantuinya.

Pengen jajal? Coba saja ga usah shalat. Dalam waktu yang lama, ia akan menemukan kegelisahan yang berkepanjangan. Bagaimana dengan yang kafir, yang sama sekali ga shalat? Wuah, itu saya serahkan sama Saudara jawabannya, he he he. Untuk yang ini, let’s discuss ya. Bagaimana dengan yang tidak pernah mengeluarkan sedekah dan zakat? Sungguh akan berpengaruh hebat sekali dalam kehidupannya. Rusak persendian-persendian  hidupnya. Waktunya puasa ga puasa, al Qur’an jarang dibaca, untuk jangka waktu yang panjang, sungguh hati dan pikirannya akan diliputi kekeringan.

Kiranya, tidak ada ruginya hidup dengan al Qur’an. Dan tidak ada ruginya hidup dengan as Sunnah. Apalagi kita-kita ini adalah manusia yang pengen sekali ditolong Allah, dibahagiakan Allah, disenangkan Allah, dijaga Allah. Ya seyogyanya pula turutin omongan orang yang paling disayang Allah, dan yang paling benar kalam-Nya: Berpedomanlah pada al Qur’an dan as Sunnah.

Insya Allah Saudara akan terbantukan dengan serakan materi-materi lain selain di Kanal Ihyaa-us Sunnah ini. Ada Kanal al Qur’an, dan lain sebagainya, yang insya Allah akan saling menyempurnakan materi di setiap kanalnya.

Waba’du, sebagai penutup kajian ini, saya meminta kepada Saudara-Saudara semua meluangkan waktu untuk mendekatkan diri dan keluarga kepada al Qur’an dan as Sunnah. Setiap hari tidak ada hari yang dilewati kecuali membaca al Qur’an dan as Sunnah, meski 1 ayat dan 1 hadits. Baca, pelajari, dan amalkan pelan-pelan. Belilah al Qur’an terjemahan. Belilah buku-buku hadits terjemahan, jika tidak bisa baca kitab hadits aslinya. Hafalkan 1 hari 1 ayat, dan hafalkan 1 hari 1 hadits. Boleh dicoba dari ayat-ayat yang pendek-pendek, dan hadits-hadits yang populer-populer. Al Qur’an dan as Sunnah adalah bukan bacaan biasa. Keduanya adalah bacaan yang mulia.

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamin. Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka. Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu.