Minggu, 18 Agustus 2013

MENGGAPAI IMPIAN RUMAH TANGGA SAKINAH DENGAN PASANGAN SHALIH


Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Alhamdulilaahi rabbil ‘aalamiin. Washalaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin. Nabiyyinaa Muhammadin shallaallahu ‘alaihi wasallama. Wa ‘alaa aalihi wa azwaajihii wa dzurriyyatihii wa ash-haabihii wa ummatihii ilaa yamuddiin. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ammaa ba’du.

Saudaraku…
Memang sah-sah saja kita memiliki idealisme, termasuk idealisme tentang kriteria pasangan. Sayangnya, kebanyakan kita menyangka bahwa sebuah idealisme dapat turun begitu saja dari langit dan menjelma di hadapan kita. Padahal dengan demikian idealisme kita itu akhirnya malah menjadi angan-angan belaka.Idealisme tentang apapun tidak akan terwujud menjadi kenyataan jika tidak diperjuangkan.

Perhatikanlah firman Allah SWT dalam Surat An-Nisaa’ ayat 123: “Pahala dari Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan ahli kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu dan dia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain Allah.”

Rumah tangga bahagia yang menjadi syurga bagi penghuninya adalah idaman setiap orang. Tetapi ia akan sekadar menjadi angan-angan bila tidak ada upaya dan perjuangan dari kedua belah pihak -suami-istri- untuk mewujudkannya. Begitu pula halnya dengan keinginan memiliki dan menjadi pasangan ideal yang diidamkan. Ia pun hanya menjadi angan-angan selama kita tidak berusaha memprosesnya menjadi kenyataan. Oleh sebab itulah pernikahan sebenarnya merupakan ladang amal dan jihad bagi orang-orang yang menjalaninya.

Tidak ada manusia yang ma’shum (terjaga dari salah dan dosa) kecuali Rasulullah SAW. Semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada manusia yang pada dirinya hanya terdapat kelebihan saja, sebagaimana juga tidak ada manusia yang di dalam dirinya hanya ada kekurangan. Karena itu membayangkan pasangan kita adalah sesosok manusia tanpa cela hanya karena ia ikhwan atau berjilbab, menurut saya adalah pandangan kurang bijak.

Seorang ikhwan atau perempuan berjilbab adalah manusia biasa. Komitmen dan ketaatan mereka dalam beragama adalah suatu bentuk kesungguhan mereka dalam memproses diri menjadi Hamba Allah yang bertaqwa. Dan merupakan hal yang sangat manusiawi jika dalam menjalani proses tersebut terdapat kekurangan-kekurangan. Karenanya menjadi aktifis pengajian atau perempuan berjilbab itu bukanlah berarti mereka berubah menjadi malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak pula berarti mereka menjelma menjadi manusia tanpa cela.

Ingatlah selalu bahwa kita menikahi pasangan kita dengan segala apa yang ada pada dirinya berupa kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya untuk disyukuri, kekurangannya menjadi ladang jihad kita untuk memperbaikinya karena Allah. Dengan begitu kita tidak akan mudah kecewa terhadap segala kekurangan yang terdapat pada pasangan kita. Semuanya butuh proses, dan tahapan ketika didalam Syariat Islam tentunya ada standar memilih pasangan shalih demi kebaikan menjalani sunnah Rosulullah SAW seperti berjilbab kemudian komitmentnya, begitupun sebaliknya dengan pihak pria, keduanya harus cinta kepada tegaknya nilai-nilai Iman dan Islam dalam keluarganya karena nikah itu ibadah besar. Bila terdapat Kekurangan yang ada tentulah bisa diperbaiki karena pada hikikatnya kekurangan lebih afdhol diperjuangkan bersama, saling bahu membahu dijalan-Nya. Wallaahu a'lam.

Alhamdulilaahi rabbil ‘aalamiin. Washalaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin. Nabiyyinaa Muhammadin shallaallahu ‘alaihi wasallama. Wa ‘alaa aalihi wa azwaajihii wa dzurriyyatihii wa ash-haabihii wa ummatihii ilaa yamuddiin. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Selasa, 30 Juli 2013

KEWAJIBAN ANAK TERHADAP ORANG TUA




Assalaamu’alaikum warah matullaahi wabarakaatuh.
Alhamdulilaahi rabbil ‘aalamiin. Washalaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin. Nabiyyinaa Muhammadin shallaallahu ‘alaihi wasallama. Wa ‘alaa aalihi wa azwaajihii wa dzurriyyatihii wa ash-haabihii wa ummatihii ilaa yamuddiin. Bismillaahir rahmaanirrahiim. Ammaa ba’du.

Saudaraku…
Ada tiga kewajiban anak terhadap orang tua setelah wafatnya; bayarkan hutangnya jika ada, jalin hubungan dengan sahabat dan keluarganya, dan mendoakannya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa jarang ada anak yang ‘tahan lama’ berbakti kepada orang tuanya setelah orang tuanya wafat. Kata seorang kawan, paling banter cuma sampai 40 hari setelah kematian anak-anak akan ingat orang tuanya. Setelah itu, lepas, seperti tidak pernah ada orang tua dalam kehidupannya.

Sementara kawan yang lain lagi berkata, diziarahi pun paling satu dua tahun saja setelah kematian. Setelah itu, jangankan ditengok kuburannya, dikirimkan Fatihah (dibacakan doa) pun tidak.

Anak yang bakti, tak berbatas pada umur orang tua. Setelah lepas pun seharusnya tetap berkhidmat. Kata Rasul, khidmatnya anak kepada orang tua yang sudah meninggal itu ada tiga, bayarkan hutangnya jika ada, jalin hubungan dengan sahabat dan keluarga orang tua, dan mendoakannya. Dan ini adalah bakti yang harusnya tidak berhenti hanya pada hitungan 7 hari, 40 hari, seratus hari, satu dan dua tahun saja. Selamanya, sepanjang sisa hidup kita.

Meskipun semua berasal dari Tuhan, kita sama tahu, tanpa adanya orang tua, kita tidak akan lahir ke dunia ini. Sebab orang tualah kita menjadi ada. Masa kemudian kita melupakannya? Apalagi bila kita mengingat perihnya mereka, deritanya mereka, ketika kita masih dalam kandungan, ketika kita masih kecil, dan seterusnya.

Patut diperhatikan juga ungkapan berikut ini, sebagaimana perlakuan kita terhadap orang tua kita, begitu jugalah kelak kita akan diperlakukan oleh anak kita kelak. Coba-coba saja durhaka kepada orang tua, maka kita akan didurhakai anak kita kelak. Mau?

Sebagaimana perlakuan kita kepada orang tua, begitu juga kelak kita akan diperlakukan.

Alhamdulilaahi rabbil ‘aalamiin. Washalaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin. Nabiyyinaa Muhammadin shallaallahu ‘alaihi wasallama. Wa ‘alaa aalihi wa azwaajihii wa dzurriyyatihii wa ash-haabihii wa ummatihii ilaa yamuddiin. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Selasa, 23 Juli 2013

JIKA ANDA MEMILIKI HAJAT

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Alhamdulilaahi rabbil ‘aalamiin. Washalaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin. Nabiyyinaa Muhammadin shallaallahu ‘alaihi wasallama. Wa ‘alaa aalihi wa azwaajihii wa dzurriyyatihii wa ash-haabihii wa ummatihii ilaa yamuddiin. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ammaa ba’du.

Saudaraku…
Jika punya masalah, hajat, sungguh-sungguhlah menuju Allah. Jika kita berjalan menuju Allah, Allah berlari menuju kita. Jika kita berlari, Allah lompat. Dan barangsiapa yang sungguh-sungguh menuju Allah, Allah akan beri petunjuk dan kemudahan-Nya. Dalam keadaan gak ada masalah dan hajat, kita udah harus sungguh-sungguh ibadah. Apalagi kalau punya. Sebab siapa lagi yang bisa nolong kecuali Allah.

Nah, coba deh jajal riyadhah 40 hari. Riyadhah itu, latihan mengerjakan ibadah sebaiknya, jangan putus selama 40 hari: shubuh, zuhur, ashar, maghrib, isya, berjamaaah, di masjid, lengkap dengan qobliyah ba’diyahnya, dan sunnat tahiyyatul masjidnya. Dhuha 8 rokaat, dan witir 3 rokaat sabagai penutup jelang tidur. Tahajjud, witir tambahan, 70 istighfar, baca qur’an 1-2 halaman jelang shubuh. Tiap-tiap habis shalat zikir ba’da sholat warisan Rasul, yang suka dibaca di masjid-masjid, jangan ditinggal. Terus ditambah tiap-tiap habis shalat baca 100 sholawat. Buka rumah buat rumah tahfidz. Walo 1-2 anak, dan gak nginep, tampung anak2 itu untuk belajar Al-Qur’an. Ajarin aja sendiri sebisa-bisanya. Misalnya hanya belajar baca artinya. Mengkhatamkan bareng anak-anak sekitar, berikut artinya, ini pun udah termasuknya belajar dan mengajarkan Al qur’an.

Nah, di setiap habis melakukan amal saleh tersebut di atas, berdoa dah. InsyaAllah tembus segala hajat. Tar Allah bimbing harus gimana, kemana, dan seperti apa. Selama kosong dari waktu ke waktu, isi dengan zikir-zikir sebisanya. Berdoa sama Allah supaya kuat. Puasanya pilih puasa Daud aja. Kalo 40 hari pertama ga tembus, terusin lagi. Sampe Allah turunin pertolongan dan keajaiban-Nya. Dan nikmati betul proses ibadah ini dengan segala kesukaran, keberatan, keletihan. Makin putus asa, makin hajar tuh ibdah. Makin males, makin hajar aja. Makin berat, hajar aja. Makin banyak godaan, hajar aja. Misal, ngantuk sangat, malah ikut badan di kursi kayu. Begitu terantuk, lansung lompat jalan wudhu dan mandi. Misal lagi, begitu hujan, terhalang ke masjid, malah ambil payung besar, dan bergembira bahwa yg lain gagal ke msjid, situ jalan ke msjid.

Ok, saya doakan. Sekalian ngebenahin ibadah juga. Segala permintaan dunia, kecil. Justru yg besar, adalah apa yg dikerjakan ini. InsyaAllah segala hajat dan masalah, di genggamannya Allah.

Alhamdulilaahi rabbil ‘aalamiin. Washalaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin. Nabiyyinaa Muhammadin shallaallahu ‘alaihi wasallama. Wa ‘alaa aalihi wa azwaajihii wa dzurriyyatihii wa ash-haabihii wa ummatihii ilaa yamuddiin. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.


Tulisan ini dikutip dari : Yusuf Mansur Network
Editing by : http://souldiaryofislam.blogspot.com